Keajaiban itu masih ada. Kesadarannya menipis. Bibirnya kering. Tubuhnya mati rasa. Ia tak mendengar apapun. Hanya diam jika mereka kembali menyiksanya. Pintu ruangan pengap itu berderit. Ia bahkan tak sanggup mendongakkan kepalanya yang terasa berat. Secerca cahaya menyorotnya, membuatnya menyipitkan matanya. Lalu keheningan itu pecah dengan suara helikopter yang saling bersahutan, dan suara tembakan yang terdengar memilukan. Dia. Arion. Tak melawan saat seseorang dengan pakaian serba hitam melepas borgol di tangannya. "Izin, kapten" Arion mendongakkan kepalanya. Pria itu membuka topeng wajahnya dan tersenyum penuh kelegaan. Biantara Anggara. Arion tersenyum tipis. "Kita harus bergerak cepat" ucap Bian. Suara tembakan masih terdengar diluar. Bian memapah

