Bab 14

1108 Words
"TING.. TING.. " terdengar bunyi notifikasi dari ponsel milik Rian, ia pun beranjak dari ranjangnya untuk mengambil ponsel yang ia letakkan diatas nakas. [Mas, Aku HAMIL] [beberapa hari aku ngerasa badan aku gak kayak biasanya makanya aku tadi ke dokter, ternyata aku hamil mas] [udah 3 bulan mas, tapi aku gak ngerasain tanda-tanda apapun] Rian pun tersenyum tatkala membaca pesan yang di kirim susan, lalu ia segera membalas nya. "Alhamdulillah sayang,kita mau punya bayi? raina sama Raisa mau punya adek ya, Mas bahagia sekali sayang, tunggu mas ya, setelah mas urus Mala, mas pulang temani kamu. " [gak usah mas, kasian kak Mala, dia lagi sakit, aku gak papa disini, sebentar lagi Jani sudah sampe, biar Jani sama bang Fandi temenin aku ya, ] [iya sayang, bilang Jani sama Fandi temenin kamu dulu,jangan kemana-mana ya, kalo mau sesuatu kasi tau, biar mas pesankan dari sini. ] [iya mas, jaga kak Mala ya, mungkin besok aku baru bisa nengokin kak Mala, salamin buat kak Mala ya, salam buat Raina dan Raisa juga. Miss you mas] [oke sayang.. Miss you too] Rian pun meletakkan ponsel nya kembali diatas nakas, lalu kembali duduk di samping Mala yang masi merebahkan diri di Ranjang. "siapa yang kirim pesan mas? tadi aku liat kamu senyum - senyum kayak bahagia gitu"tanya Mala pada suaminya "itu tadi Susan,sayang,dia tadi ke dokter katanya dia lagi hamil, sudah 3 bulan, "jawab Rian dengan sumringah. "selamat ya mas, kamu udah ngasih adek buat Raina dan Raisa, mereka pasti senang mendengarnya, maafkan aku karena disaat susan membutuhkan mu, kamu malah sibuk ngurusin aku yang penyakitan gini." ucap Mala. "hei.. hei.. apa yang kamu bicarakan sayang? kamu istri ku, kamu tetap jadi belahan Jiwaku, jangan ngomong kayak gitu lagi, mas gak suka, kita akan tetap berusaha buat kesembuhan mu,?"ujar Rian sembari menyeka air mata yang menetes di pipi Mala. "aku udah baikan kok mas, mas mau ke rumah Susan? kasian dia kalo kamu kelamaan disini, " "gak sayang, mas sudah janji buat menemani kamu disini, lagian mas juga kangen sama kamu, sudah lama mas tidak menyentuhmu kan? atau kamu sudah gak mau kalo mas sentuh?"ucap Rian sambil menaikkan dagu istri nya, lalu ia melumat bibir istrinya dengan mesra. "aku juga merindukan sentuhan mu mas"ucap Mala lirih, ia sadar sejak ia sakit, ia selalu menolak Rian, tapi malam ini ia sudah berjanji tidak akan menolak sentuhan dari suaminya, yang sangat ia rindukan. "mas tetap sayang kamu mala, kamu tetap prioritas mas, sudah siap sayang? "ujar Rian yang di jawab dengan anggukan lemah istrinya, Rian pun segera beranjak untuk mengunci pintu, dan kembali untuk melucuti pakaian yang dikenakan istrinya satu persatu. ia pun segera menuntaskan hasrat yang selama berbulan- bulan ia tahan demi menghormati istrinya dikala ia sedang lemah, mereka pun saling melepas rindu dan hasrat mereka hingga pada puncak pelepasan, Mala mengerang dengan lirih, akhjjsssssssss"mereka pun mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. "sayang, makasih ya, malam ini mas bahagia, akhirnya mas bisa menyentuhmu lagi," **** mobil berwarna silver itu jalan membelah jalanan Kota Bandung yang sudah mulai diguyur hujan, Jani terdiam sembari memainkan ponsel nya, sekali-sekali ia terlihat tersenyum sambil membalas pesan yang masuk pada ponselnya. "kenapa senyum- senyum sayang? "ucap Fandi sambil mengelus pipi Jani dengan lembut, sementara tangan kanan nya tetap memegang setir. "ini bang, Jani seneng banget denger Susan lagi hamil, aku mau jadi tante bang,"ucap nya kegirangan. "oh, abang Kirain seneng kenapa? ,lebih seneng lagi kalo abang denger kamu yang hamil, kan seru tuh! " "iih abang apaan siih, jangan sekarang dulu bang,kita harus menikah dulu bang, biar kita melakukan tidak dalam ketakutan, iya kan bang? " "iya sayang, kamu bener, abang makin salut sama kamu, abang semakin mencintai kamu dek, jadi sekiranya kapan abang bisa menikahi adek!?"tanya Fandi lagi, yang berhasil membuat wajah Jani merona, "mama udah setuju dengan hubungan kita, kalo abang sudah siap ya di segerakan bang, biar kita pacaran nya halal, mau ngapain aja bebas, " "kalo abang sih siap, hari ini juga kita langsung menikah oke aja, gimana sayang? " Jani terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan Fandi, dia bingung entah harus menikah dulu, atau dia laksanakan keinginan mama dan papa nya dulu untuk bisa membuka dan mengaktifkan kembali perusahaan papanya. "iya bang, aku coba sebentar hubungi mama, biar nanya ke mama,kitq harus gimana, "ujar Jani seraya menghubungi nomor ponsel sang mama, "Hallo maa, mama lagi ngapain? " ["Hallo sayang, mama lagi duduk aja sama adek nih, ada apa sayang"] "Jadi gini maa, bang Fandi ngajakin Jani nikah siri dulu, biar pas kita mau nikah KUA kita bisa urus sama-sama, lagian kan bang Fandi ngerasa gak enak kalo aku harrus tinggal di apartemen nya sendiri,biar sekalian bang Fandi temenin aku, gimana maa, menurut mama, aku harus gimana"?" tanya Jani pada mama Lastri ["kalo menurut mama itu keputusan yang baik nak, mama mendukung sekali, mama juga jadi tenang kalo kamu ada suami yang jagain kamu sayang, ] "iya udah maa, kata bang Fandi kita balik ke rumah mama, mama bisa hubungi pak kiyai biar nikahkan kita? " "[iya sayang,mama akan segera mengurusnya. Hati-hati dijalan ya sayang"]mamaa Lastri lalu memutuskan sambungan telepon dan segera menghubungi kiyai yang akan menikahkan putrinya. "bang, kita putar balik ya, biar kita persiapkan buat akad nikah nya. " "iya sayang, kita singgah ke butik sama toko perhiasan buat beli pakaian akad buat kita dan ya kamu mau mahar apa? atau mau kamu yang milih, sekalian sama cincin kawinnya? " "Jani ngikut abang aja, yang penting gak memberatkan abang, dan gak jadi beban buat abang, " mereka pun sampai di butik kebaya yang di maksud, setelah mencoba beberapa kebaya, akhirnya pilihan jatuh pada kebaya berwarna putih s**u, dan berpasangan dengan jas berwarna senada juga, setelah selesai memilih kebaya dan jas, mereka menuju toko perhiasan, dan memilih sepasang cincin pernikahan, lalu Fandi membelikan satu set perhiasan berlian 24 karat., setelah di rasa cukup, mereka pun menuju parkiran, setelah masuk ke dalam mobil, lalu Fandi melajukan kendaraan nya dengan santai, sambil memasang earphone di telinga nya, dan tangannya mencari nomor pemilik Katering,dan mulai menghubunginya. "selamat sore bu, malam ini sekitar pukul 7 saya butuh katering untuk 50 orang ya, alamat nya nanti saya kirim di WA ya,, yang super spesial ya,, " setelah sekiranya cukup ia mematikan sambungan telepon nya.lalu ia mulai mencari nomor Rian serta beberapa sahabat nya, ada beberapa karyawan kantornya yang ia undang juga, "sayang kamu sudah menghubungi susan? " "sudah bang, aku udah mengirim pesan Wa, dia lagi siap-siap,sekalian dia jemput orang MUA di salon, buat make up in aku. "mobil mereka pun sudah sampai di depan rumah mama Lastri, disana sudah nampak rapi karena mama Lastri memanggil beberapa tetangga untuk menyiapkan ruangan yang akan digunakan untuk prosesi akad nikah nanti malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD