Bad or good news?

1181 Words
“Bagaimana kalau Zenith Defy?” Miner tampak excited memberikan saran untuk hadiah ulang tahunnya sendiri. Dia memang kuberi kebebasan untuk memilih hadiah, tapi mendengarnya hanya meminta jam tangan, membuatku sedikit heran. Apa cuma itu yang dia minta? “Boleh, nanti kuberikan saat pesta perayaan besok. Ada lagi?” Aku menawari. Jelas dia langsung berpikir keras mendengar tawaranku, tapi di sisi lain, sepertinya dia enggan untuk meminta lagi. Mungkin merasa canggung padaku. Kami baru resmi berpacaran seminggu yang lalu, tepat lima jam setelah putus dari Romero. Pria b******k yang berselingkuh di depan mataku. “Kurasa itu sudah lebih dari cukup.” Wajahnya memperlihatkan sedikit penyesalan. Karena biarpun dia meminta mobil, aku pasti akan membelikannya. Lagi pula Gramps hampir punya segalanya, dan yang terpenting, dia tak akan pernah menolak permintaanku selagi aku mau menuruti perintahnya. “Kau datang pukul berapa besok?” tanya Miner. Dia adalah pria tampan yang sopan. Lima kali lebih baik dari Romero. Rambutnya pirang, dan memiliki aksen Jerman. Itu yang membuat gaya bicaranya terdengar sedikit unik ketika berbicara. “Sekitar pukul delapan malam. Tentu saja sebelum kau memulai acara inti.” “Perfect. Aku benar-benar tak sabar melihatmu di pesta besok malam.” Dia menggenggam erat tanganku dan menyunggingkan senyuman simpul. Jujur saja, aku tak terlalu suka berpegangan tangan seperti ini, jadi aku melepaskan perlahan kemudian mengalihkan pembicaraan. “Makanan kita datang,” ujarku melihat dua waiter yang berjalan dengan nampan ke arah kami. Satu dari mereka membawa makanan dan yang satunya membawa minuman. Aku hendak menerimanya, kalau saja wanita itu tidak secara tiba-tiba menumpahkan jus apel ke tubuhku. Bajuku basah, sekaligus kotor karena tumpahan jus. “Apa kau bodoh, huh?” tukasku sambil berdiri dan mentap sinis matanya. “Maaf. Saya benar-benar tidak sengaja.” Dia kelihatan takut, dan menunjukan ekspresi orang rendahan yang selalu berpura-pura tertindas. Lihatlah, saat ini semua orang bahkan melihat ke arahku seolah aku yang paling bersalah atas semua ini. “Apa dengan meminta maaf, pakaianku akan kering?” tanyaku tepat di depan wajahnya. Aku bahkan perlu menunduk untuk menatapnya. “Saya benar-benar tidak sengaja.” Matanya memerah dan dan genangan air mulai memenuhi matanya. “Kami akan bertanggung jawab atas kelalaian ini,” ucap rekannya penuh kekhawatiran. “Tentu, tapi ... panggilkan manajermu dulu!” Wanita itu mendongak, menatapku takut, dan berpedip. Di saat itulah air matanya tumpah. “Tunggu apa lagi! Panggil manajermu, sekarang!” Dia langsung beringsut meninggalkanku dengan berlari. Tiba-tiba, Miner menarik lenganku. Sangat keras menyeretku keluar dengan paksa dan melepaskan tanganku setelah berada di area depan toko samping restoran. “Apa kau gila? Kenapa kau menarikku keluar?” teriakku padanya. Kesal karena dia lebih membela wanita itu dibandingku. “Oh ayolah, kau tak perlu semarah itu pada pelayan tadi. Apa kau tidak lihat, semua orang di dalam memperhatikanmu?” “Persetan dengan mereka, Miner!” tukasku kemudian melangkah pergi. Belum sempat melangkah lebih dari tiga meter, ponselku berdering. Dari Gramps. Untuk apa dia menelpon? “Ya?” “Kau harus pulang hari ini. Tiket pesawatmu sudah kusiapkan.” “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku penasaran. “Karena kau akan bertunangan malam ini,” jawabnya. Wait! Aku pasti salah dengar. “Apa? Siapa?” Aku melirik Miner yang tampak penasaran dengan percakapanku. “Kau, Alessia Fredrick!” “Novarski. Aku bahkan tak sudi memiliki nama yang berasal dari nama belakangmu!” “Terserah. Yang jelas, kau harus datang ke acara pertunanganmu nanti malam.” “Apa kau gila? Bagaimana bisa secepat itu? Aku bahkan tak mengenal pria itu.” “Itulah tujuannya. Kalian bertunangan, sekaligus berkenalan,” jawabnya santai seolah aku tak masalah dengan semua ini. “Kau benar-benar sinting!” makiku. “Aku tak menerima protes kali ini. Kau tahu sendiri, kan, akibatnya jika menentangku?” Aku menutup telepon. Menurunkannya dari telinga dan mencengkram erat ponsel di tangan. Sial! Aku mengusap rambut ke belakang. Rasanya aku ingin berteriak di sini, tapi urung kulakukan karena orang-orang pasti akan menganggapku gila. “Ada apa?” Miner terlihat khawatir denganku. “Kau baik-baik saja?” “Tidak!” Aku menatapnya. “Aku harus pulang ke San Fransisco sekarang juga dan itu buruk.” “Kenapa?” Aku menatap matanya. “Kurasa kita harus putus, Miner,” ucapku spontan, bahkan tanpa berpikir dahulu. “Kenapa?” Wajahnya benar-benar menunjukan keterkejutan. “Aku akan bertunangan.” “Kau gila? Kita baru berpacaran satu minggu dan kau akan bertunangan dengan orang lain?” “Kau tidak tahu masalahnya.” “Ya, aku tidak tahu. Karena kau tak pernah memberitahu. “Sebaiknya, kita sudahi semuanya. Aku minta maaf karena aku tak bisa bersamamu lebih lama.” Wajahnya menampilkan kekecwaan leuar biasa. Dan aku bisa merasakan kalau dia merasa dihianati begitu dalam karena dia adalah satu-satunya pria baik yang kukencani. “Kau tak bisa melakukan ini padaku!” Tiba-tiba Miner meraih tanganku. Menggenggamnya dengan erat dan memohon agar aku tak memutuskannya. Miner  menunjukan wajah memelas, seolah aku akan berubah pikiran jika dia melakukan itu. Tak tahan mendengar rengekan, aku melepaskan genggamannya secara paksa, lalu berjalan menuju mobil dan masuk. Rupanya pria itu kukuh juga. Dia bahkan mengetuk kaca mobilku berulang kali dan meminta agar aku membuka jendela. Tak mau ambil pusing, aku langsung saja menginjak pedal gas, dan melaju kencang. *** “Apa katamu?” Suara Jessica benar-benar membuat telingaku sakit sampai membuatku harus menjauhkan ponsel dari telinga. “Ya. Gramps memang sinting, dia bahkan tak tahu kalau perjalanan ini membutuhkan waktu lama.” Aku memasukan pakaian terakhir ke dalam koper, lalu menutupnya. “Tapi, apa kau benar-benar serius untuk menerima pertunangan itu? Maksudku, apa kau yakin dengan pilihan Mr. Frederick?” tanya Jessica. Kemungkinan besar, dia khawatir kalau Gramps menjodohkanku dengan pria tua yang jelek, tapi aku cukup percaya diri Gramps tak akan melakukan hal itu. Aku pernah membuat kesepakatan dengannya soal ini. Kriteria calon suami untuk Alessia Novarski: 1.      Memiliki wajah tampan. Tak perlu terlalu tampan, tapi setidaknya wajahnya enak dipandang 2.      Orang Amerika. Tentu, aku suka dengan orang amerika, terlebih Amerika Latin, mereka tampak begitu sexy. 3.      Kaya. Tentu saja ini masuk kriteria. Untuk menunjang penampilan, aku butuh uang, dan setidaknya aku bisa mengurangi kegiatan meminta uang pada Gramps jika memiliki suami kaya. 4.      Baik. Artinya, dia selalu memperlakukanku dengan baik dan tak pernah berselingkuh dariku ketika kita sudah menikah nanti. Karena menurut data yang kulihat, angka perceraian di Amerika cukup tinggi. Aku tak mau jadi salah satu dari mereka. 5.      Selalu di pihakku bagaimanapun dan apapun yang terjadi. Ini opsional. Kurasa hanya itu. Gramps menerima persyaratannya meskipun sempat mendebat syarat kelima. Namun, pada akhirnya dia mengalah dan menyetujui semuanya. “Alessia?” Suara Jessica menyadarkanku dari lamunan. “Maaf.” Kali ini aku berusaha fokus. “Kau yakin dengan pilihan Mr. Frederick?” “Tentu, aku yakin dia akan menjodohkanku dengan pria sexy.” “Semoga saja,” katanya. “Oke, aku harus kembali berkemas. Waktuku terbatas. Jadi, see you there,” “See you,” balasnya. Aku melanjutkan packing. Membawa hanya barang yang sangat dibutuhkan, kemudian meninggalkan rumah setelah semuanya selesai. Aku pergi ke bandara satu jam sebelum keberangkatan. Menunggu untuk check-in beberapa saat lalu pesawat take off di jam sebelas siang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD