Part 7

1218 Words
 Tak ada satupun yang berani buka suara melihat raut tegas milik Daniel, seketika satu ruangan mendadak hening. “mas” panggil Nadine mencoba mencairkan suasana “kalau sudah selesai aku keluar dulu” pungkas Daniel mengangkat tubuhnya “pi” panggil Alisya pelan “apa lagi yang mau kamu sampaikan Ca” “makasih karena papi menarik gugatan papi” ya, saat laki-laki paruh baya tersebut menegtahui sang putri babak belur hingga tak sadarkan diri Daniel langsung melayangkan gugatan pada pihak dojo dengan pasal penganiayaan berat yangdi alami putrinya. Tentu sebelum laporan tersebut naik Alisya sudah memohon untuk Daniel mencabut tuntutannya pada pihak dojo. “kalau begitu jangan pernah membuat ummamu repot dengan mengurus kamu di rumah sakit lagi” usai mengataka hal itu Daniel benar-benar keluar dari kamar sang anak, Alisya minta untuk dirawat di rumah saja, karena ia tak igin merepotkan siapapun untuk menjaga dirinya. “maafin ica yah umma, dari dulu sampai sekarang Ica selalu menyusahkan umma” “umma ataupun papi tidak pernah merasa kamu repotkan kamu tau sendiri papimu seperti apa nak, jangan diambil hati yah sayang fokus sama kesehatan kamu “umma mas Adit masih sibuk yah?” meskipun hatinya masih teramat sakit tapi rasa sayang itu tak berkurang sedikitpun, bahkan ada rasa penyesalan saat ia menyueki laki-laki itu tempo hari. katakanlah dirinya bodoh, tapi perasaan siapa yang bisa menentukan? ia hanya berharap kalau suatu saat suaminya bisa seperti papinya. “dasar anak umma, kemarin aja kamu cuekin dia sekarang ditinggal malah uring-uringan” “umma juga dulu gitu” jawab Alisya “papi kamu udah telepon kamu baik-baik di rumah yah nak kalau ada apa-apa telepon umma” hanya anggukan setengah tak terima dari Alisya, karena ia masih teramat rindu pada ummanya. **** Di tempat lain, suasana sangatterasa mencekam, bahkan isak tangis seorang ibu dan anak sangat liri terdengar. “pa, saya yakin papa akan sembuh. Saya akan membawa papa kemanapun demi kesehatan papa, yang penting papapunya semangat juang untuk kembali sehat, kita bisa kembali seperti dulu” bagaimanapun Aditya sangat menyangi ayah dari sekretaris sekaligus kekasihnya seperti ia menyayangi ayah kandungnya sendiri. “papa gak mau kemana-mana papa cuma mau menghabiskan masa tua papa di rumah ini bersama anak dan istri papa” tolak laki-laki itu dengan nafas tersenggal “kalau begitu saya akan mencarikan dokter dan perawat untuk memantau kondisi papa agar selalu sehat” “terima kasih yah nak, kamu memang laki-laki yang baik” “mama dan papa sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri jangan sungkan mengatakan apapun keinginan mama sama papa selagi saya mampu saya akan menuruti keinginan mama sama papa” “papa tidak menginginkan apapun saat ini juga nak, papa hanya ingin kamu memberi kejelasan status untuk putri papa” Tak ada jawaban dari Aditya, lidahnya kelu untuk mengatakan iya ataupun tidak. Ia belum berminat untuk memberi kejelasan hubungannya dengan Nesa bukan karena ia ingin mempermainkan perempuan yang rela berkorban untuknya, hanya saja ia belum memutuskan apapun. “pa... kami memang belum memikirkan untuk hubungan lebih jauh, kami masih nyaman seperti ini” bukan Aditya yang menjawab melainkan Vanessa entah itu murni dari hati Vanessa atau hanya menutupi sikap pecundang dirinya yang sampai saat ini masih menggantung hubungannya dengan Vanessa tanpa tali ikatan yang jelas. Tanpa diduga Ayah Vanessa menggenggam tangan Aditya seraya memohon “kalaupun kamu belum siap menikah dalam waktu dekat setidaknya ikatlah ia dengan tunangan terlebih dahulu setidaknya papa sudah merasa lega meninggalkan kamu dengan dia” Tak dapat d pugkiri Aditya cukup terperangah mendengar permintaan laki-laki itu, entah ia sadar atau tidak tapi kepalanya mengangguk menyanggupi permintaan laki-laki yang ia anggap sebagai orangtuanya sendiri. *** Alisya tengah membersihkan perkarangan rumahnya yang sudah ditumbuhi rumput liar, padahal rumput-rumput itu hanya satu minggu tak ia sentuh tapi sudah serimbun itu. Tanpa ia sadari sedari tadi ada sosok yang memperhatikan dirinya dari jauh tanpa menyapanya hanya diam memandangai. “mas” cicitnya saat matanya bertabrakan dengan milik suaminya. “bagaimana keadaan kamu?” tanya Aditya datar lebih datar dari triplek bangunan. “sudah mendingan mas, kamu sudah makan atau mau Ica siapin?” “nanti malam saja aku mau bersih-bersih lalu istirahat” “baiklah, kalau gitu aku mau melanjutkan ini dulu yah mas” “terserah kau saja” usai mengatakan hal tersebut Aditya berlalu begitu saja. Kepalanaya terasa berdenyut dengan semua permasalahan yang ia alami beberapa waktu belakang. ____ “mau tambah lauknya mas, sepertinya nafsu makanmu sedang kuat-kuatnya” “aku sudah lama tidak makan dengan benar” ucap Aditya tak sepenuhnya berbohong. Rasanya lidahnya sudah terbiasa dengan masakan keasinan atau terkadang hambar baginya. Meski diluar sana banyak makanan yang lebih layak untuk manusia tapi tetap saja makan masakan istrinya lebih terasa nikmat di lidahnya. “yah, kamu kurusan mas” “wajah babak belur kamu sudah jauh memudar” “iya mas, Alya memang dokter kecantikan terbaik” senyum Alisya membanggakan sang adik yang bersinar sebagai dokter kecantikan, bahkan Alya Aesthetic clinic sudah memiliki cabang di berbagai kota “apa kau menyesal?” “maksudnya?” “apa kau menyesal meninggalkan kedokteranmu demi gelandangan seperti ku? Sedangkan kemabaranmu mereka sukses dengan karier masing-masing” untuk pertama kalinya  menanyakan perasaan wanita ayu dihadapannya “untuk apa aku menyesali keputusanku sendiri mas, meskipun diawal-awal aku merasa ingin mundur karena tidak mengenali laki-laki yang kunikahi, lagi pula defenisi keberhasilan setiap orang berbeda, bagi sebagian orang menjadi wanita karier dan berpenghasilan tinggi menjadi goalnya sedangkan aku, aku hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang berkualitas,  kalaupun aku berpenghasilan atas kemampuan yang aku miliki itu hanya reward, meskipun aku yakin banyak yang diluar sana tidak sependapat dengan aku, aku tidak masalah karena bagi aku saat ini kebahagiaan kamu sudah menjadi kebahagiaanku, toh aku juga tidak kekurangan secara finansial” Lama mereka terdiam tanpa melakukan apapun hingga “aku sudah selesai terima kasih untuk makan malamnya” ucap Aditya membawa piring kotor miliknya dan milik Alisya kebelakang kemudian mencucinya. Tentu membuat Alisya terperangah melihat hal itu, tak ada sarkasme-sarkasme yang laki-laki itu muntahkan seperti biasanya atau sikap otoriternya. Entah apa yang terjadi selama dua minggu perpisahan mereka membuat sosok yang sudah lama mati dalam ingatannya kini kembali, laki-lakinya dulu yang penuh kelembutan mulai ia lihat kembali. “Ya tuhan kalau ini hanya mimpi maka panjangkan mimpinya”, kira-kira seperti itu lah harapan Alisya. “Ca, kamu bengong?” “ah enggak mungkin aku cuma kelelahan, kalau begitu aku duluan mas” “yah, aku ingin keruanganku terlebih dahulu” “kamu menyahut mas?” tanya Alisya heran. Pasalnya suaminya sangat jarang menanggapi ucapannya bila menurut laki-laki itu tak penting. Bahkan tadi Aditya mengatakan alsannya. “memang ada yang salah?” “mas, kamu sehat kan kamu memang Aditya suami aku kan, aku sedang berbicara dengan orang yang lima tahun lalu menikahiku kan?” tanya Alisya meletakkan punggung tangannya pada kening suaminya “kamu kenapa sih Ca, aku laki-laki yang sama yang kamu nikahi lima tahunyang lalu sudahlah aku sedang banyak pekrjaan. Kamu istirahat lah terlebih dahulu, nanti aku meyusul” sungguh Alisya masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat maupun ia dengar. Salahkah ia berharap perlakuan suaminya ini awet sampai selamanya” “kan kamu bengong lagi, kamu gak enak badan yah?” “enggak kok, aku sehat kalau begitu aku masuk duluan mas” “iya”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD