6

3541 Words
"Ne." Satu kata jawaban dari Mark itu membuat Eun Ji memutar bola matanya malas, lalu bergerak menuju kamarnya tak bersemangat. •• Mark berjalan mondar mandir di kamarnya tidak jelas. Ia merasa bosan. Apa yang harus dilakukannya malam ini di kamar yang sebenarnya bukan miliknya ini? Ia kemudian mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di atas tempat tidur, hendak mengirim pesan kepada Eun Ji. To : Lee Eun Ji Apa yang kau lakukan sekarang? Kau tau, aku sangat bosan di sini Pesan itu terkirim. Eun Ji yang menerimanya buru-buru membukanya. "Apa-apaan ini? Bukannya dia sendiri yang mengiyakan tawaran itu dan sekarang dia bilang bosan di sini. Apa maunya?" To : Mark Kim Kau sendiri yang mengiyakan tawaran itu. Lalu jika kau bosan, apa peduliku? Aku sendiri tidak tau harus berbuat apa Tidak lama setelah mengirim pesan itu, seseorang mengetuk pintu kamar Eun Ji. Tanpa menunggu lama lagi, Eun Ji menghampiri pintu dan segera membukanya. Tahu siapa yang berada di balik pintu, Eun Ji berniat untuk menutupnya kembali, namun Mark segera menghentikannya. "Aku bosan." "Apa peduliku?" balas Eun Ji tidak peduli. "Apakah di rumahmu tidak ada tempat yang bagus selain di kamar?" "Tidak ada." "Yah, baiklah. Kalau begitu aku hanya akan menerimanya." Eun Ji terdiam mendengar ucapan Mark. Apa mungkin yang dia maksud tentang perjodohan itu? Aishh ... beraninya dia mengancamku! •• Eun Ji dengan wajah murungnya melipat tangan di depan d**a dan menatap lurus ke depan, enggan melihat Mark di sebelahnya yang sejak tadi tersenyum memandangi langit malam. Mark sungguh menikmati suasana dan udara malam ini. Tapi senyuman itu kemudian memudar, setelah mendapati gadis di sebelahnya itu malah melamun. Dari sorot matanya, Mark bisa menebak ada sesuatu yang dipikirkannya. "Apa yang kau pikirkan?" Mark bertanya. "Apakah aku terlalu jahat?" Eun Ji balas bertanya. Pandangannya kosong. Mark memperhatikan wajah gadis itu sesaat. Ia bingung. Bingung dengan maksud pertanyaan Eun Ji barusan. Pertanyaan itu ditujukan untuk siapa? Atau, dia hanya iseng? "Oh, tentu saja. Kau sangat jahat padaku," jawab Mark, menyimpulkan pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya. Perkiraan Mark rupanya salah. Eun Ji benar-benar serius dengan pertanyaannya, meski Mark tidak tahu mengapa sekarang gadis itu tiba-tiba menangis. Ia mencoba menahannya, tapi tetap saja, air mata itu mengalir juga. "Ada apa denganmu? Kenapa menangis?" tanya Mark mulai panik. Seharusnya, Mark mengabaikannya. Karena yang Eun Ji tahu, Mark membencinya. Namun, yang Eun Ji tidak tahu adalah Mark sama sekali tidak pernah menyimpan rasa benci ataupun dendam pada gadis itu. "Kenapa? Kenapa Hye Rim tega sekali? Dia mengkhianatiku!" Eun Ji berusaha menahan isak tangisnya. "A-apa yang dia lakukan? Kurasa dia baik-baik saja." Tangis Eun Ji akhirnya pecah. Hingga tanpa disadari, kepalanya jatuh di bahu Mark. Mark yang awalnya bingung, akhirnya membiarkan gadis itu melepaskan kesedihannya. Perlahan tangannya merangkul Eun Ji dan sesekali mengelus pelan rambut gadis itu. Walaupun rasanya kaku dan grogi, tapi setidaknya Mark hanya ingin melakukan yang terbaik untuk menenangkan Eun Ji. "Kau harus sabar. Menurutku, Hye Rim adalah orang baik. Apapun yang dia lakukan, dia pasti punya alasan sendiri untuk itu. Aku yakin," ujar Mark yakin. "Bukannya kalian sudah bersahabat cukup lama? Jika memang dia pengkhianat seperti yang kau pikirkan sekarang, dia tidak mungkin akan menjadi sahabatmu karena kau bisa melihatnya dan menyadarinya sejak dulu. Kau menganggapnya sahabatmu karena kau tahu bahwa dia baik dan peduli padamu. Kalian sudah sering menghabiskan waktu bersama, kan? Jadi, saranku kau setidaknya harus mendengarkan penjelasannya." "Tidak semudah itu. Aku butuh waktu untuk memaafkannya. Aku terlalu kecewa dengan apa yang dia lakukan." "Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Mark penasaran. "Dia ... yang menyebarkan foto ciuman kita waktu itu." "Apa?!" •• Waktu berlalu dengan cepat. Eun Ji yang tertidur di bahu Mark membuat Mark tidak berani bergerak sedikit pun. Ia tidak tega membangunkan gadis itu. Tapi, Mark lebih tidak tega lagi untuk membiarkan Eun Ji merasakan dinginnya udara malam ini. Mark sedikit khawatir, benar-benar sedikit, kalau Eun Ji mungkin akan kedinginan dan flu. Mark akhirnya memutuskan untuk mengangkat tubuh Eun Ji pelan-pelan, membawanya ke kamar. Mark membaringkan tubuh Eun Ji pelan-pelan di atas tempat tidurnya. Setelah memastikan gadis itu sudah dalam posisi nyaman, Mark tidak langsung meninggalkannya. Ia mengambil waktu untuk memperhatikan wajah Eun Ji sesaat. "Perempuan cantik sepertimu tidak pantas untuk dikatakan pemarah. Tapi tidak tahu kenapa, aku malah suka melihat wajahmu ketika kesal. Ini benar-benar aneh," ujar Mark seraya tersenyum miring. Matanya kemudian teralih pada sebuah foto yang ditaruh di atas meja belajar milik Eun Ji. Dalam foto itu tampak Eun Ji bersama ayah dan ibunya. Mark tertawa kecil memperhatikan wajah Eun Ji yang tampak sangat bahagia dalam foto itu. "Kau benar-benar berbeda di foto itu." Mark kemudian terdiam. Ia baru saja teringat sesuatu. Mungkin ini terbilang agak lancang. Mark melangkahkan kaki menuju lemari pakaian Eun Ji, dan mencari sesuatu di dalamnya. "Ini dia ...," gumam Mark puas ketika berhasil mendapatkan gaun hitam yang dipakai Eun Ji di pesta ulang tahun Hye Rim waktu itu. •• Kedua mata yang sebelumnya terpejam itu akhirnya terbuka. Eun Ji segera bangun dan keluar dari kamarnya, menuju lantai bawah. Tiba di lantai bawah, ia melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Sekilas pandangannya menangkap sosok ayahnya yang tengah sarapan sendiri di ruang makan. Beberapa hari ini, sejak Eun Ji tak sengaja mendengarkan percakapan ayahnya dan ayah Mark tentang perjodohan, Eun Ji rasanya tidak ingin berlama-lama ataupun hanya sekadar mengucapkan satu kalimat panjang saat ayahnya mengajaknya mengobrol. Dirinya tentu saja tidak menerima perjodohan itu. Eun Ji tetap berjalan melewati meja makan, tanpa ada keinginan untuk menyapa pria setengah baya itu. "Mark sudah tidak di kamarnya. Apakah ia pulang pagi-pagi sekali? Apa kau melihatnya?" Eun Ji yang hendak menuangkan air ke dalam gelas kacanya mendadak terhenti. Pertanyaan itu ditujukan untuknyakah? Ya, tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan ayahnya di ruang makan ini. Namun, jujur saja, Eun Ji sendiri tidak tahu. Apa Mark sudah pulang lebih dulu? Tanpa pamit padaku? "Eh, kenapa aku peduli?" gumamnya kemudian sambil menepuk keningnya beberapa kali. Eun Ji tidak sadar, ayahnya memperhatikannya. "Peduli apa?" "Hah? Tidak, tidak ada." Eun Ji kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda, menuang air di gelas dan segera meneguknya sampai habis. Setelah menaruh gelasnya di tempat cucian piring, ia bergegas kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Eun Ji mengambil ponselnya yang berada di atas laci, lalu menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Eun Ji mengusap touchscreen ponselnya, mencari sebuah kontak. Gerakan jemarinya terhenti begitu mendapatkan kontak Mark. Bukannya melakukan apa yang sejak tadi ia sudah rencanakan, Eun Ji malah diam memperhatikannya. Dalam benaknya, berputar satu pertanyaan yang membuatnya perlu menimbang-nimbang lagi untuk mengirimkan pesan kepadanya atau tidak. Setelah bergulat cukup lama dengan pikirannya, akhirnya ia mengirimkan pesan juga pada laki-laki itu. To : Mark Kim Kenapa pulang tanpa pamit? Itu tidak sopan 1 menit. 5 menit. 10 menit. Eun Ji tak kunjung mendapat balasan sampai ia jadi sebal sendiri. Apa gunanya ia menunggu Mark membalas pesannya? Dan kenapa juga ia begitu peduli? Sejujurnya, Eun Ji tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Sejak apa yang dilakukan Mark untuknya tadi malam, Eun Ji rasanya perlu mempertimbangkan lagi segala pikiran bencinya terhadap Mark. Ia sadar, dirinya juga tidak membenci laki-laki itu. Eun Ji hanya jengkel dan kecewa dengan pertemuan pertama mereka. Dan sekarang, apakah salah jika ada secercah harapan yang muncul di hatinya untuk bisa berteman dengan Mark? ••   Bosan menunggu pesan yang sudah dari dua jam yang lalu itu tak kunjung mendapat balasan, Eun Ji memutuskan mendatangi Mark langsung. Walaupun ia dapat beralasan ingin mengerjakan tugas yang harus dikerjakannya dari awal lagi bersama Mark, tapi ia tidak dapat membohongi perasaannya. Eun Ji juga punya maksud lain untuk bertemu dengannya. Beberapa saat kemudian, setelah Eun Ji memencet bel rumah Mark, pintu akhirnya dibuka seorang wanita paruh baya yang dilihat dari penampilannya, sepertinya pekerja di rumah Mark. "Annyeong haseyo." Eun Ji menyapa dengan sopan dan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. Tak lupa, ia tersenyum. "Apakah kamu mencari Mark?" Pertanyaan itu sontak membuat Eun Ji terkejut. Tahu dari mana bibi ini? "Iya." Eun Ji menjawab ragu-ragu. "Sayang sekali. Mark sedang tidak ada di rumah. Pagi-pagi sekali, dia sudah pergi. Saya sudah bertanya, tapi dia tetap tidak ingin memberitahu," jawab bibi itu dengan nada menyesal. "Oh, begitu." Eun Ji mengangguk mengerti. Ke mana perginya Mark sepagi itu? •• Sudah dari setengah jam yang lalu, Eun Ji sibuk memutarbalikkan lembar demi lembar buku besar yang berada di genggamannya saat ini. Sedangkan laptopnya, masih dalam posisi yang sama, dan program microsoft word yang dibiarkan terbuka begitu saja tanpa ada satu kalimat pun tertulis di sana. Lee Eun Ji? Mengerjakan tugas semacam ini sendirian? Sebanyak apapun doa dan sebesar apapun harapan yang diberikan untuk gadis cantik itu, tetap tidak menjamin terselesaikannya tugas itu. Ditambah lagi pikirannya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Ia masih saja memikirkan Mark. Seandainya saja Mark ada di sini, Eun Ji tidak akan kalut seperti sekarang. "Kenapa dia belum pulang juga?" Eun Ji melangkahkan kakinya mendekati jendela kamarnya dan memperhatikan rumah bertingkat dua di depan rumahnya itu. Masih sepi. Mobil yang sebelumnya terparkir di sana kini tidak nampak lagi. Eun Ji masih berdiri diam di dekat jendela, saat pintu kamarnya diketuk dari luar. "Masuk!" Eun Ji berteriak tanpa melepas perhatiannya pada rumah itu. "Annyeong!!" Seruan ramai itu lantas membuat Eun Ji menoleh terkejut. "Ini apa-apaan?!" Eun Ji menganga, setelah mendapati beberapa laki-laki yang sebenarnya tidak asing baginya masuk satu per satu ke kamarnya. Ketujuh laki-laki itu segera terpencar ke segala sudut ruang kamar Eun Ji. Tanpa memikirkan sopan santun atau memang tidak tahu sopan santun, mereka menciptakan kekacauan. Ada yang dengan lancang duduk di atas tempat tidur milik Eun Ji, membuka lemari, memasuki kamar mandi tanpa seizin sang pemilik. Tatapan tajam Eun Ji ditunjukkannya pada seorang laki-laki yang hanya berdiri diam menatapnya. Mar. Bukan ia yang berulah, malah dirinya yang mendapatkan tatapan menakutkan itu. "Kau!" Tatapan yang terlihat akan membunuh itu membuat Mark mengambil ancang-ancang untuk berlari dari sana. "APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!" Seketika suasana di kamar jadi hening. Keenam laki-laki lain yang merupakan anggota GO7 sama-sama terdiam dengan tatapan tertuju pada Eun Ji, dan juga Mark. •• "Tapi aku tidak suka jika kalian di sini dan mengacaukan kamarku," kata Eun Ji kesal. "Bukannya kau menyuruh kami masuk?" Jin Young menjawab. "Tapi aku tidak menyuruhmu untuk mengacaukan isi kamarku, kan?" "Sudahlah. Kami minta maaf. Dan sebagai permintaan maaf kami, kami akan membantu kalian mengerjakan tugas itu," sahut Jae Ki, mengarahkan pandangannya pada Mark dan Eun Ji. Eun Ji dan Mark saling tatap beberapa detik, lalu secara bersamaan mengangguk. •• Eun Ji bersama Mark dan Jin Young berjalan menuju dapur. Ketiganya sama-sama menyibukkan diri untuk membuat beberapa gelas jus jeruk untuk disajikan kepada lima teman mereka. Eun Ji sambil menuangkan jus jeruk pada salah satu gelas, sesekali melirik ke arah Mark yang juga sibuk dengan urusannya itu. Jin Young menyadarinya. Tentu saja itu membuatnya sedikit cemburu. Namun sesaat kemudian, ia berdeham. "Aku ke kamar sekarang," kata Jin Young dengan nada dingin. "Oke," jawab Eun Ji, masih sibuk menuangkan jus jeruk. Setelah Jin Young pergi, keheningan menyelimuti Eun Ji dan Mark, sampai akhirnya Eun Ji membuka suara. "Kenapa tidak bilang padaku kalau mau pulang?" Mark mengalihkan pandangannya pada Eun Ji di sebelahnya, dan menunjukkan raut wajahnya yang bingung. Tapi kemudian ia teringat, mungkin saja maksud pertanyaan itu adalah tentang Mark yang pulang tanpa pamit pagi tadi. "Ah, iya. Appa-ku menelepon tadi pagi," jawab Mark. "Eh, jaket itu. Bukannya aku belum mengembalikannya? Kau dapat dari mana?" tanya Eun Ji, setelah sadar jaket yang dipinjamkan padanya tadi malam sekarang sudah ada di tubuh Mark. Karena seingat Eun Ji, jaket itu masih ia simpan di kamarnya dan lupa untuk mengembalikannya pada Mark. "Aku mengambilnya kemarin. Setelah aku mengangkatmu ke kamarmu." "Hah?" Eun Ji tidak jadi melontarkan pertanyaan lagi karena Mark sudah berjalan meninggalkannya. •• Eun Ji menghempaskan tubuh mungilnya di atas ranjang empuknya. Matanya memandang langit-langit kamarnya. Kali ini ia merasa cukup lega dan senang. Tugas itu, dalam waktu tiga jam saja sudah terselesaikan berkat bantuan Mark dan teman-temannya. Eun Ji sangat berterima kasih untuk itu. Namun sesuatu kembali teringat olehnya. "Mark? Dia mengangkatku ke kamar? Apakah aku terlalu nyaman tidur di pundaknya?" Eun Ji bergumam, tidak percaya. Perasaanya saat ini benar-benar sulit ia mengerti. Karena selama ini, jujur saja, ia tak pernah merasakannya. Tidak bisakah ... jika ia merasa biasa-biasa saja dengan hal itu? Suara pintu yang diketuk kemudian mengalihkan pandangannya pada pintu kamar. "Masuk!" Sosok ayahnya muncul di sana, membuat mata Eun Ji kaget dan segera duduk di pinggir tempat tidur. Ayahnya menutup pintu, dan melangkah pelan mendekati anaknya itu. "Ada apa?" Eun Ji menatap bingung ayahnya. Sebelum menjawab pertanyaan itu, ayahnya lebih dulu duduk bersebelahan dengan Eun Ji. "Appa tidak tahu kenapa kau berusaha menghindari appa. Tapi ... apakah itu mungkin karena ... perjodohan itu? Kau dan Mark?" Butuh beberapa detik Eun Ji mencerna kalimat itu baik-baik di otaknya. Tidak pernah terlintas di pikirannya jika ayahnya akan melontarkan pertanyaan tentang perjodohan itu sekarang. "Dengarkan. Appa tidak memaksamu untuk bersamanya. Itu hanya keinginan appa sejak dulu. Jadi, kalau kau tidak menginginkannya, tidak apa-apa. Appa mengerti." Sampai ayahnya keluar dari kamar, Eun Ji tidak dapat berkata-kata. Mungkin dulu, saat ia mengatakan bahwa dirinya membenci Mark, Eun Ji dapat dengan mudahnya mengatakan tidak untuk perjodohan itu. Tapi entah kenapa sekarang, Eun Ji malah tidak bisa berkata apa-apa? •• Jin Young sudah lima belas menit berada dalam perjalanan pulang dari rumah Eun Ji, namun pikirannya masih tak juga lepas dari sosok gadis itu. Rasanya seperti perasaannya tidak akan terbalaskan. Ia tau memang sulit mengambil hati seorang Lee Eun Ji. Tapi, setelah sekian lama menjalin hubungan persahabatan dengan Jin Young, apakah Eun Ji benar-benar tidak bisa merasakan perasaan lain yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya? Apakah mereka memang hanya ditakdirkan untuk bersahabat? Lalu ... bagaimana dengan usaha Jin Young selama ini? Apakah sekarang ia dapat mengambil kesimpulan bahwa semuanya itu sia-sia? "Arrgggghh!" Jin Young berteriak frustasi di dalam mobilnya. Membuat pria paruh baya yang sibuk mengemudi menatap Jin Young lewat kaca spion tengah. "Apa ada yang salah, Tuan?" Menyadari pertanyaan itu ditujukan untuknya, Jin Young menjawab, "Eh, tidak apa-apa, Ahjussi." Tidak lama setelah menjawab begitu, matanya tanpa sengaja mendapati sosok perempuan yang sudah beberapa hari ini tidak ditemuinya sejak libur. Jin Young kemudian menyuruh pria paruh baya itu berhenti dan menepikan mobil di depan sebuah kafe. Jin Young melangkah masuk, menuju ke sudut ruangan di mana gadis itu duduk, lalu duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan gadis itu, Kim Hye Rim. "Hai." Hye Rim yang sebelumnya sibuk dengan laptopnya, akhirnya melirik, dan menghentikan aktivitasnya saat itu juga. "Oh, kau." "Kau sendirian? Sedang apa?" tanya Jin Young, yang dibalas anggukan kepala tiga kali dari gadis yang ditanya. "Mengerjakan tugas." "Apa? Mengerjakan tugas? Tugas kelompok?" Sekali lagi, Hye Rim mengangguk. "Bukannya kau, Mark, dan Eun Ji ada di dalam satu kelompok? Kenapa kau mengerjakannya sendiri?" Jin Young semakin bingung. "Kau tidak tahu, ya? Eun Ji sudah tahu apa yang kuperbuat. Dan sekarang, dia benar-benar membenciku." "Aku turut sedih atas hal itu. Tapi, aku akan mencoba untuk membuat hubungan kalian membaik lagi," kata Jin Young, berusaha menenangkan Hye Rim. Jujur, ia tidak tega melihat Hye Rim yang harus berjuang sendirian saat ini. "Kalau kau sedang bermasalah dengannya, aku juga sama. Aku juga bermasalah dengannya. Tapi mungkin lebih tepatnya perasaanku," lanjut Jin Young. Melihat Hye Rim yang seperti menunggu Jin Young untuk menjelaskannya, Jin Young kembali berbicara. "Aku ... cemburu melihatnya dengan Mark. Aku tidak yakin kalau Eun Ji benar-benar membencinya. Dan sekarang aku tidak tau harus berbuat apa." Hye Rim tampak berpikir, lalu kemudian membuka mulut untuk menjawab, "Aku juga rasa seperti itu. Dan jika kusarankan, kau harus belajar dariku, karena aku sudah tidak ingin lagi memaksakan perasaanku," gurau Hye Rim sambil tertawa kecil. Namun meskipun hanya bergurau, ada perasaan lain yang dirasakan Jin Young. Ia tidak tahu, apakah harus ikut tertawa atau merasa kecewa. "Haruskah?" Jin Young akhirnya ikut tertawa. Hambar. "Ehm ... apakah tugasmu hampir selesai?" Jin Young mengubah topik pembicaraan. "Siapa bilang? Aku sudah mengerjakan setengahnya, tapi tiba-tiba saja laptopku mati. Dan sekarang, aku harus mengerjakan ulang dari awal. Kau tahu, rasanya aku hampir mati karena ini." "Jinjja? Mau kubantu?" tawar Jin Young. "Tentu saja!" •• Sambil melipat kedua tangan di atas mejanya, mata Jin Young masih saja tak lepas dari wajah gadis di hadapannya itu, Kim Hye Rim. Jin Young tidak tahu, betapa hati Hye Rim sedang mengomel saat ini. Ia tahu Jin Young sedang memperhatikannya. Hanya saja, ia berusaha menahan debaran jantungnya. Sebisa mungkin Hye Rim melupakannya dan membuang perasaan itu jauh-jauh, tapi dengan sikap Jin Young yang sekarang ini, membuat Hye Rim tidak mampu melakukannya. "Ya! Bukannya kau bilang mau membantuku? Apakah dengan tatapan itu akan membantu menyelesaikan tugas ini?" tegur Hye Rim, tak tahan. "Ya, ya ...." Jin Young mengalah, kemudian meraih laptop yang sebelumnya berada di hadapan Hye Rim. "Apa yang perlu kubantu?" Jin Young membaca kata demi kata yang tertulis di layar laptop. Namun sebelum Hye Rim menjawab, ponsel Hye Rim tiba-tiba saja berdering, tanda panggilan masuk. Secepat mungkin ia mencari benda itu di dalam tasnya, lalu mengeluarkannya. "Halo?” "Apa?" Jin Young yang melihat ekspresi wajah Hye Rim yang tampak terkejut menjadi penasaran. Setelah Hye Rim memutuskan sambungan teleponnya, Jin Young melihat perubahan raut wajah Hye Rim. Yang tadinya terkejut, kini menjadi panik. "Apa yang terjadi?" Jin Young bertanya penasaran. "Sepertinya ... aku harus pulang sekarang." Hye Rim mengambil laptopnya yang baru beberapa detik disentuh oleh Jin Young, memasukkannya ke dalam tas selempangnya, lalu dengan langkah tergesa-gesa keluar dari kafe itu. Jin Young tidak tinggal diam. Ia ikut mengejar Hye Rim. Hingga mereka tiba di rumah Hye Rim. Tanpa ragu, Jin Young melangkah masuk. Ia terus mengikuti langkah kaki Hye Rim sampai di lantai dua, sebuah kamar yang mungkin milik ayahnya. Meskipun awalnya ragu, tapi akhirnya ia masuk juga. Dan, betapa terkejutnya Jin Young yang menyaksikan kejadian itu, hingga tanpa disadari mulutnya setengah terbuka dengan tatapan tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ayah Hye Rim terbaring di atas tempat tidurnya, bukannya tertidur, tapi tampak sedang berada di bawah pengaruh alkohol. •• Dengan tangan yang cukup bergetar, Jin Young menepuk pundak Hye Rim yang sudah dari sepuluh menit lalu terus menenggelamkan wajahnya dibalik kedua tangan yang dilipat di atas meja makan. Jin Young bingung harus melakukan apa. Jin Young sadar, dirinya sudah lama tidak menghabiskan waktu dengan Hye Rim, setelah ia mengenal seorang Lee Eun Ji dan menyukainya. Sekarang, Jin Young menyesalinya. Menyesal karena ia sudah melupakan Hye Rim yang sudah dikenalnya sejak kecil. Dan sekarang, dirinya bahkan bingung bagaimana menghibur gadis itu. "Kau harus sabar, Hye Rim," ucapnya lirih kemudian seraya menepuk bahu Hye Rim pelan. Setelah Hye Rim mengangkat wajahnya, Jin Young merasa cukup lega. "Perusahaan tempat appa-ku bekerja, terancam bangkrut. Dan tentu saja itu berarti kebangkrutan itu akan berimbas pada appa-ku. Dan appa-ku tidak bisa menerima kenyataan itu," jelas Hye Rim, dengan air mata yang sesekali mengalir di pipinya. "Kau hanya perlu berada di sisinya dan berusaha menenangkannya. Dengan begitu, pelan-pelan, kurasa appa-mu pasti akan mencoba menerimanya," kata Jin Young, selembut mungkin. "Ya. Gomawo, Jin Young," balas Hye Rim seraya tersenyum. Entah kenapa, sekarang Jin Young ingin lebih lama melihat senyum gadis itu. •• Pagi itu, tepatnya hari Minggu, Eun Ji tengah bersiap-siap untuk pergi. Yah ... jangan bilang ini keinginan Eun Ji. Di hari libur seperti ini sudah menjadi kebiasaan Eun Ji untuk tidur selama yang ia inginkan, tapi karena Jin Young, Eun Ji harus membatalkan rencana tidurnya itu. Eun Ji bertanya-tanya dalam benaknya, apa yang ingin Jin Young bicarakan dengannya hari ini? Apakah benar-benar penting? Kini Eun Ji duduk diam di dalam sebuah kafe, tempat di mana Eun Ji, Mark, dan Hye Rim mengerjakan tugasnya beberapa hari yang lalu.. Sambil sesekali mendesah dan menengok arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya, Eun Ji menatap keluar jendela, mengamati setiap pejalan kaki dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Matanya kemudian beralih pada langit biru cerah. Sebentar lagi musim gugur tiba, pikirnya. Terlalu asik dengan dunianya, ia sampai tidak sadar kalau Jin Young sudah hadir di sana, dan langsung duduk berhadapan dengan gadis itu. "Oh, kau sudah datang," ucap Eun Ji. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Sepertinya sangat serius." "Hmm ... baiklah." Setelah memantapkan hati, Jin Young memulai pembicaraannya. "Kau marah pada Hye Rim?" Mendengar nama yang baru saja diucapkan Jin Young membuat Eun Ji menghela nafas. Apakah ini maksud Jin Young ingin bertemu dengannya? Menyia-nyiakan waktu tidurnya hanya untuk membahas soal Hye Rim? "Tidak hanya marah. Tapi juga kecewa," jawab Eun Ji dingin. "Kau ... belum mendengar penjelasannya?" "Sudah." "Lalu kenapa masih marah?" "Jin Young. Apakah aku adalah satu-satunya orang yang bersalah dalam hal itu? Sampai-sampai dia melampiaskan seluruh rasa irinya padaku? Dengan mengecewakanku? Benar begitu?" Eun Ji meninggikan suaranya. "Lalu kau ingin Hye Rim melampiaskan semuanya pada siapa? Aku? Mark? Apa kau menginginkannya? Aku berkata seperti itu bukan berarti aku membiarkan dia mengecewakanmu. Tapi setidaknya ... seorang sahabat yang baik akan berkorban demi sahabatnya. Bahkan jika itu tentang perasaan, karena kalian sadar, persahabatan kalian yang terpenting," jelas Jin Young panjang lebar, tapi berhasil membuat Eun Ji bungkam. "Aku juga tidak begitu yakin kalau kau akan membiarkan Hye Rim melampiaskan amarahnya pada Mark," lanjut Jin Young, membuat Eun Ji menatapnya serius. "Sudahlah, kalau kau hanya ingin membahas soal itu lagi, Aku pergi sekarang." Baru saja Eun Ji berdiri di tempatnya dan hendak meninggalkan Jin Young, namun ia mengurungkan niatnya ketika tangan Jin Young memegang lengannya. "Dengarkan yang satu ini. Ini penting," kata Jin Young serius. Eun Ji menoleh, menghela napas sebelum akhirnya menuruti perintah Jin Young. Ia kembali duduk sambil menatap Jin Young malas. "Tolong jangan seperti ini lagi dengan Hye Rim. Keadaannya benar-benar kacau saat ini. Aku juga tidak ingin melihat kalian bertengkar," ujar Jin Young. "Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya? Bukannya dia yang memulai?" "Karena ... aku tidak ingin melihatnya semakin tertekan karena berbagai masalah yang dihadapinya." Eun Ji berusaha mencerna kata-kata Jin Young baik-baik di otaknya. Apa maksud Jin Young? Berbagai masalah yang dihadapi Hye Rim? Apakah ada masalah lain selain pertengkaran ini yang dialami oleh Hye Rim? "Apa maksudmu?" Eun Ji bertanya, ragu. "Perusahaan tempat ayahnya bekerja, terancam bangkrut. Dan kalau itu benar-benar terjadi, mungkin saja dia akan pergi.” Tenggorokan Eun Ji serasa tercekat mendengar informasi dari Jin Young. Walaupun hubungannya dengan Hye Rim sedang tidak baik-baik saja, bukan berarti mereka akan bermusuhan selamanya, 'kan? Tiba-tiba saja Eun Ji merasa betapa buruknya dirinya. Ia mulai merenungkan segalanya, dan menyesali situasi yang terjadi sekarang. ••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD