29

1339 Words
Jino terus memainkan bibirnya sepanjang sarapan, digigit, dicubit, ditekan-tekan, yang membuat Jeno serta Brian lama-lama risih melihatnya. Masalahnya penampakan bibir Jino terlalu mencolok, jadi kalau ia memainkan bibirnya, kelihatan sekali. "Jin, napa sih tuh bibir lo pegang-pegang mulu? Gak akan kempes mau lo gigit-gigitin atau cubitin, udah... terima aja bibir lo apa adanya," ujar Brian. "Apaan sih lu? Emang gue giniin bibir biar bibir gue kempes hah?" dengus Jino. "Ya kali aja. Oh, atau bibir lo pegel ya? Kebanyakan bacot soalnya," kata Brian. Jeno memutar kedua bola matanya. Brian tidak kapok rupanya, sudah dimarahi dan badannya ditiban Jino semalam. "Elu yang bacot, dasar pacil,"                                  "Ehh, kepala gue kecil-kecil gini, otak gue gede," "Halah, otak gede apaan? Orang sering nyalin tugasnya Aaron," "Udah deh, kok malah jadi berantem? Untung mama Thalia udah pergi, kalau belum, mana berani kalian," lerai Jeno. Jino dan Brian akhirnya diam. Selesai sarapan, Jeno menyuruh Jino dan Brian pergi ke sekolah duluan, karena ia mau mengecek kondisi Thalia dan memberinya obat. Setibanya di depan kamar Thalia, Jeno langsung membuka pintu dan masuk tanpa permisi. Ia tidak menyangka juga kalau tidak dikunci. Begitu pintu dibuka, ia melihat Thalia berbaring dengan posisi duduk di bawah, di atas karpet dengan punggung bersandar di kasur, tapi yang membuat Jeno kaget, cara duduknya. Kedua kakinya ditekuk, menjadikan lutut sebagai tumpuan tangan, lalu terbuka lebar, sedangkan ia hanya pakai celana pendek. Thalia sontak menurunkan kakinya, dan hendak melempar Jeno dengan barang yang ada di dekatnya, tapi Jeno langsung berteriak sembari menutup mata. "Maaf! Maaf! Mana gue tau lo lagi kayak gitu!" seru Jeno sembari menutup matanya. Thalia mendesis kesal, ia lalu meraih selimut di atas kasurnya untuk menutupi kakinya. "Mau ngapain sih?" tanya Thalia ketus. "Ya mau cek kondisi lo lah, sama ngasih obat, disuruh mama lo. Kenapa marah-marah? Pms?" "Enggak!" "Ya udah gak usah marah-marah," "Gak marah-marah kok!" "Ngomongnya dari tadi teriak-teriak tau gak," Thalia seketika langsung diam. Jeno pun kemudian berjalan mendekatinya. Ia duduk di depan Thalia, dengan posisi satu kaki tertekuk ke atas. "Lo kenapa gak istirahat? Malah main hp di bawah gini. Terus lo keramas? Kenapa masih pake handuk kepala?" tanya Jeno, sembari menempelkan punggung tangan kanannya di kening Thalia. "Bosen, udah gak begitu pusing juga. Gue gak keramas, tapi rambut gue bikin gak nyaman, jadi dimasukin ke handuk aja, dari pada diiket. Gue gak suka, bikin kepala pusing," balas Thalia. Ia bersyukur masih memakai handuk kepalanya. Biasanya begitu ia masuk kamar, handuk kepalanya langsung dilepas, kecuali ada kemungkinan mamanya akan sesekali masuk untuk mengecek kondisinya. "Gak terlalu panas, udah tinggal anget. Tapi gue lupa kemaren pas lo awal demam gue ngecek suhu badan lo atau enggak. Ahh, udahlah, mau panas lo udah turun juga, lo harus istirahat, terus minum obatnya," kata Jeno sembari menyerahkan obat untuk Thalia yang dititipkan mama Thalia padanya. "Iya, gue pasti istirahat, cuman cek hp bentar, semaleman gue gak liat hp," ujar Thalia. "Emang di hp ada apa sih, hah?" "WayV ngeluarin MV versi Korea," "Siapa lagi WayV. Lo gini-gini hobi ngefangirl juga ya ternyata,". "Emang aneh gue ngefangirl? Gak fanatik kok. Kan gini-gini gue butuh hiburan," Jeno tersenyum simpul. "Baguslah lo punya hiburan, gue kira selama ini lo gak punya hiburan sama sekali," "Gue udah mati kali kalau gak ada hiburan, orang gak punya temen. Seenggaknya ngefangirl bikin rasa kesepian gue terobati sedikit," "Sekarang lo kan udah punya temen, jadi rasa kesepian lo bakal terobati banyak-banyak dong," Thalia terkekeh mendengar susunan bahasa Jeno. "Kacau tuh susunan bahasa lo," gumam Thalia. "Jangan sendirian," ucap Jeno, yang membuat ekspresi Thalia berubah datar seperti biasanya. "Ada gue sama yang lainnya, jadi... kalau lo butuh sesuatu, entah dengerin lo cerita, nangis. Ada kita, kita bukan orang asing lagi, kita udah saling kenal," sambung Jeno. "Terus... senyumlah dikit," Thalia tertegun, ia kemudian berdecak kecil. "Bukannya akhir-akhir ini gue udah sering senyum?" "Lo senyum buat gantiin ketawa kan? Karena lo susah buat ketawa lepas, dan karena suatu alasan yang... bukan karena lo bahagia. Senyum karena lo bahagia dong," Thalia menghela napas. "Iya, iya. Lagian apaan sih? Lagi ngomongin WayV jadi nyambung ke gue," kata Thalia sembari menundukkan kepalanya dan melihat layar ponselnya kembali. "Karena lo lebih penting buat diomongin," ucap Jeno. Ucapan Jeno, sukses membuat Thalia terkejut dan salah tingkah, ia pun mengangkat kepalanya, dan membuatnya semakin terkejut lagi, karena baru menyadari jarak wajah Jeno tiba-tiba dekat dengannya. Thalia sontak sedikit memiringkan kepala dan tubuhnya ke samping untuk menghindar. "Ngapain lo?" tanya Thalia. "Sorry...," gumam Jeno sembari menjauh, ia kemudian mengusap tengkuknya, dan membuang mukanya sejenak. "Eumm... tapi bibir lo ada luka," katanya kemudian, yang membuat Thalia sontak mengatupkan kedua bibirnya ke dalam. "Ahh, iya ya, gue gak nyadar," kata Thalia. "Mungkin karena bibir gue kering," "Bibir lo justru keliatan lembab banget, makanya gue hampir...," Jeno menggantungkan kalimatnya, yang membuat Thalia menatapnya tajam. "Hampir apa lo?" tanya Thalia ketus. "Enggak... bukan apa-apa, gue ke sekolah dulu ya, hampir telat," sambil bangkit berdiri, Jeno hampir menyentuh kepala Thalia untuk mengusapnya. Tapi Thalia dengan sigap langsung menepis tangannya yang membuat Jeno terkejut. 'Ditolak sejak dini,' batin Jeno. "Ya udah, gue berangkat sekolah dulu, lo istirahat, jangan lupa minum obat," ucap Jeno. "Iya, lo hati-hati di jalan," sahut Thalia. ••• "Lilixku sayang di mana ya?" gumam Henry sembari menopang dagunya, dan memainkan mie ayamnya dengan sumpit. Saat ini sekolah sedang jam istirahat pertama, seperti biasa, Jeno, Jino, Brian dan teman-teman lainnya makan bersama di kantin. "Sayang-sayang, emang pacar lu?" sahut Randy sewot. "Iya, emang," balas Henry. "Gak enak makannya kalau gak ada Felix. Gue lagi gak selera makan soalnya, kalau liat Felix makan enak bawaannya, kayak lagi nonton mukbang," "Ada masalah lo?" tanya Aaron. "Gue kayaknya gak bisa kuliah deh, kecuali gue dapet beasiswa. Tapi kalian semua taulah, gue gak sepinter itu buat dapet beasiswa," balas Henry. "Ibu gue lagi nabung buat sewa tempat, biar bisa buka toko kue, gue gak mau uang tabungannya buat gue kuliah," "Lo sendiri minat di bidang apa?" giliran Jino yang tanya. "Musik," "Felix kan punya tuh sahabat produser musik, kalau lo emang minat bikin musik, minta belajar aja sama dia. Atau bisa aja dia tertarik sama suara lo," saran Jino. "Jadi lo malah bisa bantuin ibu lo cari uang dari pada kuliah," "Ahh, iya bener lo. Tapi kayaknya gak segampang itu deh," "Coba aja dulu," timpal Han. "Gue juga calon produser musik sih," "Alah, lo tuh gak jelas, bahasa minat, musik suka banget, jadi programmer juga hayuk, mau lo apa dah sebenernya?" ujar Randy. "Maunya kamu," balas Han yang membuat Randy seketika merinding. "Yah, susah sih ya kalau dasarnya emang jenius," lanjut Han kemudian. Jino menatap Han tajam, dan membuat gesture seolah hendak menyiram Han dengan kuah baksonya. "Eh, tapi sumpah, Felix kemana sih?" celetuk Jazmi. "Toilet kali," balas Han, yang disetujui oleh yang lainnya kecuali Aaron, dan mungkin juga Jeno. Aaron melipat kedua tangannya di depan d**a, dengan mata melirik Jeno yang sedari tadi diam, sontak sebelah alisnya terangkat, saat memperhatikan ekspresi Jeno yang tampak tidak tenang. Namun ia memilih tidak tanya ada apa. "Btw, tadi pagi Felix kayak shock gitu liat luka di jidat Jino," kata Brian sebelum menggigit kerupuknya. "Yah, kita semua kagetkan?" timpal Henry. "Iya sih," gumam Brian. "Parah sih itu yang nerror rumah Thalia, kemungkinan besar ya dari gengnya Oyoy. Ihh, ngeri banget," ujar Aaron sembari menggendikan bahu dan memasang ekspresi ngeri. "Gue sih udah kepikiran, ada yang nginep di antara kita, selain gue sama Jeno dan Brian tentunya, karena udah jelas tinggal di sana. Jadi giliran gitu nginep di rumahnya Thalia, buat jagain Thalia sama mamanya. Gue, Jeno sama Brian sih cukup sebenernya, tapi biar lebih aman aja," kata Jino. "Gue tiap hari juga gak masalah kok," sahut Han. "Dari kitanya gak masalah, orang tua kita tuh yang boleh apa enggak. Udah mau ujiankan, susah minta izin orang tua buat nginep di rumah temen," dengus Jazmi. "Iya sih, bener," gumam Jino. "Guys," Jeno yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara, membuat semua perhatian seketika terarah kepadanya. Jeno menarik napas terlebih dahulu  sebelum melanjutkan kata-katanya. "Sejujurnya... gue tadi liat Felix sama Rere di koridor lantai dua,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD