Untuk yang pertama kalinya setelah lima tahun berlalu Alisya dan suaminya makan malam bersama keluarganya, meskipun diawal Daniel begitu kukuh untuk menolak keinginan gila putrinya. Namun apa mau dikata Daniel hanya pasrah dengan ancaman yang diberikan Nadine,akh laki-laki tua itu masih saja menjadi bucin istrinya.
Suasana hening begitu menyelimuti makan malam tersebut, baik Daniel maupun Aditya sama-sama makan dalam tenang sedang kedua perempuan itu begitu awas melihat interaksi keduanya.
“papi mau nambah nasi atau lauk?” tawar Alisya
“sudah, papi sudah selesai” Alisya mengangguk ragu
“Ndine aku mau bermain catur” saat itu Nadine dan Alisya sama-sama bernafas lega bermain catur bermakna Daniel melakukan gencatan senjata, orang yang paling pertama mengibarkan bendera perang kini mulai melunak.
“baik akan ku siapkan, Ca bantuin umma menyiapkan buah dan cemilan”
“iya umma”
Baik Daniel dan Aditya saling tatap dalam diam yang tentu tak ada tanda-tanda Daniel akan melunak dengan mudah lain dengan Aditya, pemuda itu cukup santai menanggapi diamnya seorang Daniel.
“jadi, aksi tatap-tatapnya masih berlanjut atau aku dan Ica kembali kedalam?” tanya Nadine yang mulai jenga dengan diamn suami dan menantunya.
“kamu menjadi partnerku Nadine dan kamu jangan bersekutu dengan suamimu Ca” peringat Daniel pada putrinya.
“iya pi”
Perlawanan antara Daniel dan Aditya cukup sengit meskipun begitu, Aditya belum bisa melangkah jauh untuk membus benteng-benteng Daniel,
Skak
ucap Nadine pelan saat raja milik Aditya sudah di kepung dari berbagai sudut
Ditempat duduknya Alisya begitu geregetan melihat kesalahan demi kesalahan yang terus di lakukan oleh suaminya, ia tau itu hanya akal-akalan papinya untuk menjatuhhkan mental Aditya.
“gak adil” ucap Alisya kembali menyusun anak catur
“umma itu juara nasional papi juga jago main catur”
“lalu kamu mau apa?” tanya Daniel
“main lagi” kesal Alisya menyusup anak catur tersebut sesuai tempatnya.
“biar aku saja” cegat Aditya menahan pergerakan istrinya
“kenapa?”
“aku tak ingin menjadi bayang-bayang kamu seperti dulu, aku ingin melakukan semuanya sendiri baik kalah atau menang. Kalau kalah setidaknya aku sudah berusaha dan kalau menang itu atas kerja kerasku”
Sontak saja semua terdiam mendengar penutran dari Aditya. Laki-laki itu tak banyak bicara namun sekali berbicara bisa membuat semua orang merasa tersindir
“baiklah, kalau begitu kita akan berduel satu lawan satu” ucap Daniel serius kemudian mengalihkan tatapannya pada Nadine dan juga Alisya, Daniel merubah wajah dataranya semanis mungkin “sepertinya aku membutuh makanan manis bagaimana kalau papi request bika bakar buatan kalian”
Hal tersebut tak lepas dari pandangan Aditya bagaimana seorang Daniel bisa berubah dalam sepersekian detik bila bersangkutan dengan keluarganya.
Mau tak mau Nadine dan Alisya hanya mengangguk patuh.mereka paham betul saat itu Daniel dalam mode serius meski nada bicaranya terdengar sangat manis
Usai memastikan anak dan istrinya berlalu meninggalkan dirinya dengan Aditya Daniel kembali menyusun anak catur miliknya.
“siapa kau sebenarnya” tanya Daniel setelah lama terdiam memperhatikan pergerakan lawan mainnya
“maksudnya?” Aditya tak ingin terjebak dengan pertanyaan laki-laki dihadapannya, ia tau setiap kata yang ia lontarkan bisa menjadi bumerang untuknya
“aku sudah mencari latar belakang kau selama ini dan apa yang kau lakukan, jangan kau kira aku tak tau apa yang kau lakukan di belakang anakku selama ini”
Deg
Untuk pertama kalinya Aditya merasa degdegan dengan ucapan menohok yang di layangkan oleh mertuanya.
“maksud papi?”
“skak, kau kalah” ucap Daniel mencemooh
“maksudnya?” ulang Aditya mencoba mencerna maksud ucapan Daniel
“aku hanya membuat fikiran kau kacau, kau masih harus lebih banyak belajar!” pungkas Daniel berdiri dari tempatnya untuk melihat sejauh mana bika pesanannya
“curang” ucap Aditya tak terima. Padahal ia sudah mempersiapkan diri bila dirinya harus merasakan dinginnya tahanan dengan ucapan Daniel barusan tetapi ternyata laki-laki itu hanya menggertaknya
“bagian mana dari tindakanku yang mencurangimu anak muda? Aku hanya mengecoh konsentrasimu, dan itu berhasil lalu dimata letak kesalahanku” Daniel kembali menemui Aditya bersedekap kemudian mengatur ritme nafasnay
“dahulu kau datang meminta anakku tanpa membawa sepeserpun hingga kini kau sudah mulai bersinar... aku harap ia selalu berbahagia, karena bagiku dia adalah harta benda yang takkan kutukar dengan apapun kecuali dari cinta yang tulus dari suaminya” usai mengatakan hal yang ingin ia utarakan, Daniel berlalu meninggalkan Aditya dengan fikirannya sendiri
***
Tok tok
Tok tok
Entah sudah yang keberapa kalinya pintu kamar yang ia dan istrinya tempati digedor dari luar, yah mereka memutuskan untuk menginap di kediaman Mahesa. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya memasuki kamar istrinya.
“pi, ada apa?”
“bangunkan istrimu, segera ke bawah” titah Daniel
“tapi ini masih jam 3 pagi pi” sanggah Aditya
“bangun kan saja” Daniel kemudian berlalu tanpa memerdulikan kekesalana Aditya yang baru tertidur satu jam.
“Ca, bangun”
“ada apa?”
“gak tau tadi papi manggil”
“papi, ini jam berapa?”
“masih jam 3 cepatlah”
“iya sebentar” bukannya bergegas Alisya malah kembali menarik selimutnya sebatas dada
“bangun Ca, jangan sampai papi kamu yang gendong kamu sendiri sampai ke bawah”
Mau tak mau Alisya bangun mencuci wajahnya guna menghilangkan rasa kantuknya.
____
Mata yang tadi ngantuk kini berbinar mencium aroma yang menggugah selera, tak sampai di situ Alisya sudah bertengger di pundak Alvian juga kedua adik laki-lakinya sementara Tere dan Alya tengah asik dengan panggangan mereka.
“umma Ica mau”
“tidak kalau kamu belum melaksanankan qiamullail” peringat Nadine saat anak perempuannya mengambil capit.
“kami semua sudah melakukan qiamullail silahkan kalian melaksanakannya terlebih dahulu” ucap Daniel tengah mengipas panggangannya sambil mengendong cucu barunya dari Alvian dan Tere yang juga meramaikan ritual akhir bulan mereka.
Alisya hanya terdiam memperhatikan Aditya, lima tahun meninggalkan rumah orang tuanya membuatnya lupa dengan kewajibanya sebagai makhluk terhadap tuhannya meski tak membuat ia lupa cara menyembah.
“cepatlah tidak banyak waktu menunggu kita semua akan makan sahur sebentar lagi” ucap Alvian menata hasil panggangannya
Entah dorongan dari mana Aditya mengikuti langkah istrinya menuju ruang solat keluarga tersebut bahkan membasuh wajah, kedua tangan hingga kakinya bersiap melakukan amal ibadah yang entah kapan terakhir kalinya ia lakukan.
“kita solat masing masing saja yah mas, Ica cuma solat 2 rakaat”
Aditya hanya mengangguk sebagai respon ucapan istrinya. Rasanya ia pun belum mampu bila di suruh untuk menjadi imam solat istrinya, bahkan mungkin saja ia sudah lupa dengan bacaan solat.
Kalau bukan berada di rumah mertuanya Aditya sudah mengumpat sepuasnya, baru tidur satu jam, kemudian ia harus joging mengelilingi perumahan rumah mertuanya usai melaksanakan solat subuh di mesjid. Kepalanya seperti mau pecah, detak jantungnya saja terasa tak normal.
“baru tiga putaran dan kau sudah tak sanggup” cerca Alvian mengejek adik iparnya
“aku hanya tertidur satu jam dan kepalaku terasa pening”
“papi pun sudah tak sanggup kalau kalian mau melanjutkan silahkan, papi mau siap-siap dulu” mendengar itu Aditya sedikit tersenyum entah pemikiran konyol dari mana kalau ucapan mertuanya sebagai bentuk pembelaan untuknya
***
Aditya menghempaskan tubuhnya dengan sebelah tangnnya sibuk memijit tengkuknya yang terasa berat.
“aku udah buatin kopi spesial untuk kamu silahkan” ucap Nesa tersenyum manis
“terima kasih tapi hari ini aku sedang puasa” tolak Aditya jujur
“puasa? dalam rangka apa kamu puasa, tumben?”
“hanya kepingin aku ingin menghabiskan jam makan siangku dengan istirahat tolong bangunkan aku usai jam makan siang”
“yah, berarti hari ini aku makan siang sendirian dong”
“kita makan bersama setelah aku berbuka saja yah”
“aku gak suka makan sendirian Dit kamu tau itu, yah udah kalau gitu aku makan di sini aja” ucapnya menegluarkan ponselnya
Aditya mencoba bersabar dengan sikap tunangannya ditengah kepalanya yang tak henti cenat cenut ditambah lagi dengan sikap manja Nesa yang menurutnya kurang tepat waktu.
“yah sudah terserah kamu saja aku ingin istirahat sebentar”
Usai mengatakan hal tersebut Aditya benar-benar meninggalkan Nesa di alam mimpi sebelum pekerjaan lain berhamburan menghampirinya.
“kamu yakin cuma makan segitu bukannya kamu bilang puasa?” tanya Nesa melihat piring Aditya yang tak jauh beda dari sebelumnya. Sepulang kantor Nesa menagih hutang makan siang mereka dengan makan malam dan juga Aditya berbuka.
“aku hanya tidak nafsu makan”
“ini pasti karena kamu udah kelewat lapar lagian kenapa coba pakai puasa-puasa”
“diet” jawab Aditya asal, karena isa sudah tidak memiliki jawaban lain.