Ada saat-saat aku merasakan bahwa Arseno mencintaiku. Misalnya saat aku berjalan berdua dengannya di Mall, maka dia dengan senang hati menggandengku untuk memperjelas kepemilikannya. Dia juga mendumel tidak jelas saat mendapati ada laki-laki yang menatapku lama.
“Pengen kucolok matanya biar kamu nggak diliatin kayak tadi” Tentu saja dia bercanda. Namun yang aku lakukan hanya tertawa dan tanpa malu mencium pipinya agar dia tenang. Dia langsung tertawa dan semakin merapatkan tubuhku padanya, di pelukannya. Kami memang tidak tau malu urusan kencan di tempat umum.
Atau saat dia bermanja-manja di hari sabtu, membuatku tidak bisa keluar rumah dan melakukan bersih-bersih karena dia tidak membiarkanku menjauh lima senti dari dirinya. Saat itu dia akan menghidu aroma dari leherku dan mengatakan “istriku cantik banget” dan kemudian menciuminya sampai-sampai aku lupa daratan.
Sepertinya aku memang kekurangan belaian beberapa waktu ini. Aku terus membayangkan adegan tidak senonohku dengannya. Ini tidak pernah terjadi satu tahun belakangan ini. aku memang merindukannya tapi jarang membayangkan hal yang tidak-tidak. Membuatku merasa kotor sendiri karena fikiranku begitu m***m.
Seperti sekarang saat dia berjalan di sampingku menuju Warung Mak, aku satu langkah di depannya dan berjalan santai di kerumunan orang-orang. Saat melihat deretan ruko dimana Warung Mak salah satunya. Aku berlari kecil dan membuka pintunya yang bertuliskan open. Aku mengerinyit saat melihat begitu banyak orang di lantai satu, kemudian berjalan ke arah tangga menuju lantai dua.
Tidak perlu aku melakukan scanning untuk mencari keberadaan teman-temanku karena tawa mereka sudah terdengar dari tangga. Benar-benar khas, kami selalu melakukan keributan yang bisa mengganggu pengunjung lain jika berkumpul.
“Neng udah datang” Andri berdiri saat melihatku, dia membentangkan tangannya lebar-lebar dan hampir berjalan menuju ke arahku sebelum akhirnya melihat seseorang berada di belakangku. Dia mengerinyitkan dahi. “Lo sama siapa, Neng?”
Aku memang dipanggil Neng oleh Andri karena Sakti orang sunda, dan mereka menganggap hubunganku dengan sakti luar biasa istimewa, akhirnya julukanku di awal-awal “Nengnya Sakti” dan berlanjut sampai sekarang meskipun kami sudah menjelaskan bahwa hubungan kami hanya bersahabat ratusan kali.
“Sini, Sa” Gita menepuk kursi di sebelahnya. Aku tersenyum kecil dan mendekati mereka. Seperti biasa kami berada di meja melingkar di sudut kafe menghadap ke jendela. Sakti ternyata sudah datang, padahal biasanya dia yang paling terlambat datang. Hidup sepuluh tahun di jerman tidak lantas membuat Sakti membuang jam karetnya.
Aku sebenarnya malas melakukan ini. namun akhirnya melakukannya. Tidak enak juga membiarkan Arseno tidak dikenali oleh teman-temanku. Aku berbalik lagi ke arah Arsen dan mengenalkannya pada teman-temanku. “Kenalin ini, suami gue. Arsen”
Poltak atau Tris langsung berdiri dari duduknya. “Suami? Bukannya suami lo Sakti”
Mulutnya kembali tidak bisa dikendalikan.
Mendengar hal tersebut membuat Sakti terbatuk, aku hanya tersenyum menimpalinya. Tidak bisa lagi untuk membantah. Kami memang menjelaskan tapi mereka tidak mau tau dan tetap menggodaiku dan sakti. Akhirnya kami membiarkan saja.
“Gue masih bujang NIHH!” ujar Sakti langsung melempar gulungan tisu batuknya tadi kearah Tris. Membuat semua orang tertawa disana seketika.
“Habis lo berduaan mulu—eh maaf ya suaminya Tsania” Tris membuat wajah seolah-olah tidak enak. Aku mendengus dan tertawa kecil, menyuruh Arsen untuk duduk di sebelah Sakti sedangkan aku duduk diantara Gita dan Riana.
“Maaf ya Sen, mereka emang suka iseng soal gue sama Tsania. Nggak bener kok” aku mendengar sakti menjelaskan kepada Arsen sebelum perhatianku teralihkan pada Mbak Dista, pemilik kafe. Dia datang dengan beberapa makanan di tangannya.
“Loh ada anggota baru?” tanya Mbak Dista saat melihat Arsen.
“Suaminya Tsania, mbak” Timpal Fitri yang sekarang sedang bergelayut manja di lengan pacarnya, Ranu.
Mbak Dista tampak kaget mendengar ucapan Fitri. Dia memandangku setelah meletakkan makanan-makanan itu di meja, “Kamu nggak pernah bilang udah punya suami”
Aku tersenyum masam. Aku juga baru tau ternyata perceraianku digagalkan.
“Gagal deh kita besanan”
Mbak Dista terkekeh pelan, membuat pipiku memanas. Mbak Dista sepupu jauhnya Sakti dan dia adalah orang yang paling berharap keberhasilan hubunganku dengan Sakti. Dia terus menggoda Sakti saat kami makan disini.
Membawa Arsen bisa berdampak dengan olok-olokan yang mereka layangkan kepadaku dengan Sakti. Itu bisa lebih baik, karena mereka mengetahui statusku sesungguhnya. Aku menatap sebentar ke arah Arsen yang sedang tengah menatapku juga. Aku lupa, teman-temanku memang suka bercanda. Namun bagi ukuran orang yang serius sepertiku dan Arsen, bercandaan itu termasuk sudah keterlaluan.
Aku hanya berdoa dia tidak mengambil pusing masalah ini.
Seketika aku tersadar.
Apa yang kuharapkan darinya? Cemburu? Perasaan cemburu tidak mungkin datang dari orang yang tidak mencintai kan? Aku benar-benar bodoh mengharapkan hal seperti itu. candaan seperti ini tidak akan berefek pada seorang Arseno, kalau zulfa yang dijodohkan dengan Sakti mungkin baru akan membuatnya terbakar.
Bodoh. Apa yang sebenarnya kuharapkan?
*
Kami mengobrol hingga tanpa terasa waktu sudah malam. Terlalu banyak minum air membuatku ingin ke toilet. Aku melirik kearah Arsen yang sepertinya sudah nyaman mengobrol dengan Tris, bukan Sakti. Dia seperti menghindari Sakti dari tadi. Aku bukannya tidak memperhatikan, pemandangan itu jelas sekali malahan. Malah Fitri sempat membisikkan padaku bahwa sepertinya Arsen cemburu pada Sakti.
Mereka tidak tau saja, Arsen tidak pernah cemburu. Bahkan saat aku diantar pulang tengah malam dengan rekan kerjaku, dia tidak khawatir sama sekali.
“Mau kemana?” gita memandang aneh kepadaku.
Saat berdiri, aku merasakan pandanganku sedikit mengabur. Ini efek kekenyangan dan tertawa dalam batas abnormal pasti. “Toilet”
“Lipstick lo habis ya? Wajah lo pucat” komentar Gita, aku menimpalinya dengan candaan dan segera berdiri. Aku akan berjalan saat Bimo tiba-tiba menginterupsiku.
“Sa, lo berdarah”
Aku menegang seketika, kemudian tanpa sadar aku membalikkan badan agar mereka tidak bisa melihat percikan darah di celanaku. Aku menoleh ke belakang, meminta Gita dan Riana menutupinya sebentar sampai aku melihat sakti sudah berdiri di depanku. Wajah mereka semua panik.
“Lo nggak apa-apa? Lo pusing? Gue anter ke rumah sakit ya?” ujar Sakti cemas, agak berlebihan.
Riana mengangguk cepat. “Iya Sa, lo ke rumah sakit aja. Terakhir kali lo gini kan—“ ucapannya menggantung saat menyadari kehadiran Arsen.
“Jangan-jangan lo masih kayak dulu lagi” Bimo turut berdiri di depanku. Aku bingung dengan suasana yang tak terkendali. Sakti tiba-tiba melepas jaketnya dan mengikatkannya pada pinggangku. Dia segera menggandeng tanganku untuk keluar.
Aku menghentakkan keras. “Gue lagi mens dan tembus. Kalian kenapa sih?” aku benar-benar tidak tau bagaimana caranya mengatasi situasi ini.
“Lo berdarah lagi, Sa. Jangan bawel deh. Lo ikut kita sekarang—“
Aku menatap mereka dan duduk di tempat duduk. “Udahlah kalian terlalu sayang sama gue, gue tembus gini aja langsung panik” aku menyeruput jus yang ada di depan Riana dengan cepat, mereka masih memandangku.
“Udahlah. Gue nggak apa-apa” ujarku sok tenang. Hatiku ketar ketir melihat temanku seperti ini. pandanganku langsung mengarah pada Arsen yang menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aku berusaha kembali tertawa, dalam lima menit keadaan yang benar-benar tak terkendali tadi sudah berubah kembali menjadi candaan.
Aku sangat bersyukur di dalam hati.
*
Aku tidak bisa menebak ekspresi Arsen saat ini. Kami sudah berada di apartemen. Sakti mengantar kami dan memastikan aku baik-baik saja. baru setelah kami masuk, dia pergi ke apartemennya. Perhatian yang berlebihan memang, tapi aku yakin tidak akan membakar api kecemburuan Arseno. Dia tidak pencemburu, dia hanya tidak suka dengan mata laki-laki yang seolah ingin menelanjangiku.
Aku masuk lebih dulu dan mengambil pakaian ganti. Benar-benar berharap dia tidak akan membahas macam-macam malam ini. apa yang akan kujelaskan? Aku belum siap menceritakan apapun kepadanya.
Selesai mengambil pakaian ganti aku ke kamar mandi dan sedikit mencuci celanaku yang terkena percikan darah. Memang banyak sekali. Di jaket Sakti juga terkena sedikit. Aku menghabiskan hampir setengah jam untuk menghilangkan noda darah itu.
Saat aku keluar, aku mendapati Arsen sedang melakukan sesuatu di dapur. Aku tidak banyak berkomentar dan segera ke balkon, menggantungkan pakaian yang kucuci tadi agar mendapatkan angin, baru besok pagi aku baru benar-benar mencucinya di ruang laundry.
Aku baru akan berbalik saat Arsen berdiri di depanku dengan sebuah mangkuk. Aku menghela nafas dan melirik kearah mangkuk tersebut, sup instan yang masih ada di kulkas.
“Wajah kamu masih pucat, tuh. Dimakan dulu” Aku benar-benar melongo mendengarnya. Arsen jarang sekali menyentuh dapur, jika ada aku, dia akan memintaku untuk memasak. Dia hanya memasak mie instan apabila sedang menonton liga favoritnya hingga tengah malam.
Aku menatap mangkuk itu dan Arsen bergantian. Tidak ada pilihan lain aku duduk di lantai dan mengambil mangkuk tersebut. Perutku memang sedikit lapar. Sepertinya darah yang keluar terlalu banyak hingga menguras oksigen di dalam tubuhku, membuatku lapar.
“Sejak kapan kamu bisa masak?” tanyaku saat Arsen duduk di depanku, mengamatiku yang sedang makan. Kami berada di atas karpet yang biasanya di alas sebelum kasur lipat. Aku hanya mengeluarkan kasur lipat jika akan tidur, dan meletakkannya kembali setelah bangun di lemari.
“Sejak kamu ninggalin aku”
Mataku membesar sepersekian detik kemudian melanjutkan suapanku. “Supnya enak, makasih” ujarku jujur. Aku tidak ingin membahas berbau masa lalu padanya. Jadi biar saja dia mengatakan hal-hal yang diinginkannya.
“Hubungan kamu sama Sakti itu gimana sebenarnya?” Nada Arsen terdengar lirih, matanya masih menatap lurus kearahku.
“Sahabat” jawabku sekenanya, tapi ekspresi Arsen tidak berubah. “Dia yang paling banyak membantuku selama disini. Dia yang paling dekat denganku”
“Dan perasaan kamu?”
Aku diam beberapa saat. Aku tidak mungkin jujur bahwa aku masih mencintai suami yang berniat kutinggalkan bukan? Lagipula memangnya mencintai orang semudah itu, setelah kejadian buruk yang kualami?
Tidak terimakasih.
“Aku nggak ada perasaan apapun sama dia”
“Dia kelihatan sangat khawatir sama kamu”
Aku menghentikan suapanku, sebentar lagi suaraku akan berubah menjadi menjengkelkan. “Dia memang begitu sama semua orang” tidak seperti seseorang yang tidak perhatian.
“Sama kamu beda. Teman-temanmu nggak akan menganggap kalian ada hubungan kalau kalian nggak memperlihatkannya” sepertinya dia mau berdebat.
Aku kesal. “Terserahlah”
Arsen menggenggam tanganku yang akan meraih mangkuk. Membuat hatiku bergetar. Aku menatap mata Arsen, ekspresinya masih sama. Aku tidak pernah melihat Arsen seperti ini, jadi aku tidak memiliki gambaran apapun.
“Jangan bikin aku jadi suami nggak berguna seperti tadi, Sa. Aku memang salah sama kamu hingga kamu meninggalkan aku. Aku berniat memperbaikinya. Tapi aku benar-benar nggak suka melihat kamu diperhatikan sama laki-laki lain lebih daripada aku, seperti tadi” aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.
“Sakti cuma berlebihan. Udahlah sen” aku masih menarik tanganku agar terlepas, tapi Arsen tetap menahannya.
“Apa yang terjadi sama kamu sampai-sampai temanmu begitu khawatir sama kamu. Apa yang pernah terjadi, Sa? Jangan bikin aku seperti orang bodoh disini. Kamu pernah pendarahan? Kenapa?”
Aku tidak lagi berusaha menarik tanganku. “Nggak ada yang pendarahan. Kamu nggak usah berlebihan kayak teman-temanku”
“Apa yang kamu sembunyikan?”
Aku menegang ditempatku. Aku lupa bahwa wajahku sangat mudah ditebak. Tidak mungkin sekarang ekspresiku sangat tenang sekarang. Ada panik bercampur dengan kekhawatiran. Kali ini aku berusaha mengelak dan menarik tanganku yang ada digenggaman Arsen, tapi dia malah semakin menarikku padanya.
“Baik. Kalau ini bisa membuat kamu mau bicara sama aku” detik berikutnya telingaku terasa berdengung saat melihat kepala Arsen begitu dekat denganku. Bibirnya mendarat diatas bibirku dengan sempurna. Sebelum melumatnya pelan. Kepalaku berteriak agar aku segera mendorongnya namun tubuhku bereaksi lain. Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak mengerti saat ini, sampai aku merasakan sendiri bibirku membalas ciumannya.
Detik itu aku sadar bahwa aku masih mencintainya. Aku masih sangat mencintainya dan aku membutuhkannya disisiku. Namun kilasan masa lalu membuat akal sehatku kembali merintih kesakitan. Apa yang harus kujelaskan padanya? Bagaimana caranya memberitahu suamiku ini bahwa janin yang pernah ada diperutku sudah tidak bisa terselamatkan?
Bagaimana cara memberitahunya bahwa aku pernah membunuh anak kami tanpa disengaja?
Otakku benar-benar buntu saat ini.