Pura-pura terjatuh

957 Words
Datang ke kantor ___________ Hmm, bagaimana ya? Aku terus memikirkan cara menjinakkan kulkas berjalan itu, lagipula, ada untungnya juga mendapat suami seperti itu. Pertama, sudah sangat jelas kalau dia adalah orang yang sangat setia, bercinta saja dia tak tahu apalagi melirik wanita seksi di luar sana. Kedua, aku tak perlu takut dia tergoda dengan wanita-wanita murah. Ya, jadi aku tak perlu khawatir akan penghianatan. Soal dirinya yang terlalu lugu itu gampang, aku bisa mengajarinya bercinta. Kalau di rumah cuman ada mami Aluna, jadi Kayhan tak malu jika meronta mencoba kabur dariku. Ting. Tiba-tiba sebuah ide datang di kepalaku. Ya, apa aku datang saja ya ke kantornya? Dengan begitu aku bisa memeluknya dengan puas, karena jika Kayhan mencoba kabur pasti dia bakal malu dilihat oleh karyawan. Jadi dia tidak akan bisa berkutik disana. Aku bergegas membersihkan tubuhku dan berdandan yang cantik, dengan semangat 48 aku menuju kantor tempat Kayhan bekerja. Aku berjalan anggun menelusuri ruangan Kayhan, berpasang mata selalu menunduk jika berpapasan denganku, aku sekarang telah menjadi nyonya besar tuan muda Kayhan. Setelah sampai di ruangan suamiku, aku membuka pintu pelan, Kayhan terlihat sedang berbincang-bincang dengan beberapa karyawannya, apakah mereka sedang meeting? Mengambil kesempatan, aku menghampiri Kayhan dan langsung bergelanyut manja di lengannya. "Kay-" "Haa! " Kayhan tersentak kaget. "Kau, kenapa kau disini? " tanyanya. "Hei, apa ada yang salah aku mengunjungi suamiku sendiri. " ucapku acuh dan terus bergelanyut di lengannya. Kayhan terus berusaha melepaskan tanganku, bahkan dia mendorong kepalaku dengan kuat agar terlepas, aku justru semakin mempererat peganganku. Semua karyawan mematung melihat tingkah kami, seperti anak kecil yang sedang bertengkar. "Auw! Kau menyakitiku, Honey! " aku meringis saat Kayhan menggigit tanganku. "Kayhan, kamu gk malu dilihatin banyak orang," ucapku setengah berbisik. Mata Kayhan langsung membola dan menyadari apa yang telah ia perbuat, dia menatap semua karyawan dengan kikuk, mungkin menahan malu. Semua karyawan menahan tawa mereka melihat tingkah kami. "Sudah, biarkan aku disini temani kamu. Kamu kerja saja yang benar, anggap aja aku gk ada. " aku tersenyum riang melihat Kayhan tidak bisa berkutik di depan karyawannya. Dia mendencak kesal dan kembali duduk. Sampai jam pulang aku tidak melepaskan gandenganku walau sedetik. "Lepaskan dulu, aku mau membereskan mejaku, apa kau tidak ingin pulang? " ucapnya. Dengan terpaksa aku melepas peganganku. "Kita pulang bersama, ya? " tawarku. "Tidak mau. " ucapnya datar. "Hei, kau tidak boleh membiarkan istri pulang sendiri, nanti kalau ada apa-apa bagaimana? " "Mana ada yang mau mengganggu gadis sepertimu, kau saja dulu mungkin sering ngumpul di sarang preman, bareng copet-copet! " "Hei, kau mengataiku! " aku bersungut kesal. Kayhan terus mengejekku. Kayhan keluar ruangan tanpa memperdulikan aku, aku ditinggal lagi, dasar. "Kayhan, tunggu! " aku mengejarnya. "Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini, " "Aku akan mengadu sama papa kalau kamu meninggalkanku! " Kayhan terus berjalan santai tanpa menoleh. "Aduh! " aku meringis pura-pura terjatuh. Sekarang tubuhku sudah menempel di lantai, berharap Kayhan akan menoleh. "Aduh! Aku terjatuh, sakit sekali. " rengekku terus berpura-pura. "Auw! Kakiku sepertinya patah, ini sangat sakit. Tolong siapapun yang disini," Kayhan masih terus berjalan tanpa menoleh. "Bokongku terasa remuk, " Kayhan masih tak kunjung menoleh, bahkan untuk menghentikan langkah kakinya pun ia enggan. "Huft, apa dia benar-benar tak peduli padaku? " pikirku. "Tolong.. " aku memelas berharap dia menoleh dan menghampiriku. Walaupun ini hanya pura-pura. Kayhan menyunggingkan senyumnya, "Hais, kutu kupret. " ucapnya pelan. Kayhan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aira. Pria itu menghampiri gadis yang tersungkur di lantai itu. "Ayo, " Kayhan menyodorkan tangannya. "Kayhanku, " ucapku lembut. "Sudah jangan banyak gaya, cepat berdiri dan kita pulang, " ucap Kayhan. "Gendong, " ucapku manja sambil merentangkan kedua tanganku. "Hais, kau ini! " ucapnya kesal. "Cepat berdiri dan kita pulang, atau kau akan kutinggal lagi. " "Aku sepertinya tidak bisa berjalan, kakiku rasanya sakit sekali, " aku terus memancingnya sambil membenarkan rambutku yang tergerai di wajah. "Yang mana yang sakit ha? Kau itu tidak sakit kaki, tetapi sakit otak, " ucapnya menoel keningku. "Ini bener sakit, lho. Gendong, ya." aku mengedip-ngedipkan mataku terus merayunya. "Baiklah, " Kayhan berdiri, aku tersenyum riang di dalam hati akhirnya Kayhan luluh juga. Namun, tak sesuai dugaan. Kayhan berbalik dan berjalan meninggalkanku lagi. "Kayhan, Kayhan! Jangan tinggalin lagi." Sudah cukup pura-pura terjatuhnya, aku berdiri dan mengejar Kayhan yang mengacuhkanku. Aku melompat di tubuh Kayhan dan merengkuh lehernya. "Aira! Apa yang kau lakukan? " Akhirnya aku berhasil di gendong Kayhan. Kayhan terus menggerakan tubuhnya agar aku terlepas. "Hei, jangan seperti itu, nanti aku terbanting," aku merengkuh takut terjatuh. Pria ini benar-benar tak punya hati. Orang-orang yang lewat pun menertawai kami, mereka menahan tawanya karena yang melakukan hal memalukan itu adalah bos mereka. "Kayhan, kita dilihatin orang, " aku menjambak rambutnya agar ia berhenti meronta. Sontak Kayhan langsung terdiam, wajahnya dipenuhi kekesalan. "Kau-" ucapan Kayhan tertahan. Mungkin ia sedang menahan kesal. Tak lama kemudian terdengar hembusan nafas panjang dari Kayhan, dia pun membenarkan posisiku. Dengan terpaksa dia menggendongku menuju mobil demi menjaga martabat dirinya. Aku pun cengengesan di dalam hati, puas mengerjai Kayhan. Dalam perjalanan pulang, Kayhan dan aku terus diam. Kayhan adalah tipe pria yang tidak bisa marah. Marahnya adalah diam. Namun, dia melakukan kesalahan besar, karena wajahnya terlihat begitu tampan saat marah, yang membuatku semakin tergila. "Kau tidak mau bicara padaku? " aku memulai pembicaraan. Kayhan tidak menjawab dan membuang muka. "Baiklah, jangan bicara padaku, aku juga tidak mau bicara padamu. " aku ikut membuang muka. Sebenarnya aku hanya berpura-pura ngambek. Sampai di rumah bahkan ketika beranjak tidur Kayhan masih tidak berbunyi. Aku mengintip dari kasur atas, melihat Kayhan yang sudah meringkuk dengan selimut di kasur bawah. Aku menghembuskan nafas pelan, dan menarik selimut menutupi tubuhku. Rencana tadi malah membuatku semakin jauh dengan Kayhan. Apa aku harus memperkosanya saja? Haha, apakah ini pantas disebut memperkosa? Lalu apa sebutan yang cocok, memperkosa suami sendiri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD