Seperti biasa, ketika guru tidak hadir, kami semua pasti berkumpul di meja Tito untuk mengobrol atau hanya sekedar duduk-duduk saja, meskipun Tito sang pemilik kursi sedang menjalani hukuman skors.
"Katanya, si Jacob dihukum cuci WC ya pulang nanti?" Tanya Ratna dengan wajah berseri-seri.
"Serius?!" Tanyaku kaget. Tanpa sadar badanku sampai condong ke depan sanking terkejutnya.
"Buset dah! Biasa saja kali neng kagetnya!" Tegur Reno setengah tertawa dengan mimic heran.
"Hehe.. tidak, kok.." Aku menyeringai salah tingkah. Bodoh sekali aku. Jika sampai teman-teman menyadari bahwa aku menaruh perhatian pada Jacob, apa yang akan mereka pikirkan nanti? Sebisa mungkin aku harus menjaga sikap agar tidak mencurigakan.
"Lagi pula ya.. Berani-beraninya di Jacob mencari masalah dengan Ms. Tuti. Ya pasti habis dihukum lah anak itu.. Hahaa.." Tambah Kevin.
"Tapi kalau dipikir-pikir, karena masih baru, Jacob kan tidak tau sifat Ms. Tuti seperti apa, Vin. Tapi memang sih.. Anak itu memang kurang ajar juga. Kalu aku jadi Ms.Tuti pasti juga akan sangat kesal padanya." Sahut Ratna sambil menggeleng heran.
"Yang aku bingung, Untuk apa dia tidur di gudang? Apa bagusnya di dalam sana? Dibanding kandang sapi saja bagusan gudangnya." Celoteh Reno dengan lawakannya yang tidak pernah lucu. Dan tentu saja kami tidak menggubris sama sekali.
"Jangan-jangan dia melakukan pesugihan?! Atau dia itu psikopat yang sedang merencanakan pembunuhan!" Kata Marcel, menampilkan ekspresi horor.
"Yang benar saja, Sel?! Itu sih kau yang kebanyakan nonton film.. Heehh..!" Dengus Kevin, malas.
"Sudahlah! Kok anak itu jadi sangat terkenal begitu? Sampai-sampai dia jadi bahan obrolan kita? Pokoknya intinya itu, Jacob adalah anak freak alias aneh. Titik." Ujar Daniel untuk menyudahi obrolan kami mengenai Jacob, diikuti dengan anggukan setuju yang lainnya. Sepertinya dari semuanya yang paling kesal dengan Jacob itu adalah Daniel. Karna dialah yang cukup dekat dengan Tito. Dahulu, Tito pernah banyak membantu Daniel.
Tapi yang benar saja! Freak? Apakah tidak terlalu kejam untuk langsung melebeli seseorang seperti itu?
Namun bagaimana pun, aku hanya bisa diam dan ikut tertawa. Inilah diriku.
***
Brak! Brugh! Brak! Suara gaduh seperti barang-barang yang terbentur dan terbanting terdengar jelas dari rumah sebelah yang sepertinya telah dihuni oleh tetangga baru kami.
Sore tadi, saat pulang sekolah, aku melihat tetangga baru samping rumahku sedang berdiri di depan rumah mereka. Sibuk memindahkan barang-barangnya yang sebagian besar sudah ada di dalam.
Mereka adalah sepasang suami istri yang kelihatannya berumur sepantaran papa dan mama.
Aku ingat ketika melewati mereka tadi, dan tidak sengaja beradu pandang. Aku tersenyum dan mengangguk sopan, namun ternyata, mereka hanya tersenyum miring tidak ikhlas dan membuang muka. Mata mereka juga nampak sinis padaku. Di saat itu aku menyadari, mereka bukanlah tetangga yang baik, yang akan berbagi makanan di hari-hari besar atau membantu melihat-lihat keadaan rumah kami ketika rumah kami kosong karena kami pergi berlibur.
Mungkin sebaiknya aku tidak memikirkan atau memperdulikan mereka. Toh, sebagai manusia kita tidak boleh asal menilai orang lain hanya dari momen pertama kali bertemu.
Siapa yang tau jika saat itu mereka sudah kelelahan, sampai-sampai kehabisan mood untuk bertegur sapa dengan orang lain?
"Dek, kau lihat ponsel kakak tidak?" Tanya kak Hilman yang sudah berdiri di belakang sofa kulit tempat aku duduk santai.
"Hem.. Sepertinya tidak, kak." Jawabku setelah berusaha mengingat-ingat.
"Dimana ya?" Gumam kak Hilman sendiri.
Aku mengangkat bahu lalu lanjut menonton acara TV.
Brak! Bruk! Prang! Suara gaduh dari rumah sebelah kembali terdengar, namun sekarang malah terdengar seakan ada orang yang berkelahi di sebelah.
"Gila kali ya itu tetangga baru?! Berisik sekali dari tadi!" Oceh kak Hilman.
"Ya.. namanya juga orang sedang pindahan, pasti beres-beres lah kak.."
"Beres-beres sih beres-beres. Masa sampai seribut itu? Sepertinya tetangga lain yang baru pindahan tidak pernah tuh, ada yang sampai seribut mereka." Jawabnya sambil bertolak pinggang.
Aku mengangkat bahuku lagi "Kakak masih mau nonton tidak?" Tanyaku.
"Tidak." Jawab kak Hilman sambil berjalan menuju tangga.
“Oke.” Sahutku sebelum mengambil remot TV lalu mematikannya. Lalu aku berjalan ke dapur, mengambil gelas kuning besar bergambar jerapah dari rak piring dan mengisinya dengan air hangat hingga penuh.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam, tapi aku memutuskan untuk membaca novel di kamar hingga jam tidur nanti.
***
‘Nadine membaca surat lusuh itu. Surat yang ditulis dengan sisa nyawa Hans. Nadine meraba setiap kata yang bergelombang dengan kedua ujung jari lembutnya, ia dapat merasakan perjuangan dan rasa sakit di setiap guratan tinta itu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir merahnya, hanya air mata sebening kristal mengalir deras bersama cintanya yang telah pergi. "
Aku mengusap air mata yang sudah menggenangi kedua mataku. Cerita ini sungguh menyedihkan. Tidak kusangka akhirnya akan tragis seperti ini.
Aku menghela nafas lalu melempar ringan novel bersampul abu-abu itu ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Ya, setidaknya cerita itu sudah k****a hingga tamat. Tidak aku sangka keributan tetangga sebelah tidak terdengar di kamarku. Semoga suara mereka terdengar hingga ke kamar kak Hilman.. Hehe..
Tapi aneh juga sih.. Biasanya, kucing berkelahi di samping saja terdengar jelas di dalam kamarku. Sepertinya ruang yang menempel dengan tembok kamarku ini dijadikan gudang atau sebagainya. Ah.. Untuk apa aku perduli?
Sekarang, saatnya membaca novel lain yang sudah menunggu gilirannya.
***
Suara siulan. Ya, benar. Ini suara siulan. Siapa yang bersiul? Dari mana asalnya?
"Kalian mau kemana?! Tunggu aku!" Aku meneriaki teman-teman yang berlari meninggalkanku sendirian.
Sebelumnya kami sedang asik bermain di pasar malam ini. Namun lampu-lampu dan keramaian orang-orang menghalangi pandanganku.
Aku kehilangan mereka. Suara musik dan kegaduhan pasar ini lama-lama tertelan oleh suara siulan.
"Mirna! Kevin! Tito!" Teriakku lagi.
Tiba-tiba aku bisa merasakan hawa dingin menusuk kulit dan dadaku. Jemari dan telapak kaki yang sudah mati rasa yang kemungkinan membuatku terbangun.
Benar saja, selimutku sudah terjatuh ke lantai. Pantas saja aku kedinginan sampai seperti ini.
Aku mengusap kedua mataku dan melihat jam berbentuk nanas yang menggantung manis di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul satu pagi.
Ah.. lebih baik aku segera tidur lagi sebelum keburu menjadi segar dan akhirnya tidak bisa tidur kembali.
Kutarik selimut yang terjatuh, tidak lupa mengibasnya pelan siapa tau ada serangga yang menyangkut di sana. Lalu segera mengenakannya sampai menutup dagu sambil berbaring.
Namun aku sadar, suara siulan tadi bukanlah hanya sebatas mimpi. Suara siulan itu tetap mengalun entah dari mana.
Tubuhku langsung kaku dengan kedua mata yang terbuka lebar dan jantung berdegup dengan keras.
Siapa yang bersiul subuh-subuh begini? Kakak? Tidak mungkin! Di rumah ini, tidak pernah ada sejarah ada yang hobi bersiul. Mengerikan.
Namun siulan itu terus mengalun merdu, bahkan ketika aku sudah membaca bait-bait doa untuk mengusir hantu itu.
Masih dengan otot kaku dan posisi tubuh yang tidak berubah sedikit pun, aku mulai menyimak nada siulan itu. Entah mengapa, nadanya tidak asing. Nada yang sepertinya pernah aku dengar. Entah dimana, entah kapan. Tapi sungguh pernah kudengar.
Jika hantu, tidak mungkin ia bersiul selama ini dan jika didengar dengan seksama, siulan ini seperti siulan manusia pada umumnya namun sudah berada dalam level tinggi karena terdengar merdu.
Saat otot-ototku mulai rileks, akhirnya aku memberanikan diri untuk duduk dan mencari sumber siulan tersebut.
Bukan dari pintu, bukan dari jendela, bukan dari dalam lemari, tas, laptop, atau pun ponselku. Tapi semakin aku melangkah menjauh dari tempat tidur, semakin kecil suara siulan itu.
Aneh, berhubung tempat tidurku tidak menggunakan ranjang, jadi tidak ada kolong kasur yang harus aku cek atau curigai atau.. takuti.
Lalu dari mana asal suara itu?
Aku kembali duduk di atas tempat tidur. Suara siulannya terdengar jelas di telinga kananku. Hal itu membuat aku tersadar, bahwa sumber siulan itu tidak lain adalah dari rumah sebelah.
Segera aku tempelkan telinga kananku ke tembok kamar yang bercat hijau tosca. Terdengar jelas melodi-melodi siulan yang mengalun merdu.
Ternyata tetangga sebelah yang bersiul. Untuk apa dia bersiul subuh-subuh begini? Aneh juga, pikirku sambil meringis.
Sepertinya tetangga baruku tidak bisa tidur di rumah barunya. Ya, jika didengar-dengar, siulannya boleh juga.
Rasanya ingin sekali aku mengetuk tembok kamar, sehingga tetangga baruku itu mendengarnya. Mungkin dia akan membalas mengetuk temboknya, atau bahkan menyadari aku terganggu atas aktivitasnya itu. Tapi tentu saja tidak akan aku lakukan.
***
"HOOAAMM!!" Aku menguap dengan lebar dan panjang. Karena siulan tetangga baru semalam, aku jadi tidak bisa tiur. Alhasil sekarang aku jadi kurang tidur. Bahkan kalau diingat, semalam aku tertidur di dalam suara siulannya yang merdu itu, sampai-sampai siulan itu masuk ke dalam mimpiku.
"Kau baca novel sampai larut lagi ya, Han?" Tuduh mama dengan alis berkerut.
"Tidak kok, ma. Jam satu subuh tetangga sebelah terus bersiul, dia membuat aku terbangun." Jawabku sambil mencium pipi mama, sebagai tradisi kami ketika akan berangkat ke sekolah atau pergi keluar.
"Hati-hati ya, sayang." Kata mama sambil membelai rambutku yang tergerai.
Aku tersenyum dan melambai singkat pada mama, mengambil ransel dari atas kursi, lalu berjalan ke luar pintu rumah.
Hari ini, kak Hilman berangkat lebih pagi dari biasanya, katanya dia harus ikut mempersiapkan keperluan PENSI sekolahnya. Atau.. berusaha mencari kesempatan mendekati siswi anggota OSIS juniornya.
Tapi, apa perduli ku? Setidaknya aku bisa berangkat dengan tenang pagi ini tanpa gangguannya.
Setelah membuka gembok pagar yang hampir berkarat, aku memasukkan kunci serep ke dalam kantung kecil di dalan tas. Lalu segera membuka pagar dan keluar.
Setelah menutup pagar yang lumayan berat, aku mulai melangkah pergi. Melewati rumah sebelah yang sudah tidak lagi kosong. Terdapat mobil sedan berwarna biru gelap terparkir di dalam teras rumah itu. Tanpa sadar, aku telah memperlambat langkah dan sibuk mengamati isi teras dari rumah yang berpagar pendek tersebut.
Ternyata rumah tetangga baruku itu masih lumayan berantakan. Terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan, hanya barang-barang yang tertumpuk tidak rapih.
Sepertinya rumah itu hanya dihuni oleh sepasang suami istri kemarin. Sedikit sekali sendal atau sepatu yang ada di depan pintu yang tertutup rapat.
Tiba-tiba pintu depan kayu itu terbuka dengan cepat dan keras hingga membuatku nyaris melompat kaget.
Entah apa masalah orang yang membukanya hingga mengeluarkan tenaga sebegitu besar hanya untuk mendorong pintu yang tidak bersalah.
Seorang pemuda dengan seragam putih abu-abu berdiri di ambang pintu itu.
Aku tersentak lebih kaget lagi, lalu termenung memandang wajah si pemuda.
Bukan karena ketampanannya, bukan karena ia artis atau penyanyi, bukan kerena ia buruk rupa, bukan kerena ia alien.
"J.. Jacob?!" Gumamku dengan mata terbelalak.