Mila’s Pov
Aku memutuskan pergi untuk sementara waktu, itupun atas persetujuan orang tuaku. Mereka mengirimku ke rumah saudara Papa yang terletak di luar Kota dengan Jarak tempuhnya bisa mencapai 7 jam. Aku pergi dengan menggunakan mobil yang biasa Kak Mike gunakan, awalnya mereka tidak mengizinkanku untuk menyetir sendiri tapi setelah aku merayu dan berusaha meyakinkan mereka akhirnya mereka pun menyetujuinya. Ini adalah perjalan pertama dan terpanjang yang pernah aku tempuh. Ditengah perjalanan, aku tidak sengaja melihat seseorang hendak melompat dari tebing yang tinggi. Pastilah orang tua ingin bunuh diri. Batinku. Aku langsung menghentikan mobilku dan menghampirinya. Semoga saja dia mau mendengarkan aku dan mengurungkan niatnya untuk melompat. Pikirku.
“Berhenti!!! Jangan melangkah kedepan, itu sangat bahaya!” Teriakku hingga membuatnya menoleh ke arahku. “Okeyy.. aku tidak tahu alasanmu kenapa mau melakukan hal ini. Tapi kamu tahu kan bunuh diri itu bukanlah suatu perbuatan yang terpuji. Itu tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Jika kamu melompat kebawah, semua tulangmu bisa patah dan kamu bisa mati. Setelah kamu mati, kamu akan dihukum oleh Tuhan karena kamu mengakhiri hidupmu dengan paksa.” Lanjutku mencoba mengurungkan niatnya. Dia mengangkat sebelah alisnya. Disaat seperti ini dia masih bisa menatapku dengan mengangkat sebelah alisnya, kenapa semua orang bisa mengangkat satu alisnya, sedangkan aku saja tidak bisa melakukannya.
“Kamu siapa?” Kini dia mulai berbicara.
“Tidak penting aku ini siapa. Yang jelas ayo kemarilah bersamaku, jangan melompat ke bawah.” Pintaku sambil mengulurkan tanganku berlagat sok pahlawan. Bukannya menerima uluran tanganku, dia malah kembali membalikkan tubuhnya menghadap jurang yang ada dibawah sana.
“Tidak! Kamu tidak boleh mati didepanku. Aku tidak ingin kamu menghantuiku nanti.” Teriakku kembali.
“Heyy… Nona gila! Siapa yang ingin bunuh diri?” Ungkapnya.
“Apa?? Jadi..jadi kamu tidak sedang mencoba untuk bunuh diri?” Tanyaku. Laki-laki itu menghela napasnya panjang.
“Aku tidak selemah yang kamu pikir. Pergilah, aku sedang tidak ingin berdebat apalagi dengan orang yang tidak ku kenal sepertimu.” Ujarnya mengusirku.
“Baiklah, aku akan pergi. Maaf karena telah salah mengira, aku pikir kamu ingin bunuh diri.” Ucapku.
“Hmm.” Jawabnya tanpa menoleh ke arahku lagi. Akupun kembali ke mobilku meninggalkannya disana sendiri. Ku tancap gas mobilku kembali untuk melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda. Aku berniat untuk menelpon Mama, ingin memberi kabar bahwa aku sudah melalui hampir setengah perjalanan untuk sampai dirumah Paman. Tapi sialnya ternyata ponselku mati, aku lupa men-charge-nya semalam. Jalanan yang ku lalui memang sangat sepi, sebenarnya ada rasa takut dihatiku. Tapi aku beranikan diriku dan ku bunuh rasa takutku.
Ada-ada saja hambatan diperjalananku, aku melihat sosok remaja yang sedang tergeletak di tengah jalan. Aku berpikir pastilah korban tabrak lari. Aku menghentikan mobilku dan menghampirinya, berniat ingin menolongnya. Tapi sialnya dan bodohnya aku, aku malah terjebak diantara beberapa orang yang tiba-tiba keluar menghampiriku. Ku lihat orang yang terbaring ditengah jalan itu sudah berdiri. Sepertinya mereka ingin merampokku. Batinku ketakutan.
“Mau apa kalian?” Teriakku gugup.
“Hai manis.. mau kami tidak banyak. Cukup serahkan semua yang kau punya pada kami.” Jawab salah satu dari para pria itu.
“Tapi sebelum itu, kayaknya seru kalo kita main-main dulu. Dia cantik.” Ucap salah seorang lagi diantara mereka dan menatap nanar ke arahku. Aku semakin ketakutan, aku mencoba untuk berlari kembali ke mobilku. Tapi salah satu diantaranya berhasil menarikku.
“Mau kemana cantik? Kamu gak akan bisa lari kemana-mana.” Ucapnya.
“Lepaskan aku! Jika kalian berani macam-macam padaku. Aku tidak akan mengampuni kalian!” Ancamku.
“Woowww.. seram juga hahaha…” Mereka tertawa. Ku dengar ada suara sepeda motor yang juga berhenti disana.
“Jangan beraninya sama cewek bro. Lepaskan dia!” Aku melihat ke arah sumber suara tersebut. Ternyata laki-laki yang aku temui di pinggir tebing tadi.
“Waah rupanya ada pahlawan kesiangan. Ayo hadapi kami.” Tantang penjahat itu, dan mereka pun berkelahi. Aku berlari ke arah mobilku, aku merasa sangat ketakutan. Hidupku akan berakhir jika laki-laki itu berhasil mereka kalahkan. Setelah memberikan beberapa pukulan, ia berlari ke arahku.
“Lemparkan kunci mobilmu dan masuklah kedalam mobil.” Tanpa berpikir akupun mengikuti perintahnya. Ia masuk kedalam mobilku dan mengemudikan mobilku. “Pegangan yang kuat.” Ucapnya lalu membawaku pergi dari sana dengan kecepatan yang tinggi. Aku terus menoleh ke belakang, syukurlah sejauh itu tidak ada yang mengikuti kami. Aku menghela napasku lega. Aku melihat ke arah laki-laki yang sedang bersamaku saat itu, dia tetap fokus pada jalan dengan mobil yang masih berkecepatan tinggi hingga akhirnya kami menemukan kendaraan lain didepan kami, barulah ia sedikit memperlambat laju mobil kami.
“Terimakasih Tuan karena telah menolongku, jika tidak ada Tuan mungkin aku sudah…” Belum selesai aku bicara dia sudah memotongnya.
“Lain kali jangan pernah pergi sendiri, jangan pernah berhenti saat melihat apapun ditengah jalan, jadi orang jangan terlalu baik hati.” Ucapnya. Aku hanya diam, kemudian dia menghentikan mobilnya di sebuah warung yang terletak dipinggir jalan. Disana tidak terlalu ramai, tapi setidaknya masih ada beberapa warga yang menghuni tempat itu. Dia terlihat gelisah.
“Kenapa berhenti?” Tanyaku bingung.
“Aku ingin ke toilet. Permisi.” Dia langsung keluar dari mobil membawa ransel mini miliknya meninggalkanku disana. Akupun menarik kunci mobilku dan keluar mengikutinya. Dia terlihat terburu-buru. Ku dengar ia meminta sebotol air mineral pada penjaga warung itu, lalu berlalu pergi kebelakang entah kemana. Aku duduk menunggunya didepan warung tersebut. Cukup lama, kira-kira hampir setengah jam aku duduk disana, barulah dia kembali menghampiriku.
“Kamu sakit perut?” Tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, dia kembali meminum air mineral yang ada ditangannya.
“Aku akan mengantarmu sampai keperbatasan. Setelah itu kamu boleh melanjutkan perjalananmu sendirian, insyaAllah sudah aman. Jangan berada jauh dari mobil-mobil yang lainnya.” Ujarnya.
“Motor kamu gimana?” Tanyaku kembali.
“Tidak usah dipikirkan. Aku akan menyuruh orangku untuk mengambilnya, itupun jika masih ada disana. Jika sudah tidak ada lagi, berarti bukan rejekiku.” Jawabnya tersenyum.
“Itu artinya aku telah membuatmu kehilangan motormu. Aku akan menggantinya.” Ucapku.
“Tidak perlu. Gunakan saja uangmu untuk hal yang jauh lebih penting.”
“Terus kamu pulang gimana?”
“Aku bisa naik Bus, biasanya banyak Bus yang lewat.”
“Kalau boleh tau kamu kok tadi berdiri dipinggir tebing? Beneran bukan ingin bunuh diri kan?” Aku tidak berhenti bertanya padanya.
“Jika saja bunuh diri bisa menyelesaikan masalahku, mungkin aku akan melakukannya.” Dia tersenyum kembali.
“Terus?”
“Kamu bisa lihat sekarang kan aku tidak melakukannya? Itu artinya bunuh diri tidak akan pernah menyelesaikan masalahku.” Jelasnya. “Kamu sendiri mau pergi kemana? Kenapa sendirian?” Kini gilirannya yang bertanya.
“Aku ingin pergi ke rumah pamanku, aku sengaja pergi sendirian agar tidak ada yang mengetahui aku pergi kemana kecuali keluargaku.” Jawabku.
“Lari dari masalah?”
“Kurang lebih begitu.” Jawabanku membuatnya tersengir.
“Kenapa? Dijodohin ya?” Tanyanya kembali.
“Tidak. Jika aku dijodohkan orang tuaku, maka tidak mungkin mereka akan mengizinkanku pergi.”
“Lalu?”
“Seharusnya 2 minggu lagi aku menikah dengan orang yang aku cintai, tapi buruknya nasibku saat aku mendapatkan kenangan masa kecilku ternyata Ayahnya adalah penyebab aku kehilangan orang tua kandungku.” Jelasku tanpa berpikir pada siapa aku sedang bercerita.
“Dan kamu meninggalkannya?”
“Tidak. Aku tidak berniat untuk meninggalkannya. Aku masih mencintainya. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku dan sedikit menjernihkan otakku agar aku tidak salah dalam mengambil keputusan. Aku juga butuh waktu untuk memaafkan Ayahnya.” Lanjutku. “Jadi kamu tadi ngapain di pinggir tebing?” Aku masih penasaran dengannya.
“Aku hanya sedang beristirahat karena perjalananku, aku juga sedang mencari solusi dari masalahku.” Jawabnya.
“Boleh aku tahu apa masalahmu? Mana tahu aku bisa membantumu, kan tadi kamu udah nolongin aku.” Ucapku. Dia tertawa singkat dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Kamu tidak akan bisa membantuku.”
“Tidak ada salahnya jika aku mendengar masalahmu dulu, baru bisa diputuskan aku bisa membantumu atau tidak.”
“Aku sudah lama tidak pulang ke rumah, aku membangun usahaku kecil-kecilan. Bisnis mini market gitu. Kakekku adalah seorang pengusaha perkebunan teh, Ayahku mengalami gangguan kejiwaan sejak aku duduk di bangku SMP. Aku tidak tahu apa penyebab jiwanya jadi terganggu seperti itu. Disana aku hidup bersama Ibu tiri yang sudah seperti Ibu kandungku dan dua saudara tiriku. Satu laki-laki dan satu perempuan. Dulu mereka melarangku untuk melanjutkan kuliah, tapi aku sama sekali tidak menghiraukan mereka. Aku pergi dari rumah dan meneruskan kuliah. Tapi ternyata Nenek terus mengirimi aku uang untuk membayar biaya kuliahku. Nenek ingin aku meneruskan usaha Kakek karena Ayahku yang tidak bisa mengurusnya. Tapi syarat mereka cukup berat, mereka ingin aku pulang dan menerima perjodohan dari mereka. Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi hingga aku harus dijodohkan.” Jelasnya.
“Lalu kamu menolaknya?” Tanyaku.
“Tentu saja. Tanpa berpikir aku malah mengatakan pada mereka bahwa aku sudah menikah dengan seorang gadis ditempatku membangun bisnisku. Sekarang Nenek menyuruhku pulang karena Nenekku saat ini sedang sakit, dan aku bingung apa yang harus aku katakan pada mereka.” Lanjutnya.
“Jujur saja pada mereka.” Ucapku. Dia tersenyum.
“Jika aku jujur, maka mereka akan menikahkanku dengan gadis pilihan mereka. Aku tidak mau itu terjadi.”
“Baiklah, jika kamu menolak perjodohan berarti kamu mempunyai seorang wanita disampingmu kan sehingga kamu menolak perjodohan itu? Ya tinggal kamu bawa saja dia ke hadapan mereka, dan katakan kalau kalian sudah menikah.” Aku mencoba memberi solusi padanya.
“Yang jadi masalah, jangankan istri sungguhan, pacar saja aku tidak punya. Lalu siapa yang harus aku bawa pada mereka?” Ungkapnya.
“Apa? Kamu tidak punya pacar? Lalu kenapa mengatakan kamu sudah menikah?” Aku membolakan mataku.
“Aku belum berpikiran untuk menikah, aku masih ingin mengejar karirku. Jika aku menikah maka pikiranku akan terbagi. Itulah mengapa aku menolak dijodohkan.” Jelasnya kembali. Aku menganggukkan kepalaku. “Ayo kita berangkat, aku akan mengantarmu ke perbatasan. Lupakan masalahku, aku pasti akan menemukan jalan keluarnya.” Dia tersenyum dan kembali meminta kunci mobilku. Akupun memberikannya dan mengikuti langkah kakinya.
Sepanjang perjalanan aku berpikir panjang, laki-laki ini telah dengan baik hatinya menolongku. Tidak ada salahnya jika aku menolongnya juga.
“Aku mau menolongmu.” Ucapku.
“Menolong apa?” Tanyanya singkat.
“Bawa aku pulang bersamamu, aku akan membantumu menjelaskannya pada mereka terutama Nenekmu. Aku yakin mereka akan mengerti.” Jawabku. Dia menghentikan mobilnya dan menatapku lekat.
“Apa kamu bisa meyakinkan mereka untuk tidak menjodohkanku?” Tanyanya kembali.
“Tentu saja, kamu tidak tahu seberapa besar kekuatan seorang wanita dalam berbicara dari hati ke hati. Aku yakin mereka akan mengerti keinginanmu sebenarnya.” Ucapku percaya diri.
“Kamu benar-benar yakin ingin membantuku?”
“Tentu saja. Sebelumnya kamu juga menolongku tanpa ragu, lalu kenapa aku ragu untuk menolongmu.” Jawabku.
“Lalu bagaimana dengan perjalananmu ke rumah Pamanmu?”
“Itu bisa aku urus.” Jawabku tersenyum. “Baiklah deal?” aku mengulurkan tanganku padanya. Dia menatapku dalam, lalu menjabat tanganku sambil tersenyum.
“terima kasih. Oh iya, dari tadi kita banyak saling berbicara tapi aku belum tahu dengan sebutan apa aku harus memanggilmu.” Tanyanya.
“Namaku Kamila Kusuma, panggil saja aku Mila. Kamu?”
“Namaku Dave Anggara. Panggil saja Dave. Senang bertemu denganmu.” Dave tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya dan dia kembali menjalankan mobilnya membawaku pulang bersamanya.