"Oke, udah beres, kalian boleh pulang, lewat pintu belakang ya, biar ngak ketahuan" ucap Saskia meyakinkan Gabriel dan Kenzo.
Gabriel tersenyum semangat ke arah Kenzo yang masih berdiri kaku.
"Ken!" Seru Gabriel, membuat Kenzo tersentak lalu melihat ke arah Saskia.
"L-lo, serius nggak akan lapor polisi kan?" Tanya Kenzo ragu.
Saskia berdiri, ia tersenyum manis ke arah Kenzo, "iyaa, tenang aja... Kalau lo ngak percaya, kita ke ruangan cctv. Buat hapus rekaman cctv, gimana?"
Tidak menunggu jawaban Kenzo ataupun Gabriel, Saskia berjalan dengan semangat menuju ruangan CCTV.
Kedua cowok itu mengikuti Saskia dari belakang, dengan rasa ragu, Kenzo masuk ke dalam ruangan itu, takutnya ia sedang di jebak sekarang.
Saskia tampak mengutik komputer, ia mulai menghapus rekaman cctv yang memperlihatkan aksi Kenzo dan Gabriel.
"Sip... Udah, kalian aman," ucap Saskia, menepuk-nepuk tangannya yang tidak berdebu.
Kenzo akhirnya percaya, ia lega, jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang karena panik, akhirnya berdetak normal, mereka berdua bernafas lega.
Kenzo membuka topeng hitamnya, lalu mengacak rambutnya yang terlihat agak basah karena keringat.
Wajah tampan Kenzo membuat Saskia tertegun.
"Thanks," ucap Kenzo lalu menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Your welcome," jawab Saskia lalu tersenyum.
"Udah beres kan, udah pulang sana, ntar ketahuan."
Gabriel keluar duluan dari ruangan itu, kemudian di susul oleh Kenzo.
Mereka berdua keluar lewat pintu belakang, seperti yang di sarankan Saskia.
Saskia lagi-lagi menguap, ia keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju kamarnya.
Saskia yang baru saja menarik gagang pintunya, di kagetkan oleh suara seorang bapak-bapak. Sontak Saskia menoleh, dan itu adalah pengawal Saskia.
"Nona Saskia! Rumah di masuki perampok! Nona Saskia tidak apa-apa!?" Tanya pengawal itu histeris menghampiri Saskia.
"Perampok? Bapak mungkin lagi mimpi, mana ada, ngak ada kok, buktinya saya ngak apa-apa," jawab Saskia santai, meyakinkan pengawalnya.
"Ta-tapi Nona, tadi saya di serang dua orang sampai pingsan."
"Pak... Bapak balik kerja yah, saya mau istirahat," ucap saskia lalu masuk ke dalam kamarnya.
Pengawal itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia mengeryit, padahal dia tadi benar-benar di pukuli, pengawal itu ragu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan cctv.
Tak ada yang mencurigakan, pengawal itu menghela nafas panjang lalu keluar dari ruangan itu untuk kembali bekerja.
•••
Jam enam pagi, Saskia di bangunkan oleh pelayan rumahnya, ia siap untuk mandi.
Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, seragam sekolahnya sudah ada di atas kasurnya, dia mulai mengenakan seragam putih abunya, tidak lupa dengan almamater abu-abu. Roknya terlihat sangat pendek, hampir memperlihatkan tattonya yang bergambar kupu-kupu, tatto itu mempunyai banyak sejarah bagi Saskia, tatto yang pertama kali ia buat.
Saskia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, lilitan handuk di atas kepalanya ia buka, lalu rambutnya ia keringkan menggunakan hairdryer.
Ia mulai menyatok rambut pendeknya, rambut dengan gaya pik a bo.
warna rambutnya yang dulunya adalah abu-abu, kini menjadi putih karena sudah pudar.
Sedikit riasan, dan selesai.
Tas selempangnya ia raih, lalu di isi dengan ponsel tiga kamera yang bermerek iPhone, tidak lupa dompet dan satu buku serta alat tulis.
Oh iya, hampir kelupaan, Saskia harus memastikan mejanya bersih dari bekas minuman dan rokoknya tadi malam, ia tak mau berdebat lagi dengan ayahnya, di karenakan hari ini ayahnya akan pulang dari luar negeri. Setelah yakin tidak ada bekas rokok ataupun miras
Saskia keluar dari kamarnya menuju meja makan, ada banyak makanan di atas meja, ia menghela nafas, lalu duduk.
"Bi? Ngapain sih masak banyak-banyak, saya kan cuma sendiri," Protes Saskia.
"Maaf non, kami hanya mengikuti perintah Tuan Williams," jawab salah satu pelayan Saskia yang berdiri di sudut meja.
Saskia meraih sepotong roti di atas meja, lalu di kunyah.
Ia berdiri, dan keluar dari dalam rumahnya, tanpa menyentuh makanan itu sedikitpun.
"Seperti biasa..." Ucap pelayan ke pelayan lainnya.
Bukannya khawatir akan kesehatan Saskia yang tak pernah sarapan, mereka malah terlihat bersemangat memindahkan makanan itu ke dapur.
Toh, Saskia punya uang, jika lapar, ia akan beli apapun yang dia inginkan, begitulah pemikiran para pelayan rumah Saskia.
Supir Saskia membukakan pintu mobil untuknya, setelah itu, mereka berangkat ke sekolah. Sebenarnya Saskia sudah bisa membawa mobil, namun usianya yang baru 16 tahun belum bisa membuat kartu SIM, harus menunggu bulan depan baru Saskia bisa membawa mobil sendiri ke sekolahan.
Setelah beberpa menit perjalanan, Saskia keluar dari dalam mobil mewahnya, ia tiba di sekolahnya, SMA Katulistiwa.
Bak seorang tuan putri, Saskia melangkah dengan anggun ke dalam sekolah, tak ada yang menyapanya bahkan menatap matanya saja para murid tak berani.
Mereka takut berbaur dengan Saskia, anak dari pemilik sekolah, dan juga seorang yang sudah sering menjadi bulan-bulanan di sekolahnya, bahkan di luar sekolah, Saskia sangat di kenali.
Cap badgirl pada dirinya tidak pernah hilang, ia selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan, bila berbuat onar, ia selalu saja lolos, uang yang mengatur kehidupan Saskia.
Saskia mulai berjalan menyusuri koridor. Berjalan menuju kelasnya, kelas 12.
Ia menyendiri di sekolahnya sendiri, tak ada yang ingin berbaur dengannya, dia pun begitu, ia juga malas untuk berbaur dengan murid-murid di sekolah.
Saskia mendudukkan bokongnya pada bangku yang sudah setahun ini ia duduki.
Tak ada teman sebangku, tak ada bincang bincang hangat di pagi hari.
Seharusnya mereka mendekati Saskia selaku anak pemilik sekolah, tapi mereka malah menjauh, katanya takut berurusan dengan badgirl, nanti di ajak nyabu.
Saskia memutar bola matanya malas, ini benar-benar membosankan, Saskia hanya ke sekolah untuk absen, hanya itu, tentang belajar? Guru-guru di sekolah Saskia sudah mengatur untuk tidak memaksakan Saskia untuk bisa, dengan kata lain, tidak memaksa Saskia untuk menjadi siswi berprestasi. Tapi selalu mendapat nilai yg bagus.
Saskia tidak perlu capek-capek belajar.
Saskia kini sibuk dengan ponselnya, ia mengambil beberapa gambar dirinya di pagi ini, lalu meng-uploadnya ke dalam media sosial.
Baru semenit, Saskia sudah mendapat ratusam notif, namun Saskia malas untuk merespon, itu tidak penting.
Pelajaran pertama saskia di mulai.
•••
Rara berangkat ke sekolahnya menggunakan ojek online, ia menghela nafas bahagia, karena hari ini teman kelasnya banyak yang memesan nasi kuning. Sekarang tas Aurora penuh dengan nasi kuning, ia harap kegiatan menjualnya di sekolah tidak ketahuan. SMA Cempaka tempat dia bersekolah memiliki aturan, tidak boleh ada aktivitas jual beli antara murid, mau itu benda, makanan atau apapun itu.
Setibanya Aurora di sekolah, ia melepas helm ojek itu lalu menyodorkan uang berjumlah 20ribu.
Ia masuk ke dalam sekolah dengan semangat, tasnya yang beratpun tak berasa, karena rasa bahagianya mengalahkan rasa beratnya.
Ia berjalan masuk ke dalam kelas, baru saja Aurora duduk, temannya sudah berkumpul untuk meminta pesanan nasi kuning Aurora.
"Ra, pesanan gue mana."
"Ra, gue yang ga pake telur."
"Ra, gue yang g pake sambel."
"Ra, gue yang komplit."
"Ra, gue yang harga 20."
"Araa, gue mana!"
"Raa, punya guee..."
"Ra , gue yang sambelnya banyak."
Aurora kewalahan, ia memberikan pesanan temannya satu persatu.
Jumlahnya sekitar 20 pesanan nasi kuning.
Harganya beda-beda.
List harga nasi kuning Aurora
-nasi kuning biasa, telur sambal + mie 10k
-nasi kuning komplit, telur sambal + mie + tempe goreng + ayam kecap 20k
-nasi kuning ayam kecap/ sambal + mie 15k
-nasi kuning mie + tempe goreng 10k
"Makasih yah guys! Alhamdulillah hari ini dapat 250 ribu," seru Aurora memegangi sejumlah uang.
"Pagi anak-anak!" Seru seorang guru memasuki kelas Aurora, saking berisiknya tadi, Aurora sampai tidak mendengar suara bel.
Aurora segera menyimpan uangnya ke dalam tas, lalu mengeluarkan buku dan juga alat tulis lalu memulai pelajaran pertamanya.