Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju kawasan elit di perbukitan yang terisolasi dari bising kota. Maya menatap jemarinya yang kini dihiasi cincin berlian besar.
"Berhenti menatap cincin itu seperti barang rongsokan, harganya lebih mahal dari seluruh bangunan pantimu," tegur Dirga tanpa menoleh.
Dirga mendengus meremehkan, matanya tetap tertuju pada layar tablet yang menampilkan grafik saham yang fluktuatif. Ia seolah-olah menganggap keberadaan Maya di sampingnya hanyalah sebuah aksesori bisnis yang perlu diatur.
Gerbang besi menjulang tinggi terbuka otomatis, menyambut mereka masuk ke pelataran Mansion Arlangga yang sangat megah.
"Turunlah, dan ingat perannya, kau adalah wanita malang yang beruntung karena aku cintai," perintah Dirga dingin.
Dirga keluar lebih dulu dan secara mengejutkan membukakan pintu untuk Maya. Ia mengulurkan tangannya, memberikan isyarat agar Maya menyambutnya demi mata para penjaga yang mengawasi.
Maya meletakkan telapak tangannya di atas tangan Dirga yang kokoh dan terasa hangat namun terasa asing. Sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat Maya refleks sedikit gemetar di bawah tatapan Dirga.
"Jangan gemetar seperti kelinci percobaan, Maya, bersikaplah seolah kau memang pantas berada di sini," bisik Dirga tajam.
Langkah mereka bergema di aula utama yang sangat luas, di mana deretan pelayan berseragam rapi sudah berbaris menunduk hormat. Di ujung tangga melingkar, seorang wanita paruh baya dengan gaun sutra ungu menatap mereka dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.
"Jadi, ini 'permata' yang kau temukan di tumpukan sampah itu, Dirga?" tanya Nyonya Widya dengan suara melengking yang sarkastik.
Dirga tidak melepaskan rangkulannya pada Maya, malah justru semakin mengeratkan pelukannya hingga Maya merasa sedikit sesak.
"Dia adalah istriku, Ibu, dan aku harap kau bisa menjaga lisanmu di depan Nyonya Arlangga yang baru."
Nyonya Widya tertawa hambar, matanya memindai Maya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sinar penuh kebencian. "Nama besar Arlangga akan tercoreng jika publik tahu asal-usul gadis ini sebenarnya."
"Publik hanya akan tahu apa yang ingin aku perlihatkan, jadi berhentilah mencemaskan hal yang tidak perlu," balas Dirga telak.
Wanita itu mendengus kesal lalu berbalik pergi dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke lantai marmer yang berkilauan.
"Terima kasih telah membelaku, meskipun aku tahu itu hanya bagian dari aktingmu," ucap Maya lirih saat mereka mulai menaiki tangga.
Dirga tidak menjawab, ia terus menuntun Maya menuju lantai dua, melewati lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan antik yang bernilai miliaran. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar yang merupakan pintu menuju kamar utama sang pemilik mansion.
Pintu terbuka, menyingkap sebuah ruangan luas yang lebih mirip paviliun mewah daripada sekadar kamar tidur biasa. Di tengah ruangan, sebuah ranjang king size dengan sprei sutra putih sudah tertata rapi, lengkap dengan hiasan kelopak mawar.
"Siapa yang melakukan hal konyol ini pada ranjang?" tanya Maya dengan wajah yang mendadak merona merah karena malu.
Dirga melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa kulit tanpa peduli pada tatanan mawar yang dianggapnya sampah tersebut.
"Eyang Wiryo selalu memastikan setiap detail malam pertama cucunya diawasi oleh para pelayan setianya."
"Aku akan tidur di mana? Kontrak bilang kita tinggal satu atap, tapi tidak satu ranjang," protes Maya dengan suara bergetar.
Dirga berbalik, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan sambil mulai melonggarkan dasinya yang menjerat leher. "Kau pikir pelayan di sini bodoh? Mereka akan memeriksa seprai ini besok pagi untuk mencari bukti."
"Aku tidak sudi melakukan hal itu denganmu, Dirga, bahkan demi panti asuhan sekalipun," tegas Maya dengan mata berkaca-kaca.
Dirga melangkah mendekat, mengintimidasi Maya dengan tinggi badannya yang menjulang hingga gadis itu terdesak ke daun pintu yang tertutup. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Maya, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya di bawah kuasanya.
"Jangan terlalu percaya diri, Maya, aku tidak tertarik pada gadis polos yang penuh dengan air mata seperti dirimu," ucap Dirga dingin.
Tiba-tiba, lampu di seluruh mansion padam seketika, menenggelamkan mereka dalam kegelapan total yang mencekam. Maya memekik kecil karena terkejut dan secara naluriah mencengkeram kemeja Dirga agar tidak terjatuh dalam kegelapan.
"Diamlah, ini hanya gangguan teknis atau mungkin salah satu ujian dari Eyang," bisik Dirga di dekat telinga Maya.
Maya merasa jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena gelap, tapi karena tubuh Dirga kini menempel erat pada tubuhnya tanpa pembatas.
Dalam kegelapan itu, Dirga tidak melepaskan Maya, ia justru memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengusap lembut rambut Maya. "Jangan takut, selama kau bersamaku, tidak akan ada yang berani menyentuhmu di rumah ini."
"Kenapa Anda melakukan ini? Kenapa harus menghancurkan panti hanya untuk memaksa seseorang menikah?" tanya Maya dalam bisikan yang serak.
Dirga terdiam cukup lama, keheningan di antara mereka hanya diisi oleh suara napas yang saling memburu di udara malam yang dingin. "Dunia bisnis tidak mengenal belas kasihan, Maya, dan terkadang kita harus menjadi monster untuk mengalahkan monster lainnya."
Lampu kembali menyala dengan terang secara mendadak, membuat mereka berdua segera menjauhkan diri satu sama lain dengan perasaan canggung yang luar biasa.
"Tidurlah di ranjang, aku akan bekerja di ruang kerja pribadiku sampai pagi," ujar Dirga sambil mengambil laptopnya dari meja.
Ia melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang terduduk lemas di tepi ranjang yang ditaburi kelopak mawar. Maya merasa sangat lelah secara mental.
Tengah malam, Maya tidak bisa memejamkan matanya karena merasa haus dan asing dengan suasana kamar yang terlalu luas. Ia memutuskan untuk keluar kamar menuju dapur kecil yang ia lihat di lorong tadi untuk mengambil segelas air putih.
Saat melewati lorong menuju lantai bawah, ia melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong yang gelap dan sepi. Maya melangkah perlahan, memastikan langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas karpet tebal yang menutupi lantai lorong tersebut. Ia mengintip melalui celah pintu dan menyadari bahwa itu adalah ruang kerja rahasia milik Dirga yang tidak boleh dimasuki siapapun.
Di dalam ruangan, ia melihat tumpukan dokumen tua yang tampak berdebu di atas meja kayu besar yang sudah sangat kuno. Di samping dokumen itu, terdapat sebuah foto usang yang memperlihatkan sebuah kecelakaan mobil yang sangat mengerikan di pinggir jurang.
Maya menahan napas saat matanya menangkap sebuah logo yang sangat ia kenali pada salah satu dokumen yang terbuka di atas meja. Itu adalah logo perusahaan milik mendiang ayahnya yang bangkrut sepuluh tahun yang lalu secara misterius.
Dengan tangan gemetar, Maya masuk ke dalam ruangan itu. Ia meraih selembar surat instruksi yang ditandatangani dengan tinta hitam yang sangat tegas dan masih terbaca jelas.
"Lakukan pembersihan total, jangan tinggalkan saksi hidup di lokasi kejadian," bunyi kalimat yang tertera di dalam surat instruksi kejam tersebut.
Mata Maya membelalak saat melihat tanda tangan di bawah instruksi itu, sebuah tanda tangan yang sangat ia kenali dari kontrak pernikahannya tadi siang. Itu adalah tanda tangan Dirga Arlangga, namun tanggal yang tertera adalah sepuluh tahun yang lalu.
"Bagaimana mungkin? Sepuluh tahun lalu dia masih sangat muda, tapi kenapa dia menandatangani kematian orang tuaku?" gumam Maya dengan air mata yang mulai tumpah.
Sebuah bayangan besar mendadak muncul dari balik pintu, menutupi cahaya redup yang semula menerangi ruangan kerja yang mencekam itu. Maya membeku, tidak berani berbalik .
"Sudah kubilang jangan pernah lancang menyentuh barang-barangku, Maya," suara Dirga menggelegar di dalam ruangan yang sunyi itu.
Maya berbalik dengan cepat, memegang dokumen itu di depan wajah Dirga dengan tangan yang bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Apa ini, Dirga? Katakan padaku bahwa ini bukan tanda tanganmu yang merenggut nyawa orang tuaku!"
Wajah Dirga yang semula datar berubah menjadi sangat pucat, dan untuk pertama kalinya, Maya melihat kilatan ketakutan di mata pria yang tak pernah takut pada apa pun itu.
Dirga melangkah maju, mencoba merebut dokumen itu dari tangan Maya, namun Maya segera mundur menjauh dengan tatapan penuh kebencian. "Ternyata kau bukan hanya seorang pengusaha dingin, kau adalah seorang pembunuh yang membangun kekuasaan di atas darah keluargaku!"
"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Maya! Jangan menyimpulkan sesuatu hanya dari selembar kertas tua!" teriak Dirga dengan suara yang parau.
Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak orang terdengar mendekat ke arah ruang kerja tersebut, diikuti dengan suara teriakan Nyonya Widya dari kejauhan. "Ada penyusup di ruang kerja Dirga! Panggil keamanan sekarang juga!"
Maya menatap Dirga dengan pandangan yang penuh dengan rasa dikhianati dan luka yang sangat mendalam di lubuk hatinya. Ia menyadari bahwa pernikahan kontrak ini bukanlah jalan keselamatan bagi panti asuhan, melainkan awal dari perang pembalasan dendam.
Pintu ruangan didobrak paksa dari luar oleh para penjaga, namun sebelum mereka masuk, Dirga menarik Maya masuk ke dalam sebuah lemari rahasia di balik rak buku. Di dalam ruang sempit itu, Dirga membekap mulut Maya.
Maya meronta, namun tenaga Dirga jauh lebih kuat. Melalui celah kecil, Maya melihat Nyonya Widya masuk ke ruangan dengan senyum kemenangan yang sangat mengerikan.
"Di mana gadis itu? Aku tahu dia ada di sini untuk mencari bukti keterlibatan keluarga kita," ucap Nyonya Widya kepada salah satu penjaga.
Maya terbelalak, menyadari bahwa Nyonya Widya ternyata juga mengetahui tentang rahasia kelam sepuluh tahun lalu yang melibatkan orang tuanya. Ia menoleh ke arah Dirga yang kini menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan permohonan agar ia tetap diam.
Di tengah ketegangan yang memuncak, Dirga membisikkan sesuatu yang membuat jantung Maya seolah berhenti berdetak seketika. "Jika kau ingin tahu siapa pembunuh sebenarnya, ikutlah denganku sekarang, atau kita berdua akan mati di tangan mereka malam ini."
***