Di tengah hujan yang lebat Elsa berlari telanjang kaki di tepi jalan. Payung yang Dia bawa, dipegang erat erat agar baju yang Dia pakai tidak sepenuhnya terkena air. Kalau terkena air semua pasti menambah cetakan tubuh indah Elsa terlihat.
Jalan itu, pada malam hari memang sangat sepi. Hanya ada satu dua mobil truk yang lewat karena sudah jam sepuluh lebih. Elsa berjalan sambil melihat kebelakang, takut kalau mobil Pak Surya tadi, berhasil menemukannya kembali. Elsa berjalan terengah engah dan kebingungan mencari tempat persembunyian, karena merasakan dadanya sangat sesak dan haus yang dirasakan sangat menyiksanya.
Tiba tiba Dia melihat sesosok laki laki yang berlari mengejarnya di belakang. Elsa sangat ketakutan, sampai payung yang di pegang terbang ketiup angin yang lumayan kuat. Elsa berlari dengan sisa tenaga yang Dia punyai, mencari tempat sembunyi lagi di semak semak, sampai Dia terjatuh beberapa kali karen jalan yang terjal.
Saat dirasa situasi agak aman, Elsa berlari keluar dari semak semak, karena meeasa sangat kepanasan di dalam hujan itu. Elsa berlari ke tengah jalan tanpa memerhatikan bahwa ada mobil yang melintas berlawanan arah dengannya, dan hampir saja menabraknya. Seketika Elsa merasa lemas terjatuh di jalan, karena tak kuat menopang tubuhnya sambil berkata, "Tolong Saya..."
**
Di Cafe Star tampak Bu Cantika sedang sibuk menyiapkan jamuan untuk Vian, yang tiba tiba berkunjung di Cafenya bersama Roy. Dia sangat berharap Vian mau menyetujui permohonan kerjasamanya dengan Bastian Group, agar usaha cafenya lebih berkembang.
"Saya sangat senang, melihat Pak Vian mau berkunjung ke Cafe ini lagi. Pak Vian mau hidangan apa Pak, malam ini? Dan apa perlu saya panggilkan Angel di Cafe ini? jika Pak Vian mau berkarauke bersama untuk menemani?" tawar bu Cantika berharap Vian puas dengan pelayanan yang di berikan.
"Tidak usah repot repot bu Cantika, Saya kesini bersama Roy mau mengecek profile Cafe ini, dan juga data semua staff Cafe ini. Karena untuk bekerja sama, semua unsur harus memenuhi. Apakah bisa?" Vian berkata dengan penuh wibawa menyembunyikan maksud kedatangannya dengan dalih cek data.
"Oh sangat bisa Pak Vian, biar segera Saya ambilkan." Bu Cantika keluar ruang vip mengambil data profiel dan seluruh data karyawan di Cafe Star. Yang Bu Cantika tahu hanyalah, akan ada kabar baik sampai sampai tengah malam begini, Vian mau datang ke sini untuk mengecek langsung.
"Ini Pak, data data Cafe dan staf disini Pak." Sambil menyodorkan file itu ke meja dekat dengan Vian dan Roy.
"Roy tolong cek.!" sambil mengkode maksudnya ke Roy.
"Baik Pak." Roy dengan cekatan mengecek file staf di Cafe itu.
"Oya bu Cantika, apakah status karyawan di sini semua sama? untuk jam kerja dan gaji?" Vian bertanya sambil menyelidik.
"Hampir semua sama Pak, untuk jam kerja dan gajinya, tapi ada satu staf yang emang berkerja part time di sini Pak, karena masih kuliah." jawab bu Cantika menjelaskan.
"Satu?apa Dia spesial bu? saudara Ibu Cantika?" Via bertanya menyakinkan.
"Oh tidak Pak, Dia disini dulu memohon untuk bekerja part time disini Pak, karrna masih kuliah dan butuh biaya hidup. Saya menerimanya karena kinerjanya bagus Pak. Masakannya juga enak, Tapi..." Bu Cantika tiba tiba menghentikan kata katanya.
"Tapi kenapa Bu Cantika." Vian menatap penasaran.
"Beberapa hari yang lalu dia memohon kepada Saya, untuk meminjaminnya uang Pak, kalo tidak salah 150 juta, Dia butuh uangnya maksimal akhir bulan ini Pak."
"Terus apa Bu Cantika pinjami?"
"Tentu saja belum Pak, lagian Saya belum ada uang sebanyak itu untuk di pinjamkan, tapi Dia menawarkan sertifikat rumahnya juga Pak, dan dia akan menyicilnya dengan gaji tiap bulannya. Tapi ya, Saya belum bisa kasih keputusan Pak, uang 150 juta terlalu banyak bagi Saya untuk dipinjamkan" Jawab bu Cantika jujur.
"Akhir bulan Bu?" ulang Vian.
"Iya Pak, Dia meninginkan uang itu maksimal akhir bulan ini Pak. Kenapa ya pak?" tanya Bu Cantika penasaran.
"Oh tidak apa Bu." Vian kemudian berfikir, kata pak Tommy gadis itu butuh uang besok pagi, tapi kenapa di Bu Cantika Dia bilang umyuk akhir bulan? apa memang gadis ini seorang penipu? yang meminjam kemudian lari? huufffg Vian tanpa sadar menghembuskan nafasnya dengan mulutnya. Dasar penipu! batinnya berargumentasi.
"Apa bisa Ibu panggilkan Dia sekarang? Saya ingin melihatnya" Ucap Vian lagi.
"Bentar Pak, coba Saya telepon dulu." Bu Cantika kemudian mencoba menelepon Elsa tapi nomor yang di hubungi tidak aktif. "Maaf Pak Vian, hari ini Dia jadwal off, dan ini Saya coba telepon juga tidak aktif." jawab Bu Cantika menyesal.
"Baiklah Bu, mungkin lain kali."
"Baik Pak Vian, bisa saya atur nanti."
"Roy, apa sudah selesai?" sambil melihat Roy yang lagi sibuk menata berkasnya kembali.
"Sudah Pak, dapat." jawab Roy dengan kode.
"Baik Bu Cantika, besok kapan kapan Saya berkunjung kesini lagi." Vian berdiri sambil berpamitan kepada Bu Cantika.
"Terimakasih banyak atas kunjungannya Pak Vian, di luar masih hujan lebat, apa Pak Vian tidak menginginkan sedikit hiburan dulu dari Angel Kami?" Bu Cantika menggoda Vian.
"Tidak Bu, terimakasih, Saya masih ada urusan." sambil berjalan keluar diikuti Roy dibelakangnya.
"Roy, apa sudah kamu dapatkan?" Tanya Vian begitu keluar dari Café itu.
"Sudah Pak, semua sudah sy foto tadi,"
"Bagus." Dengan amarahnya Vian memasuki mobil Alpard nya di kursi belakang di sopiri Roy.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, jalan yang dilalui hanya ada sedikit kendaraan yang lewat. Tiba tiba Roy menginjak gas dengan tiba tiba. Spontan membuat Vian kaget yang hampir memejamkan mata karena hawa yang dingin yang dirasakan.
"Ada apa Roy?" Vian bertanya kepada Roy yang masih terkaget.
"Ada wanita hampir tertabrak di depan, di tengah jalan Pak, dan sekarang Dia terjatuh di depan. Kita tolong atau putar balik Pak? jalanan ini sangat sepi. Takutnya hanya gerombolan perampok Pak." Roy bertindak sesuai intruksi boss nya.
"Turun saja, cek kondisi Wanita itu, apa ada yang terluka?" Vian mengarahkan sambil menyapu situasi di sekelilingnya di dalam mobil.
Setelah melihat wanita itu Roy segera mendekati mobil dan melaporkan ke Vian. "Pak Vian, gadis itu ternyata Elsa, bagaimana Pak?"
"Elsa?maksudmu Gadis itu?" Vian balik bertanya.
"Iya pak." Roy mengiyakan.
Vian kemudian turun dari mobil di payungi Roy. Dia melihat Elsa yang terbaring lemah di jalan sambil mengangkat tangannya "Tolong Aku Tuan, seseorang ingin mencelakakanku."
Elsa terlihat sangat lemah dan berantakan tampak seperti orang kebingunganh di guyuri hujan lebat.
Vian kemudian dengan cepat menggendong Elsa masuk ke dalam mobilnya, dan mendudukannya di kursi belakang, di sebelahnya. Elsa yang tak kuat menahan tubuhnya bersandar pada tubuh Vian didekatnya. Badan Elsa tampak bergeliat tak beraturan. Vian menatapnya dengan aneh. Elsa yang kehujanan basah kuyup itu, bagaimana mungkin merasa kepanasan, padahal baju yang Dia kenakan sangat minim. Kemudian Vian melepas jas yang Dia kenakan menyelimutkan di tubuh Elsa. Tapi Elsa bergerak terus terlihat sangat menderita.
"Pak, sepertinya Dia dalam pengaruh obat perangsang." Roy memecah keheningan karena melihat keanehan juga pada kondisi Elsa yang terus mendesah.
"Iya, Aku juga merasa ada yang tak beres. Cepat pergi dari sini." perintah Vian.
"Baik Pak, kita ke apartemen atau mana Pak?" Roy meyakinkan agar tidak salah mengemudi.
"VVIP Hercules saja." jawab Vian menyebut rumah keduanya setelah apartemennya, karena dirasa lebih dekat.
"Baik Pak."
Vian melajukan mobil Alpard nya dengan laju cepat. Saat sampai di lampu merah, Dia tetap mematuhi rambu rambu lalu lintas. Tak jauh dari tempat itu, Vian menatap keluar jendela melihat ada laki laki yang berjalan membawa payung dan senter di tangannya mendekati kaca tempat Roy mengemudi. Dia mengenali laki laki itu adalah Tyo asisten pribadi Pak Surya.
"Roy, bukankah itu Tyo?"
"Iya Pak, boleh Saya membuka kacanya?"
"Iya, sedikit saja, tanyakan kenapa sampai sini," sambil menutupi Elsa dengan jas nya.
Tok tok tok...Tyo mengetuk jendela tempat Roy duduk, kebetulan hanya ada mobil itu yang berhenti.
"Ada apa Tyo kenapa kamu jalan kaki disini?" tanya Roy kepada Tyo dengan membuka sedikit kacanya.
"Apa kamu melihat ada Gadis lari di sekitar sini?Dia memakai gaun mini warna hitam tanpa alas kaki?" jawab Tyo yang tampak kebingungan.
"Emang dia siapa? pacarmu?" Roy menyelidik.
"Bukan atuh, biasa barang baru Pak Surya, tapi Dia tadi malah melarikan diri, pura pura sakit perut dan suruh Aku belikan ini." sambil menunjukkan pembalut wanita yang di belinya.
"Kenapa kog sampai kabur?" Roy tambah penasaran.
"Sepertinya Dia tidak tau kalo Om Mario, telah menjualnya kepada Pak Surya. Ya sudah kalo tak lihat, Saya lanjut cari dulu. Padahal Dia sudah dikasih obat itu, pasti tidak bisa lari jauh." terang Tyo apa adanya sambil berjalan mencari Elsa lagi di tepi tepi jalan.
"Hmmm begitu, jadi Dia akan jadi jalangnya Pak Surya, tapi melarikan diri?" ucap Vian sambil tersenyum sinis melihat Elsa yang tampak kebingungan.
"Iya Pak." jawab Roy sambil mengemudikan mobilnya.
"Dia adalah mangsaku, Dia berani mempermainkanku, Dia juga sudah merebut kekasih Sarah. Aku yang berhak atas Dia, aku yang akan membalas dan membuatnya menderita. Mengerti?" Vian tampak tergoda melihat gerakan tubuh Elsa yang kepanasan dengan busana minimnya yang basah kuyup sehingga menampilkan kemolekan tubuhnya.
**