Lia sudah sadarkan diri. Berada dan terbangun di ruangan VVIP dengan fasilitas lengkap cukup membuatnya sedikit nyaman. Saat membuka mata, Lia menemukan Siska ada di sampingnya tengah duduk sambil menggenggam jemarinya. Banyak luka yang di parban, khususnya bagian pipi gadis itu yang sobek karena bekas pukulan pria yang tadi menduduki Lia dan cincin yang di pakai pria itu melukai pipinya. "Kak Lia?" Siska tersenyum penuh syukur saat melihat Lia tersadar. Lia masih belum terlalu sadar karena saat ini ia seolah masih berada di atas awang. Kesadarannya belum terkumpul semuanya. Pandangannya masih mengabur dan tubuhnya serasa sakit semua. Selain bagian atasnya, Lia juga harus merasakan tegang pada pergelangan kakinya. Dari lutut sampai jari kakinya, Lia harus mendapatkan gips karena kereta

