Neneng POV “Memang nggak tahu malu adik sepupumu itu!” hardik Nenek seraya tak henti membelai punggungku. Bagaimana tidak sakit perasaanku ini? Setelah menerima kabar gembira jika akan ada seorang pemuda untuk melamar, tiba-tiba saja semuanya batal, dikarenakan orang yang dilamar salah orang, katanya. Tak masalah jika pemuda itu orang asing, tapi jelas bukan. Pemuda itu adalah orang yang selama ini kuharapkan menjadi suami. Selama masa sekolah dulu, aku sudah menaruh hati, hanya saja tak mampu mengungkapkan karena tak mungkin juga wanita yang memulainya terlebih dahulu. “Sakit hati Neneng, Nek.” Aku mendongak, menampakkan wajah yang sudah penuh dengan uraian air mata. “Sabar, nanti Nenek akan coba bicara lagi. Lagi pula, tidak baik kalau Imas melangkahimu. Bagaimana pun, kamu kakaknya

