Thalia dan Jazmi pergi ke samping minimarket yang tidak ada apapun selain gang sempit, dan bangunan lain di sebelahnya.
"Jadi apa yang mau lo omongin?" tanya Jazmi, sambil tersenyum.
"Bisa gak lo gak senyum?"
Kedua alis Jazmi terangkat, karena kebingungan, namun ia menurut untuk tidak tersenyum.
"Gue mau to the point aja, gue mau minta maaf soal kemaren, yang pas di kantin itu," ujar Thalia.
"Oalah, mau bahas itu? Ya ampun, gue bahkan gak kepikiran sama sekali," balas Jazmi.
"Tapi gue tetep ngerasa bersalah, gue lo mau maafin gue,"
"Ini pasti Jeno yang nyuruh kan?"
"Enggak, gue beneran tulus mau minta maaf. Gue juga minta maaf sama sikap adek gue, dia emang bandel,"
Jazmi tersenyum simpul. "Oke, gue maafin,"
"Serius?" tanya Thalia.
Jazmi mengangguk. "Ya, serius. Emang gue keliatan bohong?"
"Enggak sih, thanks udah maafin. Lo gak akan minta aneh-aneh dari gue kan?"
Jazmi lagi-lagi senyum, kemudian menggelengkan kepala.
"Enggak, gak usah khawatir,"
Thalia tersenyum kecil, kemudian melenggang pergi duluan meninggalkan Jazmi, tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.
Jazmi menghela napas, sembari memasukan kedua tangannya ke saku celana, sebelum mengikuti Thalia keluar.
•••
"Tadi gimana? Lo udah minta maaf?" tanya Brian, dalam perjalanan pulang.
"Udah," balas Thalia ketus. "Tanya aja langsung sama Jazminya,"
"Gue percaya kok," ucap Brian sembari mengeluarkan ponselnya, untuk menghapus foto Thalia yang sedang merokok.
Tapi sebelum itu, ia berujar lebih dulu pada Thalia.
"Kalau gue hapus fotonya, entar lo gak mau temenan lagi sama gue,".
Thalia menghela napas, sembari melipat kedua tangan di depan d**a.
"Emang dengan cara ngancem kayak gitu, kita termasuknya temenan?"
Brian mengerucutkan bibir, dan akhirnya ia benar-benar menghapus foto itu tanpa bicara lagi.
"Gak ada yang spesial dari gue, jadi lo gak usah penasaran lagi sama gue," tutur Thalia.
"Dih, siapa yang penasaran?" tukas Brian.
"Gak ada yang mau temenan sama gue, selain dengan alasan itu," kata Thalia.
Nolan tiba-tiba menyahut. "Buat abang-abang sekalian yang penasaran sama kakak gue, nih ya, gue kasih tau fakta kakak gue. Dia itu galak, pemales, kasar, waktu kecil berapa kali tuh mukul gue, pernah nampar mulut gue juga!"
"Itukan karena lo pas gue omelin, bukannya bilang iya, malah nye-nye-nye!" balas Thalia.
"Ya, habis Kakak ngomel mulu! Emang gak gedeg apa aku?!"
"Kakak ngomelkan buat kebaikan kamu sendiri! Gak pernah denger marah tanda sayang? Adek gak tau diuntung!"
"Please ya abang-abang sekalian, jangan mau deh nikah sama nenek lampir!"
"Elu buto ijo!"
"Kakak nenek lampir!"
"Buto ijo!"
"Nenek lampir!"
Jino tiba-tiba berteriak, membuat Thalia dan Nolan langsung diem.
"Kita lagi di lampu merah, suara kalian bisa aja kedengeran sampe luar," ucapnya kemudian, setelah selesai keluar.
Brian tiba-tiba menoyor kepalanya dari samping.
"Emangnya suara lo pas teriak tadi, gak akan kedengeran gitu?"
"Ya kan biar Thalia sama Nolan diem. Gak usah noyor dong!" Jino membalas perbuatan Brian karena tidak terima.
Dan mereka berakhir saling menoyor, memukul, dan mengapit leher.
Jeno hanya bisa mengurut pelipisnya, dan berusaha untuk tetap fokus menyetir.
•••
Entah kenapa, kalau kelas siang Thalia malah mengantuk, dibanding kelas pagi. Yah, memang sih, di jam-jam segini, Thalia biasanya tidur siang.
Namun sepertinya ini juga berlaku untuk Jino. Anak mami satu ini, kalau gak makan, main ya tidur siang di jam segini.
Beda dengan Brian dan Jeno yang malah segar. Tapi bukannya digunakan untuk belajar, mereka main ponsel di dalam loker.
Jino melirik Thalia yang tampak menguap berkali-kali, sembari menopang bagian sisi kepalanya dengan kepalan tangan.
Sebuah ide muncul di benaknya. Ia merobek satu lembar kertas dari bukunya, kemudian menuliskan pesan di sana.
Setelah selesai menulis pesan, ia mencolek orang yang duduk di sebelahnya, dan memintanya untuk mengoper surat tersebut, hingga tiba pada Thalia.
Thalia yang menerima surat tersebut, mengernyit, namun akhirnya membuka kertas yang dilipat empat itu.
Ke UKS yuk, tidur siang,
Thalia melirik Jino yang bangkunya berada tak jauh darinya.
Dengan malas ia memberi jawaban, dan menggunakan cara yang sama seperti yang Jino gunakan, untuk menyampaikan balasannya.
Kenapa harus ngajak gue?
Sampai dua belas menit berlalu, tidak ada jawaban, karena guru sepertinya menyadari ada anak-anak muridnya yang melakukan aktifitas lain selain belajar.
"Yang ketahuan main hp, disita hpnya, dan gak dikembaliin sampe pulang sekolah," ujar guru tersebut, yang membuat Jeno dan Brian langsung mematikan ponsel mereka, dan menyimpannya jauh-jauh ke sudut laci meja.
"Kalian ini, udah sukur peraturan sekolah gak ketat kayak peraturan sekolah lain, tapi masih aja bandel. Mau peraturannya disamain kayak sekolah lain? Rambut dicukur, hp diambil, mau?!"
Semuanya langsung menggelengkan kepala.
"Itu Jino rambutnya gondrong banget, besok dipotong sedikit,"
"Iya Bu. Tapi saya ganteng kalau gondrong," ucap Jino, yang membuatnya langsung dapat sorakan dari teman-temannya.
"Kamu di sini mau sekolah, bukan mau jadi casting jadi idol,"
"Iya Bu. Tapi saya boleh gak ke UKS? Perut saya sakit bu,"
"Kalau perut sakit ya ke toilet dong,"
"Saya kan sakit maag, bu,"
"Saya gak bisa kamu bohongin. Kamu ngantuk kan? Emangnya Ibu gak tau, nyampe sana kamu mau ngapain,"
Thalia tiba-tiba mengangkat tangan, membuat semua perhatian terarah padahya. Sembari memasang wajah kesakitan, Thalia bicara dengan gemetaran.
"Bu, kalau saya beneran sakit. Sakit perut bulanan bu, udah saya tahan dari tadi, tapi ternyata gak sanggup lagi saya, bu, sampe mau muntah rasanya," ujar Thalia.
"Ya ampun! Udah tau lagi sakit bulanan harusnya gak maksain dong, ya udah sana. Siapa yang temennya Thalia, anterin Thalia ke UKS!"
Brian dan Jino langsung beranjak berdiri, dari guru malah melempar spidol ke arah Jino.
"Didiskualifikasi kamu, duduk lagi!"
"Yah buu..." keluh Jino.
"Brian, anterin Thalia, terus langsung balik ke kelas."
Jino menolehkan kepalanya ke arah Thalia sembari mengerucutkan bibir, sementara Thalia balik menatapnya sambil menyeringai. Tidak ketahuan, karena sebagian wajahnya tertutup rambutnya yang terurai.
•••
"Lo beneran sakit perut bulanan?" tanya Brian, sesaat setelah ia dan Thalia tiba di UKS.
"Beneran, tapi ya aslinya gak sakit-sakit banget," balas Thalia sembari duduk di pinggir kasur.
"Mau gue beliin jamu gak?"
"Gak usah, gue tidur bentar juga nanti sembuh."
Thalia kemudian membaringkan tubuhnya di kasur, dan menarik selimut sampai sebatas pinggangnya.
Sebelum memejamkan matanya, ia melirik Brian yang masih berdiri di tempatnya.
"Lo gak balik?" tanya Thalia.
"Entar lah," balas Brian, sembari menarik kursi, dan ia letakan di samping kasur, sebelum duduk di sana.
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, untuk melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda saat di kelas. Sementara Thalia memilih tidur.
Sepuluh menit terlewati, dan Brian dapat mendengar suara dengkuran halus Thalia. Ia menurunkan ponsel dari depan wajahnya, kemudian melirik wajah Thalia, sebelum akhirnya jatuh jadi menatapnya, sampai-sampai punggungnya jadi sedikit membungkuk.
Tangan Brian terulur, dan jari telunjuknya menyentuh ujung hidung Thalia pelan.
'Hidungnya panjang banget,' batin Brian.
Srek! Pintu UKS terdengar terbuka, yang membuat Brian terkejut, dan sontak menegakan tubuhnya. Ia merapalkan doa di dalam hati, agar siapapun yang datang tidak membuka tirai yang menutupi bilik berisi dirinya dan Thalia.
Namun sepertinya, doanya tidak dikabulkan Yang Maha Kuasa. Karena beberapa saat kemudian, tirai bilik yang ditempatinya terbuka, dan menampilkan dua orang anak laki-laki di sana.
Yah, setidaknya Brian tetap bisa bernapas lega, karena yang buka tirai bukan guru.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Brian dengan nada berbisik, pada Jazmi dan Han.
Ya, yang datang Jazmi dan Han.