Sellena tertegun dengan segala ucapan yang dilontarkan Darrent kepadanya. Wajahnya memerah ketika Darrent dengan terang-terangan mulai membahas tentang bayi di hadapannya. Sebagai seorang saudari kembar dari Hellena, ia merasa tidak pantas mendengarkan kata penuh buaian dan impian indah itu. Ya, tidak seharusnya Sellena terlibat dalam pernikahan pura-pura ini. Jika tidak merasa kasihan pada Hellena dan juga tidak memandang wajah kedua orangtuanya, Sellena sudah pasti akan menolak rencana gila ini.
"Sayang, kenapa diam? Apakah kau tidak senang memiliki bayi dariku?" Darrent melontarkan pertanyaan karena merasa sedari tadi gadis yang ia nikahi bersikap aneh dan terlihat pasif.
Sellena kembali sadar, ia telah melakukan kebohongan sejauh ini. Ibarat mandi, ia tidak mungkin meninggalkan tubuhnya basah tanpa mengusapkan sabun ke seluruh tubuhnya. Dengan cepat Sellena menggeleng, dengan segenap ketegaran yang ia punya ia memilih untuk menebar senyum semanis mungkin. "Bagaimana bisa aku tidak senang. Aku telah menikahimu, itu artinya aku telah siap untuk membahagiakanmu."
Darrent tergelak bahagia, hatinya benar-benar meleleh karena ucapan pujaan hatinya tersebut. Berbeda dengan Darrent, Sellena mengutuk dirinya sendiri berulang-ulang. Bagaimana bisa ia mengucapkan kata itu tanpa merasa berdosa sama sekali? Bagaimana bisa?!
"Sungguh, aku merasa beruntung memiliki istri sepertimu, Hellena. Sangat beruntung," ucap Darrent sembari menatap gadis itu dengan tatapan penuh makna.
Tatapan yang lembut dan penuh cinta sejenak membuat Sellena terhanyut. Namun, tidak! Darrent hanya milik Hellena dan ia telah memiliki Ivan yang baik di sampingnya. Sellena tidak akan mungkin memalingkan wajahnya pada Darrent dan meninggalkan Ivan.
Sekarang benak Sellena mulai berkecamuk, apa yang akan ia katakan pada Ivan nanti tentang pernikahan ini. Sellena yakin Ivan pasti akan mengutuknya jika tahu ia telah melakukan kebohongan di depan Tuhan, pendeta, dan para tamu undangan. Ivan, maafkan aku!
Sellena kembali tersadar saat tangannya digenggam Darrent, ia tersenyum manis lalu menarik tangan Sellena untuk maju beberapa langkah meninggalkan altar. "Apakah kamu tidak ingin membagi bunga mawarmu untuk para sahabat yang ingin segera menikah, Hellena? Ayo lempar bungamu, jangan menyimpan kebahagiaan ini seorang diri."
Ah, Sellena lupa akan momen itu. Moment dimana pengantin perempuan akan melempar bunganya untuk calon mempelai berikutnya. Beruntung Darrent mengingat, membuatnya tidak terlihat begitu bodoh dan kaku. Sellena menebar senyum, ia bersiap untuk melempar bunga itu ke hadapan para gadis yang siap untuk menangkap buket bunga yang ia bawa.
Dalam hitungan detik suara riuh para gadis memperebutkan bunga memenuhi ruangan, beberapa gadis tergelak tertawa ketika buket bunga itu berhasil mereka tangkap dan perebutkan. Sebuah moment indah dimana Sellena pernah menjadi salah satu diantara mereka dan memperebutkan sebuah bunga.
Sellena terhanyut akan suasana meriah itu, ia lupa dengan posisinya dimana ia harus memikirkan cara supaya terlepas dari kisah rumit yang baru saja ia ciptakan bersama keluarganya. Gadis bertubuh langsing itu memekik kaget saat Darrent tiba-tiba mengangkat tubuhnya di depan para tamu undangan. Semua orang tertawa, bertepuk tangan dan turut bahagia dengan apa yang dirasakan oleh Darrent.
"A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku, turunkan!" Sellena memekik lirih sambil memukul d**a Darrent, matanya nyaris melotot ke arah Darrent ketika tubuhnya tiba-tiba digendong seperti itu. Sungguh memalukan, terlebih banyak orang yang menyorakinya dengan penuh riuh dan bahagia.
"Kenapa Sayang? Apa kau tidak suka?! Bukankah kamu dulu pernah bilang ingin aku gendong pada saat hari pernikahan? Hayo, kamu lupa ya?!" Darrent lagi-lagi mengingatkan, membuat Sellena terbungkam dan tak bisa lagi berkata-kata.
Sungguh sialan memang. Apa saja sih yang mereka bahas dulu? Kenapa satu per satu obrolan intim itu menguap di hadapannya seolah itu menjadi senjata paling mematikan untuk Sellena.
Melihat Darrent begitu bahagia, Sellena hanya menahan dirinya dipermalukan seperti itu. Digendong di depan umum seperti itu jelas-jelas bukanlah style dan juga gayanya, memang Hellena saja yang mungkin kelewat berlebihan hingga akhirnya ia sendirilah yang tertimpa kesialan itu. Huh, dasar Hellena!
****
Pernikahan telah usai namun keluarga besar masih berkumpul dan mencoba mengenal satu sama lain. Keluarga Darrent begitu ramah, meskipun mereka terlahir dari golongan orang kaya yang memiliki perusahaan sepatu kelas atas, mereka sama sekali tidak sombong dan tetap ramah pada siapapun.
Margareth Vausteent, ibunda Darrent terlihat begitu akrab dengan Sarah Olliver. Mereka terlibat obrolan santai mengenai hidangan puding yang tersaji di keluarga Olliver. Rupanya Margarett begitu tertarik dengan hidangan buatan asli tangan Sarah, membuatnya penasaran dan ingin memiliki resep rahasia yang dimiliki Sarah. Ya, wanita paruh baya itu memang terkenal pandai mengolah dan membuat puding beraneka warna dan rasa.
Jika Margareth sibuk dengan Sarah, William Olliver—ayag Sellena justru terlihat sibuk dengan Johan Vausteent, ayah dari Darrent sendiri. Mereka terlibat obrolan serius mengenai koleksi perangko yang dimiliki William. Ya, pria paling tampan di keluarga Olliver itu sudah menjadi filatelis sejak lima tahun yang lalu.
Melihat mereka sibuk sendiri-sendiri menjelang acara makan malam, Sellena dan Darrent hanya mampu memandangi keakraban mereka satu sama lain. Sungguh diluar dugaan, mereka tak pernah bertemu sebelumnya namun dalam hitungan jam mereka berubah menjadi sepasang sahabat yang saling menemukan kegemaran dan hobi masing-masing.
"Membosankan ya?!" Darrent berbisik di samping Sellena, menunggu hidangan terakhir datang dan siap untuk disantap di acara makan malam perdana antara keluarga Vausteent dan juga Olliver.
Sellena hanya menoleh sekilas pada Darrent, tak menanggapi apapun yang ia ucapkan. Darrent menarik napas, ia kembali mendekatkan bibirnya di telinga Sellena. "Tahu begini, aku sudah tidak sabar untuk membawamu ke kamar."
Mata Sellena membelalak, ia menoleh ke arah Darrent. Pria itu tersenyum tanpa dosa lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Sellena dengan genit. Tentu saja wajah Sellena langsung memerah dan panas, Ivan tidak pernah menggodanya seperti itu. Aduh, obrolan panas apa lagi yang akan ia terima nanti?!
Sellena segera memalingkan wajah, ia tidak sanggup melihat mata pria m***m tersebut. Sepertinya dunianya akan segera dipenuhi kata m***m dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Kenapa? Kau tidak tertarik membahas hal ini denganku? Biasanya kamu duluan yang memancingku untuk membahas hal demikian," celetuk Darrent ketika menangkap wajah kurang suka yang ditunjukkan Sellena kepadanya. "Sayang, hari ini kamu benar-benar berbeda dari sebelumnya."
"Ehm, maaf Darrent, bukannya aku berbeda, mungkin aku hanya merasa lelah jadi tidak bisa menanggapi obrolanmu dengan maksimal." Sellena segera menjawab, tahu betul posisinya saat ini seperti apa terlebih saat William menatap ke arahnya seolah memperingatkan.
Darrent menatap Sellena lalu tersenyum, ia meraih tangan kanan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. "Tidak apa, selama ini kamu bekerja begitu keras. Setelah menikah denganku, kamu hanya tinggal menjadi nyonya besar saja dan melayaniku. Setelah menikah, berhentilah bekerja dan fokus mengurus rumah tangga. Sayang, dengan tidak bekerja maka kamu akan fokus dalam melayaniku sebagai seorang istri. Bukankah begitu?!"
Sellena dan Darrent saling pandang, pikiran mereka berputar satu sama lain. Kini Sellena mulai tahu kenapa Hellena begitu bersikeras untuk mendapatkan pria satu ini. Selain memiliki perhatian yang begitu besar, dengan menikahi Darrent tentu saja hidup Hellena bakal terjamin hingga anak cucu. Wah, beruntung sekali Hellena mendapatkan pria sebaik Darrent!
"Apa yang dikatakan Darrent memang benar Hellena," ucap Margareth tiba-tiba. Wanita paruh baya dengan pakaian glamour itu tersenyum sembari menatap ke arah Sellena. "Sejak remaja Darrent memang bercita-cita ingin menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Ia tidak suka jika istrinya bekerja banting tulang, ia hanya ingin istrinya fokus terhadap dirinya dan juga anak-anaknya."
"Wah, Hellena-ku pasti beruntung sekali mendapatkan Darrent-mu, Nyonya." Sarah mengimbuhkan, menatap Margareth dengan tatapan penuh binar.
"Ya, Darrent kami memang luar biasa. Dia pria yang sangat baik," puji Johan turut mengikuti obrolan sambil melirik sekilas pada putra kebanggaanya.
Acara basa-basi itu terpotong saat pelayan rumah di keluarga Olliver datang membawa daging kalkun utuh ke meja makan. Margareth terlihat terpukau, daging kuning keemasan itu terlihat begitu menggoda terlebih aromanya yang khas mengundang perut untuk berbunyi dan ingin segera menyantapnya.
"Ini sajian utama kami untukmu, Nyonya Margareth." Sarah berkata pada Margareth, mempersilakan besannya tersebut untuk mencicipi hidangan utama.
Malam itu acara makan malam dimulai sedikit terlambat, meskipun demikian rasa lelah terbayar sudah dengan hadirnya daging kalkun di meja makan. Semua orang tahu, tidak semua orang bisa mencicipi daging kalkun sebesar ini dan juga senikmat ini.
Selama acara makan malam, Sellena hanya bisa diam dan menikmati makanannya. Ia tidak bisa berbuat banyak ketika ia berulang kali menuang sayur ke piringnya tanpa mengambil lauk pauk. Hal ini menjadi kejanggalan tersendiri bagi keluarga Vausteent, melihat anak menantunya bersikap aneh maka Margareth segera menegurnya dengan lembut. "Anakku Hellena, ada apa dengan dirimu? Apakah kau tidak menyukai daging kalkun? Apakah kau tidak memakan lauk pauk? Kenapa sedari tadi aku melihat dirimu hanya menuang sayur berulang kali?"
Sellena tersentak, karena panik ia hampir saja menjatuhkan gelas yang berada di samping tangannya. Beruntung Darrent denga sigap segera memindahkannya sehingga keributan bisa diminimalisir. Melihat hal itu Darrent pun merasa heran. "Sayang, kamu baik-baik saja kan?"
Sellena tergagap, ia harus menjawab apa sekarang. Jujur ia tidak bisa jauh-jauh dari kacamata yang ia pakai saat ini. Meskipun ada softlens sebagai alternatif tapi softlens tidak bisa dipakai secara terus menerus dan berkepanjangan. Tentu saja hal ini akan membuat matanya semakin rusak dan tidak terlihat. "Ma-maaf Nyonya, maaf Darrent, mataku sedikit sakit sedari pagi. Aku merasa lebih baik jika aku memakai kaca mata."
Seluruh keluarga diam ketika mendengarkan penuturan Sellena. Gadis itu berdebar-debar, ia takut alasannya tidak diterima terlebih Hellena pernah berkata jika keluarga Darrent dan juga Darrent sendiri tidak suka dengan wanita yang terlihat lemah. Jika sesuatu terjadi, Sellena siap untuk meminta maaf demi kebaikan hubungan Hellena dan juga Darrent saat itu juga.
"Lalu kenapa kamu tidak memakai kacamatamu saja?!" Darrent bersuara pelan dan juga lunak. Pria tampan itu nampak tersenyum pada Sellena dan juga keluarganya. "Jika kamu merasa baik ketika memakai kacamata maka pakai saja benda itu. Kami sama sekali tidak melarang. Tunggu, aku akan mengambilkannya untukmu."
Darrent segera beranjak dari kursi, menuju ke meja dimana ia melihat sebuah kacamata teronggok diatasnya. Tak lama kemudian ia telah kembali membawa kacamata milik Sellena lalu menyerahkannya. "Sekarang pakailah jika memang itu membuatmu merasa baik."
Sellena mengangguk, ia meraih kacamata dengan lensa sedikit tebal itu dan memakainya dengan perasaan lega. "Terima kasih Darrent."
"Sama-sama Sayang, bagaimana? Apakah wajah tampanku terlihat lebih jelas sekarang?" goda Darrent pada Sellena membuat gadis itu tersenyum malu lalu menunduk.
Sikap menggemaskan yang ditunjukkan Sellena membuat Margareth turut bahagia. Ia tersenyum manis lalu menoleh sekilas pada Sarah. "Rasanya aku turut bahagia memiliki anak menantu yang mengemaskan seperti anakmu, Nyonya Sarah."
"Hellena memang seperti itu, Nyonya. Hellena memang menggemaskan dan sangat manja, siapapun pasti akan terpesona akan wajah dan tingkahnya." Sarah mengimbuhi sembari sesekali melirik kearah Sellena.
Margareth kembali tersenyum, ia menatap Sellena dengan tatapan begitu lembut. "Sayang, kau cukup pandai menawan hatiku. Melihatmu seperti ini sungguh aku menginginkan cucu darimu."
Sellena tersentak, tak percaya jika Margareth akan mengatakan hal tersebut secepat itu. Melihat anak menantunya kaget, Margareth terkekeh. "Jangan kaget, kami memang menginginkan cucu secepatnya darimu. Sayang, kamu bersedia 'kan memberikan kami cucu?"
*****