Jomlo 40 *Happy Reading* Geram, aku pun meraih kaca mata gunung di sebelahku, yang tadi aku lepas sebelum pake sarung urut, lalu melemparkannya pada Putra dan ... Ceklek! Pluk! Mampus! Ngapa tuh beha nemploknya dihidung mancung Alan? Seketika mataku pun melotot horor melihat hal tak terduga itu. Kaget? Tentu! Lebih ke malu, sih. Apalagi saat tangan Alan terangkat dan mencincing kaca mata gunung berwarna merah itu, kemudian terlihat syok beberapa saat setelahnya. Asli! Rasanya aku pengen banget ngumpet di kolong kasur saat itu juga. Tetapi, gimana bisa ngumpet? Lah, kakiku aja masih dicengkram Mak Ijah ini. Lebih dari itu, tampilanku saat ini juga cuma sarungan, doang. Rambut diuntel ke atas semua, memperlihatkan leher dan sekda. Pokoknya nih sarung melorot dikit aja, jadi sudah!

