Dengan uang tabungan yang ia punya. Kevin hanya mampu menyewa rumah kecil untuk ia tinggali bersama Vyora. Vyora tampak mengamati sekeliling rumah.
“Bagaimana? Apa kau suka? Maaf aku hanya mampu menyewa rumah kecil,” ucap Kevin menyesal.
“Ini cukup bagus. Kau tidak perlu khawatir. Aku menyukainya.” Vyora membalasnya dengan senyuman.
Kevin membawa koper masuk ke dalam rumah. Vyora hanya mengikutinya di belakang sambil terus mengamati sekeliling. Ini sudah tiga hari berlalu. Seharusnya hari ini menjadi hari keberangkatannya ke Jerman. Di wajahnya masih ada sedikit penyesalan. Vyora berharap ini menjadi keputusan yang terbaik.
“Ini kamar kita.” Perkataan Kevin membuyarkan lamunan Vyora.
Kevin mengamati gerak-gerik Vyora. Dari tadi Kevin dapat menangkap jika Vyora terus menghembuskan napas berat.
“Ada apa? Apa kau tidak suka kamarnya? Aku janji, nanti saat aku telah mendapatkan pekerjaan. Aku akan menyewa rumah lebih besar dari ini,” ujar Kevin.
Vyora menghampirinya dan memeluknya. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Semenjak aku hidup sebatang kara. Aku sudah terbiasa tinggal di tempat yang lebih kecil dari ini. Justru aku mengkhawatirkanmu. Kau terbiasa hidup mewah. Apa bisa kamu tinggal di tempat seperti ini bersamaku?!”
Mendengar kekhawatiran Vyora. Kevin melepaskan pelukannya. Kevin memegang kedua pundak Vyora dan menatapnya penuh yakin.
“Kenapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja aku bisa. Di mana pun kita tinggal. Jika itu bersamamu. Aku bisa tinggal bahkan di kolom jembatan pun akan aku lakukan jika itu bersamamu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Vyora.” Kevin membawa Vyora dalam pelukannya. Begitu pula dengan Vyora. Vyora terlihat nyaman berada dalam pelukan Kevin.
Keputusan yang diambil Vyora menjadi keputusan sangat besar. Vyora harus merelakan impian terbesarnya demi Kevin. Jika saja orang tuanya tidak meninggal dalam kecelakaan. Mungkin sudah dari lama Vyora dapat mewujudkan impiannya.
Semenjak kematian kedua orang tuanya. Vyora memenuhi hidupnya dari uang pensiun yang ditinggalkan orang tuanya untuknya. Mungkin itu tak seberapa. Tapi itu cukup untuk memenuhi sehari-harinya.
Beruntung Vyora tumbuh menjadi wanita yang cerdas. Karena prestasinya ia selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya. Namun, saat ia ingin kuliah. Vyora harus menunggu dua tahun untuk mendapatkan beasiswa. Saat impiannya telah berada di depannya. Ia melepaskannya begitu saja.
“Vyora, terima kasih kau sudah memilihku. Aku tidak pernah menyangka kau melepaskan impian terbesarmu demi hidup bersama denganku,” ujar Kevin.
“Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya memilikimu di hidupku. Tentu saja aku lebih memilihmu. Untuk apa aku mendapatkan impianku tapi harus kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kevin.”
“Apa kau pernah menyesali keputusanmu? Sedikit ... saja.”
Kalau dibilang menyesal. Vyora pasti menyesal. Bohong jika ia berkata tidak menyesal. Namun, tak ingin Kevin sedih. Vyora harus membohonginya.
Vyora menggeleng dalam pelukannya. “Tidak.”
“Untunglah, kalau tidak, sampai kapan pun aku akan merasa bersalah padamu.”
*****
“Pa, Papa!”
Anak laki-laki yang sedang bermain mainan susun harus menghentikan permainannya saat tak juga mendapatkan respons dari ayahnya.
“Papa Axel!” seru anak kecil itu.
“Ya, sayang.” Pria yang di panggil Axel oleh anak kecil itu akhirnya meresponsnya.
“Dari tadi Isaac terus memanggil, Papa. Tapi papa Axel hanya diam saja. Apa papa Axel tidak sayang lagi dengan Isaac,” ujar Isaac Maverick yang menyandang nama belakang keluarga Axel.
Isaac seorang anak kecil yang baru menginjak usia lima tahun. Namun, anak kecil itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Meskipun ia hanya seorang anak kecil. Tapi ia mampu melihat situasi sekitarnya.
Isaac tampak telah berkaca-kaca memandang Axel. Tak mendapatkan respons darinya membuat anak kecil itu tersinggung. Dengan gemas Axel mengacak-acak rambutnya. Isaac tampak kesal saat Axel memperlakukannya seperti anak kecil.
“Maaf, sayang. Papa tidak mendengarmu. Ada apa? Apa kau membutuhkan bantuan Papa untuk menyusun rumah.” Axel menatap mainan yang tersebar di ruang kerjanya. Mendengar Axel yang seperti meremehkannya. Isaac bersedekap tangan dan menatapnya.
“Isaac tidak membutuhkan bantuan, Papa. Isaac bisa membuatnya sendiri.”
“Baiklah, lalu apa yang kau inginkan dari Papa?” Axel harus bersabar dengan putranya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kadang Axel merasa takut. Putranya tumbuh lebih cepat tak sesuai dengan usianya.
“Isaac sudah bosan bermain. Isaac mengantuk. Isaac ingin tidur siang,” ujar putranya hampir menangis.
Axel menatap arlojinya. Benar saja ini sudah waktunya Isaac tidur siang. Axel yang dari tadi melamun membuatnya melupakannya.
“Sebelum kau tidur siang, kembalikan dulu mainanmu ke dalam tempatnya. Bukankah Papa sudah bilang. Jika Isaac yang membuatnya berantakan. Maka Isaac yang harus bertanggung jawab,” ujar Axel mengingatkan.
Seperti orang dewasa yang mengerti. Isaac hanya mengangguk dan segera berlari untuk membersihkan mainannya. Isaac menata kembali mainannya sesuai dengan tempatnya. Tak lama anak kecil itu kembali mendekati Axel.
“Sudah, Papa.”
Axel menatap hasil tatanan Isaac. Benar-benar bersih seperti sedia kala.
“Anak pintar,” ujar Alex sambil mengelus Isaac dengan sayang.
“Baiklah, kalau begitu papa panggilkan Tante Dona—“
Sebelum menyelesaikan ucapannya. Putranya memotongnya begitu saja.
“Tidak, Isaac tidak mau dengannya. Isaac ingin tidur siang dengan Papa.”
Axel tahu tak akan bisa menolak putranya. Axel selalu memanjakannya. Karena itu Isaac terbiasa mendapatkan apa pun sesuai keinginannya.
“Baiklah, ayo!” Axel membawa putranya dalam gendongannya. Ia membawa Isaac menuju kamar yang berada di ruangannya. Di dalam ruang kerjanya sengaja di desain dengan satu kamar. Axel yang sangat sibuk. Jika ia lelah, Axel bisa beristirahat.
“Sekarang, tidurlah!” Axel menutupi tubuh mungil putranya dengan selimut. Axel menunggunya hingga Isaac memejamkan matanya. Axel tersenyum menatap kedamaian di wajah Isaac. Axel mencium keningnya dengan sayang sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Saat Axel menutup pintu kamar. Bersamaan dengan Dona sekretarisnya memasuki ruangannya.
“Maaf, pak. Saya masuk begitu saja. Dari tadi saya memanggil ba—“
Dona yang terus berbicara tanpa henti. Tak ingin putranya terganggu dari tidur siangnya. Axel memberikan aba-aba padanya dengan menaruh satu jari telunjuknya di bibirnya. Dona yang mengerti dengan maksud Axel langsung memelankan suaranya.
“Ada apa?” tanya Axel setelah terduduk di kursi kerjanya.
Dona memberikan berkas pada Axel. “Ada beberapa berkas yang perlu bapak tanda tangani.”
Setelah membacanya singkat. Axel memberikan tanda tangan pada berkas yang di bawa sekretarisnya.
“Terima kasih, kalau begitu, saya permisi dulu.”
Setelah kepergian sekretarisnya. Axel kembali melamun.
“Apa kau sudah pergi ke Jerman?!”
*****
Kehidupan pernikahannya yang baru seumur jagung. Vyora terlihat menikmati perannya sebagai istri Kevin. Hari ini Kevin yang akan mencari pekerjaan. Vyora sengaja bangun pagi sekali untuk memasak.
Tiba-tiba Kevin memeluknya dari belakang. Wangi sabun mandi tercium jelas dari tubuh Kevin. Vyora tampak tersenyum bahagia menatap sang suami dengan setelan kerjanya.
“Kau sudah bersiap?!” ujarnya pada Kevin.
Masih memeluknya dari belakang. “Em.”
“Duduklah, kau harus sarapan terlebih dulu.”
Kevin dan Vyora untuk pertama kalinya melakukan sarapan bersama dengan statusnya yang berbeda. Vyora terlihat melayani Kevin dengan baik. Ia memberikan nasi di atas piring milik Kevin sebelum ke piringnya.
“Maaf, kita harus berhemat hingga kamu mendapatkan pekerjaan baru. Aku hanya bisa masak seadanya,” ucap Vyora.
“Tidak apa, sayang. Aku janji akan segera mendapatkan pekerjaan agar bisa memenuhi kebutuhan kita nanti.”
Setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Kevin terlihat menatap arlojinya. Kevin beranjak dari kursinya dan meminum air yang telah disiapkan Vyora untuknya.
“Aku harus pergi. Tidak baik menunda-nunda. Bukankah rezeki akan mudah dicari di pagi hari.”
Vyora mendekati suaminya. Sebelum kepergian Kevin. Vyora merapikan dasi milik Kevin. Kevin tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari istrinya. Dari dulu ini yang diinginkan Kevin.
“Aku berangkat dulu,” pamit Kevin.
“Em.” Vyora mencium tangan Kevin. “Hati-hati.”
“Doakan aku agar segera mendapatkan pekerjaan,” ucap Kevin.
“Tentu, doaku selalu menyertaimu.”
Kevin mencium kening istrinya dengan begitu lama. Setelah puas menciumnya. Kevin pamit pergi.
*****
Sekarang bukan hanya ada dirinya. Dengan uang pensiun peninggalan orang tuanya. Tidak mungkin cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Harus menyewa rumah yang lebih besar dari sebelumnya. Banyak pengeluaran yang harus ia keluarkan. Mengandalkan uang tabungan Kevin pun ia tak yakin itu akan cukup.
Dengan sisa uang pensiun di bulan ini. Untuk membantu agar ada masukkan uang. Vyora sengaja membuat kue yang dulu pernah diajarkan almarhum ibunya. Ia akan menitipkan kue-kuenya di warung terdekat.
“Akhirnya jadi juga. Tidak sia-sia aku dulu pernah belajar membuat kue dengan mama.” Vyora yang awalnya tersenyum menatap kue-kue cantiknya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi murung.
“Aku merindukan kalian,” ujarnya.
Sudah bertahun-tahun lamanya semenjak kepergian kedua orang tuanya. Saat mengingatnya. Tiba-tiba Vyora merindukan kehadirannya.
“Tidak, aku tidak boleh sedih. Kalian sudah bahagia di sana.” Tangannya yang kotor. Vyora mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
*****
Seusai menitipkan kuenya di warung. Vyora menghabiskan waktunya di pasar. Ia sengaja mampir ke pasar untuk memenuhi kebutuhannya besok. Setelah selesai berbelanja. Vyora terlihat berdiri di dekat trotoar untuk menunggu angkot.
Tanpa ia sadari di kejauhan terdapat mobil mewah yang melewatinya. Seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Pria itu menghentikan mobilnya.
“Pak, berhenti.”
“Ada apa, Tuan?” Tuannya yang tiba-tiba ingin menghentikan mobilnya membuat sopir itu bingung.
“Aku bilang berhenti,” tandasnya.
Sopir itu segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Dengan tergesa-gesa tuannya keluar dari mobil.
“Apa benar itu kamu, Vyora?!”
Saat ia menatapnya. Vyora telah masuk ke dalam angkot. Ia tak yakin orang yang dilihatnya itu Vyora.