Dua Puluh Sembilan

1801 Words

Aku membukakan pintu ketika mendengar suara mesin mobil Arsen berhenti. Ini seperti kebiasaan yang tak pernah kulakukan dulu, menyambutnya, aku benar-benar merasa sudah menjadi istri sesungguhnya untuknya. Dia masuk ke dalam rumah dengan senyum yang luar biasa mengembang. Mungkin karena beberapa hari terakhir, tidak ada yang membuka perdebatan diantara kami, seolah-olah kami hanya menuruti keinginan satu sama lain secara tidak langsung. menghindari bumerang yang akan terjadi jika salah satu diantara kami membuka mulut. Namun terlepas dari itu semua, aku benar-benar bersyukur ada disini. Dia langsung memeluk pinggangku erat dan memberi kecupan lembut. Kemarin aku hanya mengizinkannya untuk mencium puncak kepalaku, sebelum aku benar-benar kembali membuka diri kepadanya. Sekarang aku lebi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD