Part 12

2524 Words
"Kenapa kau tiba-tiba minta skype malam-malam. Belum cukup memangnya kita tatap muka di kantor?" Mister Chandra baru saja selesai mandi. Rambut masih basah dan turun menutupi keningnya. Wajahnya jadi terlihat seperti anak kuliahan. Setidaknya dia sudah pakai piyama tidur. Laptopnya menyala dengan tampilan wajah Endymion tersambung aplikasi Skype. Dia terlihat santai dengan kaos oblong putih. Rambutnya sudah acak-acakan seperti baru bangun tidur. Padahal niatnya mau tidur. "Woi, kau tidak mendengarku? Kenapa minta skype jam sebelas malam?" [Oh itu aku mau tanya sesuatu yang penting.] "Ya tanya apa?" [Kamu habis bj tadi siang?] "Bj?" [Iyaaa, bj] Nadanya sing a song. Kemudian menyedot minumannya hingga membuat bunyi slurp yang sangat keras di speaker. Mister Chandra loading beberapa saat hingga tiba-tiba sesuatu klik dalam pikirannya. "ASTAGA, SIAPA YANG MENGATAKAN ITU?! AKU TIDAK MELAKUKAN ITU! TUNGGU TIDAK PERLU KAU JAWAB." Mister Chandra segera mengambil handphone dan memencet tombol panggilan. Dia menunggu dengan kaki menghentak. [Halo..] "FAHMI. BESOK PAGI KE RUANGAN KU!" Dia langsung menutupnya lagi setelah berteriak sekeras-kerasnya. Orang di ujung sana bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Mister Chandra benar-benar marah. Endymion tidak bisa menahan diri lagi. Tawanya meledak hingga mukanya merah sampai ke telinga. Dia bahkan memegangi perutnya dan menepuk-nepuk meja. [Ya ampun. Hahaha, aku tidak tahan. Haha. Ini sebabnya... Aku ingin lihat reaksimu.] Mister Chandra berdecak kesal. Dia ingin segera menekan tombol keluar di layar. [Tunggu-tunggu. Jangan di matikan dulu. Kita serius, kita serius sekarang.] ujarnya cepat sambil terbatuk-batuk menahan tawa. [Oke, sekarang aku serius. Ini tentang proyek kita di Jepang. Aku dapat email hari ini kalau pihak di sana minta kita penuhi izin paling lambat akhir bulan ini. Kalau tidak bisa, mereka akan cabut seluruh berkas kita dan paksa kita untuk mundur. Sepertinya sudah ada perusahaan lain yang mau masuk dan punya backing lebih kuat jadi mereka kasih tenggat waktu lebih pendek dari sebelumnya.] "Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu. Kita yang lebih dulu di sana!" [Well, dengan wilayah strategis dan pemandangan sebagus itu, siapapun akan berusaha keras mendapatkannya. Aku sore sempat bicara sekilas dengan Fahmi. Dia tadinya ada kandidat perusahaan Jepang yang kerjasama sama fasilitas pesawat jet pribadi kita. Tapi orang ini gak ada kabar sudah berapa hari, padahal sosial medianya aktif.] Endymion mengelus dagunya. [Mungkin salah juga karena Fahmi sempat keceplosan bilang nama saingan kita buat dapat tempat itu. Jadi ya... ga ada kabar.] Mister Chandra mengetuk-ngetuk meja dengan jari. Dia sedang memikirkan sesuatu. "Aku ada teman main golf. Orang Jepang. Tapi aku gak tahu pasti soalnya perusahaan dia bukan bidang yang berhubungan sama kita. Dia ngajak aku main golf akhir pekan ini. Mungkin aku akan coba konsultasi dengannya." Endymion mengangguk. [Kita harus coba segala kemungkinan. Aku juga masih berusaha cari alternatif lain. Kalau sampai tenggat waktu gak bisa juga, kita diskusikan lagi. Email-nya sudah aku CC ke kamu. Takutnya kamu gak baca.] "Oke, nanti aku cek lagi." [Nanti pas main golf sekretaris barumu diajak sana.] "Ngapain?" [Ajaklah, biar dia tahu kamu itu orangnya gimana, hobinya apa, mainnya sama orang kayak gimana. Kasihanilah dia sudah berapa minggu masih disekap juga di kantor gak kemana-mana. Nanti juga kan kamu kenalin ke temanmu, 'Eh sekarang aku sudah punya sekretaris loh. Nanti hubunginnya lewat dia saja'. Begitu maksudku.] Mister Chandra menggeleng-geleng kepala. Ini sih niatnya mau nyiksa sekretarisnya. Tapi mungkin ada baiknya juga diajak. Dia belum memiliki kesempatan untuk membawa sekretarisnya saat ada kepentingan di luar. [By the way, yang waktu itu sudah ketahuan?] "Yang waktu itu yang mana?" [Itu loh. Paket yang ada 'isinya', yang hampir ngebunuh sekretaris kamu.] "Ah iya itu. Belum, belum ada petunjuk pelakunya. Aku..." Mister Chandra menghela napas dalam. "... Aku berharap waktu itu ada bisa nangkap makhluk yang dikirim itu untuk cari tahu pelakunya. Tapi ya.." Mister Chandra tidak melanjutkan kalimatnya. Jika pun makhluk itu bisa ditangkap, yang sebenarnya pasti sangat sulit dan merepotkan itu, dia tidak yakin bisa melacak pelakunya. [Mbak Aster sudah gak kenapa-napa kan?] "Sudah gak kenapa-napa. Sudah kayak biasa, kayak gak terjadi apa-apa." [Bagus deh.] dia mengangguk. [Menurut kamu apa yang ngirim ini orang yang sama?] "Dilihat dari caranya, kemungkinan orang yang sama. Mereka menggunakan paket sebagai medianya." [Selama ini gak ada kasus kayak gini memangnya?] "Tidak ada. Kalaupun ada, mungkin sudah terpental keluar sebelum masuk lobby. Aku kan cerita ke kamu kalau kantor kita dibentengi sama kakek ku." [Tapi ada kemungkinan kan bentengnya melemah?] "Ya ada. Tapi aneh saja. Kenapa sekarang? kenapa tepat di saat Asteria masuk hal seperti ini terjadi?" [Aku tidak tahu. Kamu terpikirkan tidak siapa kira-kira pelakunya? Maksudku ini aneh saja. Mainnya makhluk halus loh. Bukan teror bom atau yang lainnya.] Mister Chandra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak kepikiran. Aku malah berpikiran sebenarnya siapa target orang ini? Aku atau keluargaku. Karena kalau aku, berarti mungkin orang itu pernah tersakiti olehku. Kau tahu aku bukan orang yang mudah berinteraksi dengan orang lain. Jadi kalau mungkin sikapku menyinggung mereka ya bisa jadi. Tapi kalau keluarga ku, ini hal lain. Masalahnya bisa jadi lebih besar." [Haduh, kenapa sih keluarga kamu ah.] gerutu Endymion. Mereka lanjut berbicara untuk beberapa saat. Lalu saling berpamitan untuk beristirahat. Malam itu Mister Chandra kembali memikirkan insiden itu. Siapa pelakunya sebenarnya? * Pagi ini Asteria memulai hari dengan sedikit olahraga. Dia berlari santai saat matahari belum muncul. Menapaki bagian jalan kosong yang sengaja ditutup oleh otoritas bandara. Jalan itu seharusnya menjadi jalan utama. Tapi sejak dibangun landasan pesawat melewati daerah itu, satu bagian ruas jalan di tutup. Ibu-ibu dan anak-anak kecil suka berolahraga pagi menggunakan sisi jalan itu. Saat merasa cukup, Asteria mulai berjalan santai untuk sampai ke kantor. Sebenarnya jarak kantor dan kosannya cukup jauh karena hampir memakan empat puluh menit perjalanan. Tapi Asteria sedang bersikeras menurunkan berat badan. Mungkin dengan cara ini dia bisa turun beberapa kilo. Asteria buru-buru mengganti pakaian dan sepatunya saat tiba di kantor. Dia juga harus makeup sebelum bosnya datang. Sarapan? Ah, Asteria sedang diet, jadi dia hanya akan minum sari lemon yang diseduh hangat pagi ini. Suara flush toilet terdengar dari bilik toilet yang terbuka. Asteria masih menata eyeshadow saat bunyi kucuran air dan suara tektektek terjadi. "Iya Mba selamat pagi!" sapanya tanpa menoleh ke arah toilet yang terbuka tapi berisik itu. Kadang dia tidak bisa menahan diri untuk tidak terpengaruh dengan makhluk halus yang sering mengganggu saat kantor masih sangat sepi seperti ini. Tidak aneh untuk toilet wanita di lantai lima yang jarang digunakan karena penghuni lantai ini semua laki-laki sebelum dia menjadi bagian dari karyawan disini. Wajar jika penunggunya suka iseng. "Duluan ya Mbak." bisiknya lagi saat mau keluar. Hal paling menyenangkan jika datang pagi adalah ketenangan yang dia dapat sebelum kantor ini sangat hektik. Tidak ada dering telepon orang yang memaksa bertemu dengan bosnya. Tidak ada tumpukan email yang harus dibalasnya. Tidak ada tumpukan surat yang harus di screening sebelum masuk ke ruang Mister Chandra. Hanya ketenangan dengan segelas air lemon hangat di tangan. Dia menyalakan komputernya dan membuka agenda bos hari ini. Tangannya mengetik ulang agenda bosnya untuk disampaikan ke supir Mister Chandra. Matanya sesekali melirik pintu masuk. Pintu terbuka perlahan. Benar saja apa yang dikatakan Mba Venus, Mister Chandra bisa membuka pintu tanpa menimbulkan suara. Padahal pintu itu berat dan berisik. "Pagi Mister Chandra." "Mn." Oh apa matanya tidak salah? Matahari belum tinggi dan Mister Chandra sudah muncul dengan wajah suram. Tidak ada senyum di bibirnya meskipun senyum menyeramkan itu. Pasti sesuatu telah terjadi yang membuat mood bosnya buruk. Ini akan jadi hari yang panjang. "Apa Pak Fahmi sudah ke sini?" "Belum Mister." Mister Chandra berdecak kesal. Oh sungguh ini bukan hari yang baik. Bosnya tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya dengan mudah. Mungkin ada beberapa kali dia terlihat kesal, tapi masih menutupinya dengan senyum creepy itu. Bosnya tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung masuk ruangan. Asteria mengusap wajahnya. Semoga saja Mister Chandra bukan tipe orang yang jika marah akan merembet ke mana-mana. Akan melelahkan jika itu terjadi. Asteria kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dia menimbang-nimbang untuk masuk ke ruang bosnya dan menawarkan minuman. Mungkin dengan begitu bosnya akan merasa lebih baik. Bunyi kriet pintu dibuka. Muncul kepala Pak Fahmi mengintip dari sana. Pak Fahmi masuk dengan pelan-pelan seperti orang yang sedang sangat berhati-hati melangkah. Saat sudah cukup dekat dengan Asteria, dia menggerakkan bibir tanpa suara. "Bos ada?" Asteria mengangguk singkat. Wajah Pak Fahmi semakin terlihat tidak nyaman. Seperti anak sekolah yang takut masuk kelas karena kesiangan. Pak Fahmi melirik jam tangannya. Dia mengusap keningnya yang berkeringat dengan sapu tangan. Tangannya terangkat mau mengetuk, tapi Asteria menahannya. Asteria menunjuk kemeja Pak Fahmi yang tidak rapi. Ada bagian bawah kemeja yang keluar. Dia pasti memakainya terburu-buru. Pak Fahmi merapikannya dan memberi ekspresi bertanya pada Asteria untuk penampilannya. Wanita itu memberikan oke. Pak Fahmi mengetuk pintu dan menyebutkan dirinya. Ada suara mempersilahkan masuk dari dalam. Menelan ludah susah, Pak Fahmi memberanikan diri masuk. Pintu itu ditutup dan meninggalkan Asteria sendirian. Belum ada dua menit, Mister Chandra keluar dari ruangan. "Mba Asteria, saya ingin Frapuccino, kalau ada Java chips. Kalau gak ada beli apa saja yang manis pokoknya. Sama kue atau apa terserah. Saya belum sarapan." sambil menyerahkan kartu. "Baik Mister." Setelah Asteria keluar dari ruangan, Mister Chandra berbalik. Dia sengaja mengusir Asteria keluar agar bisa bebas menangani satu orang di dalam. Sementara korbannya sudah keringat dingin di tempat duduknya. "FAHMI!" "AMPUNI SAYA MISTER, AMPUNI SAYA!" * Kedai kopi paling bergambar putri duyung itu selalu ramai saat pagi. Jadi antrian panjang tidak bisa dihindarkan. Asteria hanya bisa memainkan handphone sambil menunggu antrian. Asteria tiba-tiba merasa tengkuknya dingin. Dia tidak langsung menoleh. Memanfaatkan layar gelap handphone miliknya, dia mengarahkan pantulan layar itu ke balik pundaknya. Seorang wanita cantik di belakangnya. Tapi di atas kepala wanita itu ada makhluk berambut panjang gimbal dengan lidah terjulur. Asteria segera menurunkan handphonenya. Sudah cukup melihat yang seperti itu. Selesai mendapatkan pesanan bosnya, Asteria berjalan ke depan lobby. Starbucks ini tidak berada di gedung kantornya, jadi dia harus pergi ke gedung perkantoran lain. Dia sedang menunggu Pak Kul datang menjemputnya. Berdiri diam bukan hal yang baik. Seperti orang pada umumnya, satu tangan memainkan handphone dan tangan lainnnya memegang pesanan bosnya. "Aduh!" Seseorang menabraknya dengan keras hingga kantong pesanannya terlepas dari tangan dan jatuh. Asteria langsung pucat. Dia segera berjongkok melihat isinya dengan panik. "Gimana sih kamu! Menghalangi jalan orang saja! Dasar! Lihat sepatuku jadi kotor." Tunjuknya pada bagian sepatu hak putihnya yang terkena tumpahan Frapuccino. Asteria menengok ke atas. Orang yang menabraknya ternyata wanita cantik yang diikuti makhluk menjijikkan dibelakangnya. Buru-buru Asteria memalingkan wajah dan menyibukkan diri dengan pesanan bosnya yang sudah hancur itu. "Woi! Minta maaf ke saya! Kenapa diam saja?!" Merasa tidak ditanggapi, wanita itu malah mendorong bahu Asteria dengan sepatunya hingga terjengkang ke belakang. Blouse putih gading Asteria jadi ada noda sepatu. Orang-orang malah diam di tempatnya sambil berbisik-bisik. Tidak ada yang mencoba membantu. Asteria kesal dibuatnya. Masa bodoh dengan makhluk jelek yang ada dibelakang wanita itu. Perilakunya sudah keterlaluan. Asteria bangkit. "Yang salah itu Mba. Jalan sebegitu besar, Mba malah nabrak saya. Saya dari tadi diam di situ nunggu jemputan. Gak ada saya menghalangi jalan di sini. Yang ada harusnya mba yang minta maaf ke saya. Apalagi sampai membuat bawaan saya tumpah." Asteria berusaha tidak menaikkan suaranya. Tapi tetap saja susah berkata halus jika sedang menahan amarah seperti ini. "Kamu berani sama saya! Kamu gak tahu siapa saya?!" "Bukan masalah tahu atau tidak tahu siapa mba. Ini masalah yang nabrak duluan siapa yang marah-marah siapa. Kalau seperti ini namanya mba bully saya. Saya gak minta ganti rugi atau apa. Tapi saya cuma ingin mba minta maaf." "Kamu! Cuma anak magang saja belagu seperti ini! Kamu sudah mengotori sepatu saya! Sepatu ini sepatu mahal! Kamu pakai semua duit tabungan kamu juga gak akan sanggup buat ganti rugi sepatu ini!" Astaga Asteria dikira anak magang. Hanya karena dia sedang pakai baju putih gading dan celana hitam langsung dibilang anak magang. Sudah begitu wanita itu juga sudah mengotori pakaiannya. Bekas sepatunya masih ada di bahunya dan sekarang orang itu minta ganti rugi atas sepatu mahalnya. 'Ugh, aku tidak tahu mulut wanita ini yang bau sekali atau makhluk jelek dibelakangnya yang bau. Rasanya ingin ku jambak bibirnya.' gerutu Asteria dalam hati. Asteria menghembuskan napas. Dia ingin membalas orang ini. Tapi yang ada nanti akan bertambah panjang masalahnya. Apalagi makhluk jelek dibelakang wanita itu terlihat senang setiap kali orang ini marah-marah. "Apa-apaan wajah kamu seperti itu?! Ngejek ya!" sambil menunjuk. "Sudah cukup. Hentikan!" Seorang laki-laki berkumis datang menghampiri. Laki-laki itu langsung memegang tangan si wanita yang marah-marah dan menariknya. "Apaan sih. Lepasin! Dia belum minta maaf!" "Sudah hentikan. Kamu gak lihat semua orang nontonin kamu. Kamu mau keciduk infotainment?" "Iya, kamu gak takut ada yang lapor hah? Karirmu akan langsung hancur." Laki-laki lain datang. Ternyata itu Pak End. "Kau!" Wanita itu mau marah lagi, tapi dia terdiam. Dia menengok kiri-kanan. Seperti baru sadar kalau banyak yang memperhatikannya. Wanita itu menggigit bibir dan berjalan marah. Dia menghentak kaki dan menginjak-injak sisa kue di jalan. Lihat, siapa yang mengotori sepatutnya sendiri. Si pria berkumis segera menyusul. Kedua orang itu langsung masuk mobil tanpa meminta maaf pada Asteria. Seakan-akan Asteria hanya debu saja. Asteria ingin berteriak marah pada mereka. "Kamu gak apa-apa mba?" Asteria menoleh, wajah khawatir Pak End di depannya. "Maaf. Saya baru tiba. Tidak tahu ada ramai-ramai apa. Tapi wanita itu sudah keterlaluan. Benar-benar buruk sikapnya." "Te-terima kasih sudah menolong. Saya izin ke dalam." "Oh, mau beli lagi ya. Ayo bareng saya kalau begitu." * Pak End tadinya ingin mengajak Asteria ikut mobilnya, tapi tidak jadi karena Pak Kul sudah menunggu. Jadi yang bawa barang semua Asteria. "Kenapa lama sekali?" Habislah sudah. Mister Chandra moodnya sedang buruk. "Maaf Mister. Antriannya panjang." Dia menyerahkan pesanan bosnya sambil tersenyum canggung. Mister Chandra memicingkan matanya. Asteria mulai gelisah. "Saya permisi dulu." "Tunggu! Apa ini?" Mister Chandra menahan tangan Asteria dan menariknya mendekat. Tangannya menunjuk bagian bahunya yang kotor. "Ah.. itu saya tadi jatuh." "Jatuh?" "Iya, jatuh terus diinjak-injak." Suara Pak Endymion. Asteria menggeleng keras. "Bukan.. saya..." Mister Chandra tidak menanggapinya. Dia malah fokus pada Endymion. "Iya. Diinjak bahunya. Terus dimarahi dengan memalukan di depan banyak orang." "Pak End..." Wajah Mister Chandra menggelap. Tangannya mencengkram bahu Asteria agak keras. Asteria meringis dibuatnya. "Siapa yang melakukannya?" Nada suara Mister Chandra begitu gelap. Hawa negatif keluar dari tubuhnya. Pak End menggendikan bahu. "Hanya wanita tidak bermoral." Asteria merasakan dorongan besar untuk menenangkan bosnya. "Mister... saya tidak apa-apa." Tangannya meraih lengan bosnya. Dia tidak memberikan gerakan atau elusan. Tapi memberikan sentuhan solid untuk meyakinkan. Mister Chandra tidak yakin kenapa. Rasa panas yang meronta-ronta dihatinya perlahan menurun. Hawa negatifnya menyusut. Dia memejamkan mata dan mengambil napas. Kemudian melepaskan tangannya dari bahu sekretarisnya. "Fahmi, kamu beli pakaian baru untuk Mba Asteria!" Fahmi yang dari tadi diam saja sedikit bingung. "Saya?" "Ya. Kamu kan sudah punya istri. Bisa kan belanja pakaian wanita." "Bisa Mister." jawab Pak Fahmi. "Mister tidak perlu... Saya.." "Kamu sekretaris saya. Tidak malu kamu kerja dengan pakaian kotor seperti itu? Lihat, celana kamu bahkan masih ada noda kopi seperti itu." "Ah uh..tapi..." Pak End menepuk bahunya. Asteria menoleh padanya. "Sudah turuti saja." Pak End merendahkan suaranya. "Jangan bikin dia marah lagi." Bisiknya. Asteria akhirnya hanya bisa menurut. Pak Fahmi pergi dan membawa satu set pakaian kantor yang lucunya pas di badan. Mister Chandra masih mengeluarkan aura negatif, tapi sudah lebih mending dari tadi pagi. Hari ini memang jadi hari yang panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD