Vania teringat, di dua bulan yang lalu Robert Anthoni memiliki perjalan bisnis selama satu minggu.
Jari-jari tangan mengenggam erat ponsel hingga memucat.
Jadi, karena dia selingkuh?
Memang, sebelum ini, sebagai istri tersembunyi sekaligus sekretaris perusahaan, Vania tidak pernah memergoki Robert Anthoni dengan wanita lain.
"Tuan Robert baik banget dengan pacarnya, beruntung sekali menjadi pacar tuan Robert, sepertinya tidak akan lama pengumuman resmi akan dikeluarkan!”
"Coba lihat hasil pencarianku, apakah ini orangnya?”
Perawat yang mendorong troli peralatan medis meraih ponsel di sampingnya dan setelah sekilas melihat, dia pun berkata kaget “Benar, benar, ini dia! ya ampun, ini bukannya putri kedua dari Properti Rosella? latar belakang dan kecantikan seperti ini benar-benar adalah pasangan yang dijodohkan Tuhan, cocok sekali dengan Robert Anthoni!”
Suara kedua perawat yang tidak berhenti berbahas begitu lewat dan hingga tak terdengar lagi.
Properti Rosella ...
Setelah menyelesaikan formil kepulangan, Vania naik ke dalam mobil yang dikirim kepala pelayan, saat ini Vania tidak lagi dapat menenangkan hatinya.
Dibawah jendela setengah terbuka, layar ponsel yang remang-remang menyinari wajah sengsara Vania. Dia mencari banyak frasa, namun sayang, dia tidak menemukan satu pun hubungan antara Keluarga Rosella dan Keluarga Anthoni.
Hal ini sangat tidak normal untuk dua keluarga besar yang begitu terkenal di kota Hamachi.
Lampu di ruang tamu masih nyala ketika Vania kembali di kediaman Anthoni.
Adik ipar yang tidak menyukainya tidak ada di sana, hanya nenek Anthoni yang memegangi tongkat sedang menungguinya, “Aduh, nia sayangku, terimakasih tuhan, kamu tidak apa-apa, nenek sangat takut kamu kenapa-napa, serangan jantung nyaris menyerang nenek.”
"Nek, aku tidak apa-apa kok.”
Vania tersenyum paksa dan mencari alasan untuk naik ke atas untuk beristirahat “Aku merasa sedikit lelah, nek.”
"Baiklah, baiklah, pergi dan istirahatlah, nenek sudah memesan orang untuk mencari Robert, dia akan pulang secepatnya!”
Vania terpaku sejenak, rasa sakit itu kembali melanda dirinya, sehinga paras wajahnya pun terlihat sangat pucat.
Rupanya, hanya dirinya saja yang ditutupi Robert.
Nenek Anthoni mengira kepucatan Vania karena kurangnya pendampingan dari Robert.
Namun, tak disangkanya, itu karena kehadiran wanita lain, yang seperti duri sedang menusuk hatinya.
Membuat semua kengototannya, begitu konyol.
Pada saat Robert pulang di kediaman Anthoni, hari sudah larut malam di keesokan harinya.
Kamar tidurnya gelap, Robert membuka lampu, di sorotan cahaya tamaram, terlihat setengah wajah Robert yang tidak begitu senang, “Kenapa belum tidur? dan kenapa tidak menyalakan lampu?”
Saat ini, Vania telah berbaring di kasur selama satu hari penuh.
Hampir tidak makan ataupun minum, makanan yang diantar kepala pelayan di meja samping juga sudah dingin.
"Dua hari ini, kamu kemana saja?”
Vania membelakanginya, punggungnya terlihat kurus, dan dalam nada suara seraknya terkesan sedikit lelah dan jenuh.
Robert Anthoni yang baru saja melepaskan mantel jasnya menoleh ke arah kasur setelah mendengarkan pertanyaan itu, dia tampak kaget, alisnya mengerut dengan keras.
Setelah tiga tahun menikah, dia baru pertama kali mendengar wanita ini menanyakan keberadaannya dengan nada seperti itu.
"Ada urusan di cabang Kentucky, aku kesana untuk mengurusnya sebentar.”
Dia membalas dengan dingin, dengan jengkel dia menarik dasinya dan langsung menuju ke arah kamar mandi.
"Begitukah?” Vania tertawa pelan, suaranya hampir tidak terdengar “Sudah aku tanya dengan asisten Jack, kamu tidak ada rencana penerbangan ke Kentucky.”
Sarkasme dalam kata-kata Vania tidak sulit untuk ditangkap.
"Apa yang ingin kamu katakan?”
Langkah Robert terhenti di depan kamar mandi.
Bahkan tanpa menatapi mata Robert pun, Vania tetap dapat merasakan tekanan aura kuat darinya.
Dia tahu, ini adalah awal dari kemarahan Robert Anthoni.
Bab 3: Apa yang Telah Kamu lakukan Untuk Menjadi Nyonya Anthoni?