Bab. 13 Menang dan Kalah

3605 Words
      Sebelum kita pulang ke Indonesia, kita masih ingin menikmati perjalanan di Australia. Masih ingin menikmati apa yang ada di Australia selama masih berada di sini. Kata Ryan, kita tidak akan pernah tahu atau menebak kapan waktu yang lain atau kesempatan kedua untuk menikmatinya kembali. Kesempatan yang ada, itu jangan pernah disia-siakan. Hargai waktu yang dimiliki. Ciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri dengan apa yang yang ada di depan mata. Mau hal kecil atau pun hal besar dan jangan mencari apa yang tidak ada, yang sulit untuk ditemukan. Jangan mencari yang menyulitkan diri sendiri hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Manusia itu harus peka pada sekitarnya.        Saya itu ingat Mamah dulu itu mendidik saya bagaimana. "Kamu kuliah itu yang benar di sana, setelah kamu lulus kuliah, kamu harus langsung kerja pokoknya. Kamu mesti bisa kerja, mesti bisa cari uang yang banyak, jangan berleha-leha, yang ada nanti kamu bakal ketinggalan sama orang lain. Orang lain udah sukses duluan kamu malah masih merintis." Begitu yang pernah Mamah katakan kepada saya. "Kalian bisa aja Mama manjakan terus-terusan, tetapi kalian juga harus bisa mandiri. Kalian harus pasti bisa cari duit untuk diri kalian sendiri juga, yang enak juga kalian. Kita nggak pernah tahu kehidupan kita itu bagaimana, pokoknya kalian itu mesti bisa bekerja, bisa berdikari sendiri, cari uang sendiri. Jangan sampai kalian hidup susah. Mama enggak mau melihat anak-anak Mama itu hidup susah. Makanya kalian ini Mama tekankan, ya, jangan terlalu kebanyakan santai nanti yang ada kalian ke balap sama orang lain. Hidup itu seperti perlombaan, siapa yang cepat dialah yang menang. Kalian harus bisa jadi pemenangnya, jangan jadi yang terbelakang, dan jangan jadi pecundang." Karena itu saya sangat berambisi untuk memenuhi kebutuhan hidup. ibarat kata karena tanpa bantuan dari orang tua saya, saya harus memulai semuanya itu dari nol. Saya sudah pernah yang namanya merasakan hidup susah. Dan saya yang selalu menjadi yang terbelakang daripada saudara-saudara saya sendiri. Apalagi saya tidak pernah diutamakan. Saya harus masuk sekolah pun juga terlambat di usia yang tidak sama seperti teman-teman saya sehingga saya harus mengambil paket. Ditambah lagi kekurangan pada fisik saya. Saudara-saudara saya diboyong ke pulau Jawa sedangkan saya hanya ditinggalkan oleh seorang Oma, yang susah payah merawat saya tetapi ketika keluarga saya sukses oma malah ditinggalkan di sana. Saya ingin menjenguk Oma di Manado tetapi saya harus memenuhi kewajiban saya dulu. Mama saya terus memaksa saya untuk tetap menyibukkan diri saya pada perkuliahan dan beliau tidak mengizinkan saya untuk pergi ke mana pun yang bukan tidak ada urusannya dengan apa yang harus saya kerjakan. Saya tidak pernah mengenal yang namanya berleha-leha. Saya mesti selalu bekerja untuk membuktikan kepada kedua orang tua saya. Saya berbeda seperti Kak Shena yang dimanjakan oleh mamah. Dan saya tidak mau memusingkan bagaimana mama memanjakan Kak Shena dan membedakan saya dengan dia atau pun dengan saudara-saudara yang lainnya. Saya hanya ingin fokus pada tujuan hidup saya saja.        Namun kedatangan Ryan ini membawa hal yang berbeda membawa warna baru di hidup saya. Laki-laki yang memiliki paras sekilas mirip seperti Hamish Daud ini mengajarkan saya untuk hidup santai dan menikmati setiap detiknya. Keluar dari mobil Dia berkata kepada saya. "Kalau kita punya uang yang cukup, apa salahnya dinikmati?"       Dia mengajarkan saya hal lain. Hidup itu bukanlah sebuah perlombaan, bukan juga ajang cepat-cepatan untuk pada siapa yang menang atau pun siapa yang kalah. Garis start dan finishnya seseorang itu berbeda-beda dan tidak bisa disamakan. Mau dijadikan standar yang mana sebenarnya untuk harus diikuti itu tidak ada. Hidup dalam versi diri sendiri yang menentukan itu lebih baik daripada harus hidup dalam versi orang lain.       Untuk itulah kenapa saya bisa berada di tempat unik yang ada di Australia. Salah satunya kita pergi ke tempat Spirit Of The Red Sands yang ada di Australia. Spirit Of The Red Sands ini adalah sebuaj tempat restoran yang tidak hanya menyuguhkan hidangan-hidangan makanan saja, tetapi lengkap dengan budaya yang diperlihatkan sehingga tak heran, saat saya datang ke sini, banyak sekali orang yang berdatangan ke tempat ini hanya untuk menonton teater interaktif yang menceritakan tentang sejarah pengalaman dari keluarga aborigin Australia menghadapi kolonial dalam masa penjajahan. Terdapat juga adanya pertunjukan budaya mereka yang dapat dinikmati oleh para penonton sebagai ilmu wawasan yang mendidik anak-anak dan orang dewasa untuk lebih mengenal kehidupan pribumi Australia. Seluruh cerita yang disuguhkan pada kami benar-benar menantang emosional bahkan saya sendiri seolah dilempar ke masa kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu di Australia.       Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari sejarah aborigin dengan budayanya yang masih tetap dipertahankan. Ditambah lagi pemain-pemain di teater tersebut dapat memainkan perannya dengan baik sehingga bisa membawa para penonton masuk ke dalam suasana ceritanya. Saya sangat tertarik bagaimana pendongeng menceritakan setiap adegan dan di sini kami dibawa ke set setiap adegan yang berbeda-beda. Saya dapat melihat bentukan bangunan gereja lalu ada Desa aborigin di Beenleigh, sebuah kota yang diperlihatkan suasananya sesuai pada abad ke-19.        Mereka telah berhasil membuat semua orang terpana. Menyaksikan pesan dari sejarah yang ingin disampaikan di dalam teater interaktif dan itu bisa dipahami oleh banyak orang karena itu akan menjadi literasi untuk mendidik banyak orang supaya bisa lebih mengetahui dan lebih membuka kacamata untuk mengingat sejarah yang ada, yang sudah ada pada masa para leluhur. Sebuah informatif yang sangat penting untuk membuka wawasan lebih luas lagi terlebih, bagian yang menarik sekali buat saya adalah saya sangat menyukai tarian dan bahasa mereka yang begitu unik di dengar. Di akhir acara kita menikmati makanan prasmanan kita bisa makan bersama dengan pengunjung yang lain ya orang-orang baru yang saya temui. Makanan yang tersedia juga ada yang berbentuk sate dari daging kanguru. Saya tidak pernah makan daging ini selama saya tinggal di Australia tetapi ketika saya berada di sini, saya benar-benar tergiur untuk mencobanya.       Ryan sudah memberikan pengalaman yang tidak pernah saya dapatkan di tempat manapun. Malam itu begitu sangat berkesan buat saya. Mengingat selama ini saya selalu berambisi dalam pekerjaan saya sehingga saya selalu mengabaikan hal-hal yang ada di sekitar saya, ada banyak tempat yang seharusnya bisa saya kunjungi namun saya membatasi diri saya sendiri dengan waktu pekerjaan saya.        Betapa menakjubkannya malam itu ketika melihat sejarah kehidupan pribumi aborigin Australia yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain selain hanya di Spirit Of The Red Sands.       "Kamu seharusnya bisa mengambil nafas di tengah kesibukan kamu, kehidupan kamu bukan hanya untuk pekerjaan saja. Bukan, Nay, tetapi ada hal lain juga yang seharusnya bisa kamu nikmati bahkan lebih dari sekedar materi Nayla," ujar Ryan menasihati saya akan kesalahan saya dalam memaknai kehidupan saya.        Mama saya selalu mengatakan kepada saya dan kepada anak-anaknya untuk bekerja keras selama Tuhan masih memberikan manusia itu nafas dan jangan pernah berhenti hanya di satu titik saja bila sudah merasa berhasil di titik yang bisa dikuasai. Jangan memanjakan tubuh untuk berleha-leha karena kemiskinan tidak pernah ada yang bisa menebaknya kapan akan datang. Mama saya dan papa saya takut anak-anaknya hidup dalam kesusahan seperti bagaimana yang pernah kami rasakan saat dulu. Mereka tidak ingin anak-anaknya merasakan dunia yang kejam seperti itu, yang segalanya terbatasi karena tidak memiliki materi yang cukup, karena itu saya pun juga bekerja keras untuk diri saya sendiri karena saya sudah tak mau merepotkan kedua orang tua saya lagi, saya tidak ingin membebankan kedua orang tua saya lagi, meskipun tanpa saya minta, mereka akan memberikan apa yang saya mau, apa yang saya inginkan dan akan mereka wujudkan tetapi setelah memang itu pun kalau tak kunjung anak-anaknya tidak sukses juga dengan kerja kerasnya.       Namun, walau begitu saya tidak mau selalu bergantung dengan kedua orang tua saya tetapi. Kelihatannya memang saya dan sekeluarga takut akan kemiskinan. Takut akan kehidupan kita kembali berbalik 360 derajat ke bawah. Tetapi berjaga-jaga ibarat kata itu tidak ada salahnya bukan? Ya walau kembali lagi balik lagi nasib itu sudah Tuhan juga yang menentukan.       Selama saya selalu bekerja saya selalu melupakan hal-hal yang dapat saya nikmati seperti halnya ketika saya berada bersama dengan Ryan, menonton sejarahah yang dipertunjukkan Spirit Of The Sands. Di sini ramai banyak orang yang menikmati makan malam prasmanannya. Mereka duduk bersukacita bersama dengan anggur menjadikan tanda kemenangan untuk diri sendiri dapat menikmati hidup. Manusia itu bukan robot yang terus bekerja dan bergerak kaku. Tapi manusia juga perlu beristirahat, rasakan apa yang sudah ada pada keadaan kita dan dengan jangan selalu memaksakannya untuk tetap baik-baik saja. "Kamu selalu begitu Nayla. Selalu mengabaikan perasaan kamu padahal seharusnya nggak begitu, kamu harusnya menikmati apa yang sudah ada pada keadaan kamu itu, jangan kamu alihkan ke hal yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah tipuan saja. Diri kamu perlu kejujuran dan bukan yang namanya berusaha untuk terus bergerak padahal kamu sedang lelah-lelahnya."       Awalnya saya memikirkan apa yang dikatakan Ryan itu sebenarnya tidaklah salah juga, dia benar terbukti saya benar-benar merasa diri saya bisa fresh. Bisa menikmati pagi hari saya setelah beristirahat di Hunter Valley kemudian saya bersama dengan Ryan menaiki ballon aloft dengan ketinggian 2000 kaki di udara. Betapa indahnya dari atas sini saya melihat seluruh penjuru Australia, dengan yang paling dekat bisa saya lihat adalah pemandangan kebun-kebun anggur yang terhampar luas di bawah sana.        "Aku ingin kamu menikmati setiap detik kamu dengan apa yang ada di sekitar kamu Nay, bukan cuma tentang soal pekerjaan tapi, hidup ini juga bukan cuma tentang soal materi aja, tapi ada yang lebih indah dari itu semua. Menikmati apa yang sudah Tuhan sediakan untuk manusia." Dipeluknya diri saya oleh Ryan di atas udara, begitu romantis naik balon udara panas dan menikmati pemandangan bersama dengan orang terkasih. Ryan mengajarkan saya untuk jangan terburu-buru, semua itu dijalani dengan pelan-pelan saja, di nikmati prosesnya, di nikmati apa yang ada di sekitar kita tanpa mengabaikannya.        "Apa yang membuat kamu bahagia? Yang paling benar-benar bisa kamu nikmati selain kamu suka traveler?" tanya saya menatap dia sungguh-sungguh. Rian memang suka sekali bertraveling ke tempat-tempat yang belum pernah dia kunjungi karena dia suka bertemu dengan banyak orang, juga ke tempat-tempat yang baru. Itu akan memberikan pengalaman yang luar biasa baginya yang tidak pernah dia dapatkan dan di setiap tempat, akan memberikan hal yang sangat berkesan baginya.       "Keluarga," jawab dia kemudian menatap saya lalu menatap kembali ke depan sana. "waktu yang paling berharga yang bisa kita nikmati itu adalah ketika kita bersama dengan keluarga menghabiskan waktu bersama dengan keluarga gak ada hal yang lebih penting daripada keluarga kita sendiri," ujar dia benar-benar kelihatan sekali kalau Ryan itu orangnya family banget. Pasti keluarga dia itu harmonis. Dia berasal dari keluarga yang benar-benar positif dan juga memberikan dia semangat yang sulit untuk saya katakan kepadanya kalau saya tidak pernah mendapatkan itu semua dari keluarga saya sendiri selain dari hanya ambisi saja. Saya, saudara-saudara saya, dan kedua orang tua saya itu semuanya pada sibuk sekali. Jarang sekali yang namanya, menghabiskan waktu bersama bahkan untuk sarapan saja, kita masih sibuk mengurusi urusan kita masing-masing tanpa ada sedikit pun kata henti untuk tidak memegang gadget. "Kita boleh yang namanya sibuk cuman kita mesti tahu waktulah apa salahnya sih kita meluangkan waktu sedikit saja untuk berkumpul bersama dengan keluarga, ya, kan?" Yang dibilang oleh Ryan itu benar. Semuanya itu benar tapi sayangnya Untuk mengimplementasikannya itulah yang susah. "Dan sibuk juga boleh tapi istirahat jangan dilupakan," tambah Ryan lagi. saya seperti anak kecil yang selalu dinasihati oleh orang dewasa. Ryan bagai alarm untuk diri saya sendiri dia banyak mengingatkan sesuatu yang baik untuk diri saya sendiri. Jangan mengabaikan perasaan yang memang seharusnya dirasakan saja, biar puas, biar tidak ada yang mengganjal. Manusia itu normal merasakan banyak perasaan yang sekiranya enak atau pun tidak enak. Jangan jadi toxic positif sebagai manusia. Saya sangat beruntung bisa merasakan perasaan ini, bahagia. Kebahagiannya itu berbeda ketika bagaimana mencapai kesuksesan yang di ekspektasikan telah berhasil. Tetapi kebahagiaan yang saya rasakan itu lain dan berbeda. Kebahagiaan hati saya sendiri yang tercipta oleh seseorang, bukan dari sekedar ambisi dan emosional juga ego, tetapi saya melepaskannya dengan tenang. Rasa Bahagia yang tak bisa dijabarkan oleh kata-kata, kebahagiaannya itu dipenuhi dengan ketulusan cinta dan kasih sayang. Saya yang keras orangnya, perlahan lama-lama menjadi lunak. Yang tadinya bisa sekeras batu tapi batu itu juga bisa jadi terbelah diusahakan untuk dihancurkan dan bahkan bisa jadi terkikis oleh air.         Ini tentang bagaimana Ryan telah mengajarkan saya banyak hal dan mengubah pola pikir saya, saya dapat menikmati pekerjaan saya tanpa merasakan stres atau pun tekanan meskipun saya menerima banyak pesanan oleh dari klien. Dan Ryan juga yang membantu saya selama bekerja. Merintis bisnis saya yang akhirnya bisa berkembang lebih jauh lagi, bisa lebih tumbuh lagi, lebih besar lagi di Indonesia sampai membuka beberapa cabang di beberapa kota. Ya, Ryan perlahan-lahan juga sudah membantu saya untuk berubah. Dia juga orangnya penyabar dan bukan orang yang tempramental, dia laki-laki yang pintar dengan wawasan yang luas dan itu yang buat saya suka sama dia, terlebih dia juga orang yang sangat mandiri dan bertanggung jawab sekali.         Saat itu saya menemani Ryan latihan bola karena nanti dia bakalan tanding. Saya belum sempat untuk mengenalkan Ryan sama orang tua saya karena orang tua saya lagi benar-benar sibuk, juga pun dengan orang tuanya dari Ryan juga. Kita belum bisa mengenalkan satu sama lain ke keluarga cuman kita percaya, bakal ada momennya nanti.       Tadinya kalau diingat-ingat waktu dulu, Ryan pernah mengajak saya untuk tunangan. Saya awalnya ragu untuk mengiyakan ajakan dia, saya juga memang tidak menolak saat itu, hanya saja saya sedang membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan yang besar. Langkah yang tidak mungkin saya bakal mundur lagi setelah saya memutuskan untuk maju, karena saya sayang sama Ryan, karena saya cinta sama Ryan dan saya mengakui akan perasaan itu tanpa saya bohongin diri saya sendiri. Tidak seperti dulu yang terlalu gengsi, yang selalu ingin rasanya dikejar-kejar oleh laki-laki tetapi kali ini tidak bila bersama dengan Ryan. Saya memang tidak mau membohongi diri saya sendiri.       Ryan datang berlari kecil ke arah saya saya, dengan sigap saya memberikan handuk dan membantunya membersihkan keringat di wajah dia, sedangkan dia meminum air yang saya berikan.        "Kamu percaya gak nanti aku bakal menang?" tanya ia tiba-tiba. Saya tersenyum lebar sebagai memberikan rasa semangat untuknya.       "Aku yakin kamu bakalan menang," kata saya kepada dia dan itu yang saya katakan memang adalah doa juga supaya dia bisa memenangkan pertandingan nanti. Saya ingin melihat dia menang. "Kalau aku kalah, nanti kamu bakal ada buat aku, kan?" tanya ia lagi. Apakah dia sangat meragukan diri saya? Meragukan kesetiaan saya?       "Tentu saja aku bakalan ada untuk kamu, aku nggak bakal ninggalin kamu," kata saya dulu, saya memang sangat tidak menyukai yang namanya kegagalan tetapi Ryan mengajarkan saya bahwa sesuatu hal itu tidak selalu tentang menang ataupun kalah saja. Tetapi juga tentang prosesnya. Saya dengan tenang melihat Ryan bertanding di lapangan sana. Pertandingan masih seri, satu banding satu. Sama halnya, hidup itu juga tentang proses. Menang dan kalah apalagi itu sudah biasa di dalam kehidupan, di setiap tantangan, di setiap hasil akhirnya. Semua itu akan mengajarkan banyak hal kata Ryan.       Saya pernah berkata kepada dia, "kalau kamu membicarakan tentang kekalahan itu artinya kamu itu pesimis dengan kemampuan kamu." Saya benar-benar kesal sama Ryan karena dia selalu saja membicarakan tentang kekalahan, dia berandai-andai bagaimana kalau dia nanti kalah? Bukankah di setiap kata-kata yang diucapkan akan menjadi sebuah bentuk doa? Atau dia ingin melihat saya lebih jauh lagi bagaimana karakter dari diri saya ini?      "Selama aku hidup, aku tidak suka yang namanya membicarakan tentang kekalahan karena yang aku tahu adalah aku ingin selalu menang. Dan pastinya akan aku pastikan aku bisa mendapatkan kemenangan itu karena aku tidak suka yang namanya kekalahan." Saya sangat bersikeras dengan pemikiran saya yang itu karena memang sudah lama saya anut pemikiran tersebut sehingga saya benar-benar menjadi seseorang yang penuh dengan ambisi. Namun respon dari Ryan itu dia tetap sabar dengan watak saya yang keras.      "Kamu nggak bakalan bisa belajar dari kesalahan, nggak akan bisa belajar dari kekalahan, kalau yang ada di pikiran kamu itu hanyalah sebuah tentang kemenangan saja. Bagaimana kamu bisa lebih maju lagi kalau kamu tidak pernah mau merasakan yang namanya kegagalan ataupun kekalahan?" tanya ia. Saya masih membantah pada saat dimana kita sedang ngobrol di ruangan saya yang ada di butik.      "Kamu itu orangnya pesimis banget, ya? Aku paling gak seneng sama orang-orang yang seperti itu," ucap saya blak-blakan.      "Aku bukan orang yang pesimis dan bukan itu yang aku maksudkan. Tapi aku ingin kamu melihat dari sisi perspektif yang lain, dari sudut pandang yang lain, dan dari kacamata yang berbeda. Kamu harus mengenal yang namanya kegagalan Nayla."      Ini bukan tentang hanya soal diskusi saja tetapi saat itu adalah tentang soal bisnis saya yang masih belum meroket, yang masih belum berkembang jauh seperti yang saya harapkan karena memang desain saya belum disukai oleh banyak orang dan memang tidak mudah untuk menjadi seorang designer. Padahal saya ini memiliki butik di Australia juga tetapi memang karena ada suatu kendala, ya namanya bisnis saya harus hancur di sana. Sempat yang namanya juga karya-karya saya disukai tetapi secepat itu juga bisa mudah tergantikan oleh yang baru. dan saya harus menciptakan yang lebih lagi untuk memenuhi ekspektasi saya. dan Ryan membantu saya dengan menyemangati saya, dengan menasihati saya, dengan membantu saya berproses dari nol juga di Indonesia. Dia menjadi model saya untuk memperkenalkan karya-karya saya sehingga, itu kenapa karya saya bisa dikenal juga oleh banyak orang. Meskipun bisa dengan mudah orang tua saya membantu saya atau bahkan saudara-saudara saya tetapi saya tidak ingin yang namanya tidak merasakan kemandirian. Bila urusannya Rian membantu saya adalah karena memang dia itu adalah pacar saya, dia ingin ada untuk diri saya. Dan saya merasa senang akan hal itu. Anggap saja, kita berdua ingin mandiri mencari uang untuk kebutuhan kita dan membiayai pernikahan kita nanti. Dan itulah yang memang sedang kita lakukan. mengumpulkan uang untuk membiayai pernikahan supaya tidak merepotkan orang tua kita masing-masing. Saya tidak ragu untuk menerima seseorang yang memiliki pikiran dewasa seperti Ryan. Saya bisa membayangkan, bagaimana kehidupan saya bila memiliki suami seperti dia. Sangat bisa mengayomi diri saya dan punya pikiran yang begitu dewasa. Dia tidak memiliki ekspektasi yang begitu tinggi karena dia orang yang realistis saja tidak seperti diri saya. Tim dia mengalami kekalahan pada saat itu tetapi dia tidak merasa kecewa. Bagi dia, dia sudah melakukan yang terbaik. Siapa sih yang tidak ingin menang? Tentunya semua orang ingin menang tetapi kalau semuanya menang, tidak akan ada yang namanya kekalahan. Menang dan kalahnya dia sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Dan kehidupan dari siapapun juga. Kadang kala, untuk mengekspetasikan soal kemenangan, dan kita gagal untuk memenuhi ekspektasi itu jatuhnya bakalan down sekali yang justru kita berfokus pada kesedihan dan bukan untuk mencari planning atau rencana yang lainnya lagi.        Ryan menerimanya dengan lapang d**a juga keikhlasan dari hatinya. Ini hanyalah sebuah porsinya saja, kalau memang porsinya dia sampai di sini ya sudah dia tidak akan memaksakannya dan justru dia akan belajar untuk lebih ke tingkatan yang berikutnya, yang lebih sulit lagi rintangannya yang tidaklah mudah untuk dilalui. Dia bakalan berusaha untuk tetap belajar menjadi lebih baik lagi. bukan hanya soal tentang menjadi yang terbaik tetapi melakukan yang terbaik meskipun hasilnya tidak baik dan tidak sesuai dengan harapan.       Saya mungkin dulunya bisa saja bila bertemu dengan dia, dia kalah saya akan menuntut dirinya untuk menang. Sama halnya ketika mamah yang dulunya pernah menuntut saya untuk selalu menang, menang, dan menang. Tidak boleh yang namanya kalah. Mama selalu mengajarkan saya untuk menjadi yang pertama, harus memiliki ambisi untuk selalu memiliki keunggulan lebih daripada yang lain, berbeda halnya bagaimana saya bertemu dengan Ryan. Ryan mengajarkan saya hal lain, dia berusaha untuk membuat saya lebih santai dalam menjalani hidup, tidak terburu-buru dan bukan hanya mengejar yang namanya kuantitas saja tetapi kualitas hidup itu juga yang lebih penting dari segalanya dan bahkan, bila seseorang terlalu berambisi pada pekerjaan, pada apa yang sedang dia kejar, mana kala hal sepele, hal kecil itu saja seperti kesehatan akan suka diabaikan.        Ryan, orangnya sangat perhatian sekali kepada saya. Dia bahkan pernah merawat saya ketika saya sedang sakit di Australia karena terlalu lelah bekerja. Dia nasihati saya. "Kesehatan itu yang paling utama, kalau tubuh saja tidak sehat, mau bagaimana bisa bekerja?" kata dia. Memang ada benarnya juga, selama ini saya selalu memprioritaskan pekerjaan saya daripada kesehatan saya sendiri sehingga saya selalu merasa kelelahan setelah itu sakit-sakitan dan jadi drop lalu harus dirawat ke rumah sakit karena itu tadi, saya mengabaikan hal yang sangat penting sekali padahal tubuh saya ini perlu yang namanya istirahat untuk mencharge, untuk mengisi kembali energi dan tenaganya yang tidak bisa di push selalu berkali-kali.  Tapi berbeda kalau mama sudah tahu saya sakit, dia bakalan memarahi saya. Saat itu di rumah sakit, saya mengabari kepada orang rumah kalau saya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. "Kamu ini bagaimana, sih, Nayla? Masa bisa sakit? Kalau kamu sakit nanti bagaimana kamu bisa bekerja?" Bukan soal kesehatan saya yang dihawatirkan tetapi soal pekerjaan saya. "Sekarang siapa yang ngurusin pekerjaan kamu? Kenapa kamu diam? Nggak ada, kan, jawabannya. Pekerjaan kamu akhirnya terbengkalai karena kamu sakit, kan? Itu karena kesalahan kamu yang tidak bisa menjaga kesehatan kamu sendiri." Mama lebih mementingkan soal pekerjaan dan materi saja itu terkadang membuat saya jadi muak lama-lama mendengarnya. Sampai akhirnya saya berani mematikan HP saya secara sepihak supaya saya tidak mendengarkan suara Mamah lagi dan tepat saat itu Ryan datang masuk ke dalam ruangan saya. Ryan di sini yang merawat saya dan bahkan dia lebih mementingkan kesehatan saya dibanding dengan pekerjaan dia sendiri. Tak sekalipun dia membahas pekerjaan seperti bagaimana mamah yang tidak pernah menanyakan kabar saya. Kalau boleh jujur saya sangat kecewa kepada orang yang menjadi bagian dari keluarga saya. Saya juga ingin sekali dipedulikan oleh orang-orang terdekat di hidup saya dan bukan ya orang yang baru hadir di dalam kehidupan saya dan bukanlah yang pertama. Sekali saja untuk tidak membahas soal tentang pekerjaan atau pun materi ataupun membahas soal kesuksesan. Saya benar-benar merasa berada di titik lemahnya saya. Saya membutuhkan semangat di dalam kehidupan saya karena saya sekalipun tak pernah mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat saya kecuali hanya dari Ryan saja.       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD