Bab 24

1392 Words
Gorsaf Gynhyrchu Dinorwig Llanberis, Gwenedd. Weles—Inggris Raya.     “Te—terima kasih.” Ujar Neo pada supir sebuah mobil bak terbuka yang dia tumpangi. Hari ini, setelah menghentikan sebuah mobil yang akan melewati jalanan menuju ke Llanberis. Namun bukan kota bagian Wales itu yang dia tuju, melainkan bendungan besar yang terdapat di sana. “Maaf anak kecil, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini.” Ujar wanita tua yang juga ikut di mobil bak tersebut. Kami harus ke timur, tapi kalau kau mau tiba ke sana, kau hanya perlu berjalan ke selatan, dan jika kau bertemu orang di jalan ini, bertanya saja pada mereka. Semoga beruntung!” Ujarnya. Neo mengangguk mengiakan, sebelum ditinggalkan. Siang itu, setelah diturunkan oleh tumpangannya yang sudah dengan baik hati membawa Neo hingga ke kaki gunung Snowdon. Neo yang tidak tahu harus ke mana, dia terus berjalan dengan perut yang sangat lapar dan kaki yang sangat sakit dan pegal setelah entah sudah berapa lama dia berjalan. Meski cuaca di area pegunungan itu sangat dingin dan nyaman, namun tak sedikit pun perasaan nyaman itu membuat nya menjadi kenyang. Kemarin, saat dia dihajar oleh Carl Elioster, si penjual sekaligus pemilik toko daging di kota, Neo sempat berpikir unutk mati. Namun, sekali lagi, dendamnya pada Hetshin yang sudah membantai ke luarganya dengan sangat kejam, membuat semangat hidup Neo kembali. Dan semakin bertambah saat pria bermata keemasan itu datang dan memawa sihir untuk nya. Tentu saja, bagi Neo, apa yang di lihatnya adalah keajaiban. Bagai mana pria itu berkata kalau Carl Elioster akan bertingkah seperti orang gila dengan terus melihat dirinya, itu sudah jadi alasan Neo untuk percaya. Terlebih, bagai mana saat Carl Elioster—pria tinggi besar itu digiring polisi dan angkut ke dalam sebuah ambulans di waktu yang sama, setelah tak mendapat hal rasional dari pria tersebut. Alhasil, mungkin sekarang pria itu sudah mendekam di salah satu kamar isolasi di rumah sakit jiwa karena terus bertingkah kasar dan berpotensi melukai orang lain. Dan sekarang, berkat pria yang sama jugalah, Neo berada di sini. Weles. Weles sendiri berada di barat laut, di tepi selatan danau Llyn Padarn di Snowdon. Gunung tertinggi di Wales. Itu artinya, Neo sudah meninggalkan London dan terus bergerak menjauh dari sana hingga kaki nya berhenti di sini. Tin! Tin! Suara klakson mobil terdengar nyaring di telinga nya saat kaki nya sudah terlalu capek berjalan. Karena kaget, Neo melompat ke samping karena mobil dari arah belakang itu melaju sangat kencang. “Anak bodoh! Perhatikan jalanmu! Kalau mau mati jangan dengan mobilku!” teriak pengemudi mobil bak terbuka itu pada Neo sambil melemparinya sebuah kantung makanan bekas. Awalnya Neo yang kaget hanya bisa diam dan menelan ludahnya paksa. Namun detik selanjut nya, ketakutan itu menghilang karena melihat bungkusan makanan yang dibuang pria dari mobil tersebut. Dengan cepat, Neo bergerak mendekati bungkusan makanan itu, berharap masih ada sedikit remahan yang bisa dia jilati, meski tidak mengenyangkan, tapi Neo harap bisa dia gunakan untuk membuat mulut nya sedikit terasa asin. Benar saja. Saat tangan mungilnya berhasil meraih bungkusan itu, bukan hanya sedikit remahan yang ada di sana, tapi juga sedikit roti yang tidak habis, mungkin itu hanya ujung dari roti tersebut namun terlihat sangat cukup untuk membuat Neo merasa kenyang. Bukan hanya roti, di dalam bungkusan itu masih ada beberapa lembar tomat dan sedikit selada yang diolesi saus. Melihat itu, Neo bahkan tidak sadar kalau air liurnya sedikit menetes karena tidak sabar melahap apa yang dia dapatkan. Mulut nya juga terlihat beberapa kali terbuka dan tertutup, sementara lidah nya terus dia gunakan untuk menjilat bibirnya, tanpa menunggu apa pun lagi, Neo langsung melahap sisa makanan yang dia dapatkan dengan rakus, tak lupa sisa –sisa saus yang menempel pada bungkusnya pun dia jilati dengan semangat. Meski tidak benar-benar membuat nya benar-benar kenyang, tapi setidak nya Neo bisa sedikit mengganjal perutnya yang kelaparan, dan membuat mulut nya yang terasa hambar menjadi sedikit asin. “Kau kelihatannya sangat kelaparan, nak?” Neo terperanjat saat suara sangat dekat itu terdengar sangat jelas di telinga nya. Karena takut, Neo beringsut ke belakang dalam posisi duduk, sementara tangan nya yang masih menggenggam bungkusan makanan itu dia gunakan juga untuk meremat tanah berumput di bawah tubuhnya. “Tidak apa-apa ... tidak apa-apa, kau jangan takut seperti itu.” Ujar wanita tua itu saat mendapat respons tidak biasa dari Neo. “Si—siapa kau?” Tanya Neo masih dengan wajah ketakutan. Tapi itu sama sekali tidak membuat wanita tua yang mengendarai sebuah sepeda dengan sekantung belanjaan di keranjang depan sepedanya itu langsung menjawab pertanyaan Neo. Wajah wanita itu tidak terlalu tua namun juga tidak bisa dibilang muda. Ada cukup banyak keriput besar tergambar jelas di wajah nya, namun rambut wanita itu masih sangat hitam, tergelung dan terbungkus sebuah topi rajut dari bahan wol. Terlihat cukup hangat untuk musim dingin seperti ini. Tapi Neo sama sekali tidak sadar kalau wanita tua itu sejak tadi berjalan, sambil menuntun sepedanya di belakang. “Siapa namamu?” Tanya wanita itu pada Neo, sementara tangan nya sibuk membenarkan letak keranjang juga isi belanjaannya. “N—Neo.” “Neo? Nama yang sangat bagus. Orang tuamu?” Tanyanya lagi. Namun pertanyaan itu membuat wajah ketakutan Neo menghilang, dan berganti kesedihan. Dia tidak tahu apa-apa tentang ke luarga, selain ke luarga yang dia bangun bersama anak-anak yang dia temui di jalanan. Namun, sebelum Neo berhasil menjawab pertanyaan wanita tua itu, sebuah apel ranum tersodor padanya. Dengan cepat, Neo mengangkat wajah dan memandang bergantian pada wanita tua juga sebuah apel ranum yang di berikan wanita itu padanya. “Kau pasti lapar, kan?” Ujar wanita itu sambil tersenyum sangat ramah. Tanpa ragu, Neo langsung melahap apel yang di berikan cuma-cuma padanya. Memakan nya serakus pertama, tak memedulikan bagai mana wanita itu masih melihat nya sambil beberapa kali menggelengkan kepala. “Kau dari mana?” “L—london.” “London?” Wanita itu tercengang, “kau berjalan sejauh itu sampai ke tempat ini?” Neo menggeleng, “Aku menumpang beberapa kendaraan milik orang-orang baik dan sampai di sini.” Jawab Neo dengan mulut penuh, juga air liur bercampur sari apel yang menetes dari mulut Neo hingga dagu dan terus turun ke lehernya. Melihat bagai mana kelakuan Neo, sekali lagi wanita itu menggelengkan kepala, sebelum akhir nya dia mengeluarkan sapu tangan dari saku sweter berbahan wol tebal yang sama dengan topi yang dia kenakan, lalu berjalan mendekati Neo untuk mengelap apa sari-sari apel bercampur liur yang menetes di dagu bocah itu. “Pelan-pelan, aku masih punya beberapa apel di keranjang belanjaanku jika kau masih lapar.” “Ma—maafkan aku.” Ujar Neo sambil mengelap sisa yang tidak dilap oleh wanita tua itu. “Apa yang kau cari hingga sampai ke tempat sejauh ini dari London?” Neo memutar bola matanya. Dia memang tidak tahu sedang mencari apa di tempat itu, tapi ... dia ingat bagai mana pria bermata keemasan itu mengatakan sesuatu tentang kekuatan dan semacamnya, meski Neo tidak paham di mana letak kebenaran dari kalimat-kalimat itu. Namun, dengan tangan gemetar Neo merogoh saku jaket lusuhnya dan mengeluarkan selembar kertas yang dia terima dari pria bermata keemasan itu, lalu menyerahkannya pada wanita tua di hadapan nya. Kertas yang awal dia terima masih sangat bagus dengan tulisan rapi yang terbaca jelas, kini berubah usang dan bahkan tulisannya pun sudah nyaris tidak terbaca, namun beruntung, wanita tua itu masih dapat membaca tulisan yang ada pada selembar kertas tadi dengan baik meski tanpa kacamata. “Bendungan?” “Apa itu tertulis bendungan?” Tanya Neo penasaran. “Kau tidak bisa membaca?” Neo menggeleng lemah. Dia memang mendapat banyak bantuan, tapi setiap kali dia meminta tolong dan ditanya mau pergi ke mana, Neo hanya menggeleng sambil menyerahkan selembar kertas itu pada orang-orang yang berbaik hati membantunya. “Ini alamat bendungan di sini. Bendungan itu mungkin sekitar empat kilometer lagi dari sini, dan karena sebentar lagi sudah mau gelap, kau tidak bisa ke sana.”             “Kenapa?” “Bendungan ditutup untuk umum saat malam, karena masih dalam tahap perbaikan dan pengembangan jadi, tidak banyak orang yang diizinkan masuk ke sana.” Jelas wanita yang masih belum memperkenalkan dirinya pada Neo itu, “Tapi, jika kau masih mau ke sana, kau bisa lanjutkan besok pagi. Sekarang, sebaiknya kau ikut aku dan kita makan malam bersama.” Wanita tua itu kembali berjalan ke arah sepedanya, berjalan kemudian namun terhenti lagi saat dia tidak melihat Neo mengikuti nya. “Ada apa? Ayo!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD