BAB 8

590 Words
siang hari, indri merasa perutnya sudah mulai lapar. ia pun keluar ruangan dan melihat ke meja sekertaris tapi kosong. ia menengok ke ruangan sebelah pintunya belum terbuka. reza belum selesai dengan meeting nya "bagaimna ini? " gumam indri sambil memegangi perutnya "ada yang bisa di bantu mbak.?" tanya seseorang dari belakang indri. indri pun menoleh dan tampak lah romi asisten reza. "aku lapar, bisakah aku mendapatkan makanan.? atau pinjamkan aku uang, nanti aku akan menggantinya ". ucap indri terus terang tanpa ia malu-malu karna ia memang sudah sangat lapar. "ikutlah dengan ku ke kantin, aku akan mentraktir mu makan.. mmm, aku romi asistennya pak reza, kamu siapa? tanya romi sambil mengulurkan tangannya pada indri. "Indri, sepupunya kak reza." jawab indri sambil membalas uluran tangannya romi sambil tersenyum. romi pun berjalan menuju kantin dan indri mengikuti nya di belakang. indri memesan soto dan es jeruk begitu juga romi memesan menu yang sama. sementara itu, reza yang keluar dari ruangan meeting dan masuk ke dalam ruangan kantornya ia tidak melihat indri. ia pun memanggil sekertaris nya dan menanyakan dimana keberadaan indri. "dimana indri, gadis yang di ruangan ku taid pagi "? tanya reza pada lia "saya tidak tahu pak, tadi saya ke bawah ke ruangan fotocopy sebentar. " jawab Lia jujur "cari ia sampai ketemu.peri ntah reza dan Lia seger ke luar ruangan . reza pun mengeluarkan hp nya berniat menelpon indri tapi sayangnya mereka belum saling tukar no ponsel sejak kemarin. "kemana anak ini.? sudahlah lagian ia sudah dewasa nanti ia juga balik sendiri." gumam reza lalu ia menghubungi OB untuk membelikan makanan lalu mengantar keruangannya. setengah jam kemudian Indri masuk ke ruangan Reza dan menemukan reza sedang bekerja di depan laptopnya. indri pun tidak mau mengganggunya, ia segera duduk di sofa dan membaringkan tubuhnya disana. "dari mana kamu? " tanya reza tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. "makan siang di kantin" jawab indri jujur. "sama siapa.? bukankah tadi aku sudah bilang kalau perlu apa-apa minta sama sekertarisku. " ucap reza dan kali ini memandang ke arah indri. "tadi aku sudah mencarinya, tapi mejanya kosong. terus ada laki-laki namanya romi menawarkan makan ke kantin, ya sudah aku ikut saja. aku juga sudah sangat lapar. " balas indri sedikit takut. suaranya semakin lirih karna ia tahu dari nada bicaranya reza sepertinya sedang marah. reza pun tidak membalas jawaban indri. tidak berapa lama OB masuk membawa makanan untuk reza. reza pun makan tanpa bersuara. indri yang melihat reza makan merasa bosan dan mengantuk. akhirnya ia tertidur di sofa, reza pun membiarkan indri tidur sambil ia melanjutkan pekerjaannya. sore hari indri bangun dan sadar kalau ia tertidur di kantor reza. ia pun melihat ke sekeliling dan melihat reza masih bekerja di depan laptopnya. "masih lama kak.? maaf aku ketiduran, " tanya indri lalu menutup mulutnya yang sedang menguap. "ayo jenguk papa kerumah sakit, " ajak reza sambil mematikan laptopnya lalu memakai jasnya yang ia lepas tadi. "oke.! " jawab indri setuju sesampainya diruangan pak bayu, indri dan reza mencium punggung tangan pak bayu dan bu sofi bergantian. "bagaimna keadaan papa.? " tanya reza yang duduk di kursi samping tempat tidur "masih sama rez, setelah papa meninghal berjanjilah kamu tidak akan menceraikan indri.!" ucap pak bayu serius "papa jangan berpikir yang tidak-tidak. aku akan mengantar indri pulang dulu. papa istrahatlan.!" ucap reza berpamitan. "apa kamu sudah mengurus surat nikahmu rez.?" tanya pak bayu "ya, aku sudah menyuruh seseorang untuk mengurusnya pa." jawab reza, pak bayu pun merasa lega. sebelum mengantat indri pulang, reza pulang kerumahnya terlebih dahulu untuk mandi dan berganti pakaian sekaligus mengambil barang-barang indri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD