PART 9 - Maaf

1867 Words
Tiga hari berlalu dan Lara tak pernah lagi berbicara dengan Damian. Laki-laki itu menghindarinya. Dengan jelas menjauh darinya. Membuat Lara kesal karena seharusnya dia yang menjauh dari laki-laki itu. Lara berharap Damian akan meminta maaf, tapi laki-laki itu bahkan tak menatapnya sama sekali. Seperti sekarang, saat Lara ikut rapat pembangunan hotel di Singapura. Damian tak meliriknya sama sekali. Lara memang duduk di pojok belakang, karena ia hanyalah anak magang, tapi tak mungkin laki-laki itu tak melihatnya sama sekali, kan? Damian jelas menjauhinya. Dan Lara harusnya bersyukur dengan itu. "Kau bisa menabrak dinding jika berjalan sambil melamun," kata Sasha di sampingnya ketika Lara keluar dari ruang rapat. Lara hanya tersenyum kecil. Sasha adalah perempuan yang baik. Dia hanya berbeda tiga tahun dari Lara, tapi Sasha yang selalu membantu Lara saat ia kesusahan dengan pekerjaannya. "Kau ikut makan malam perusahaan nanti, kan? Jangan bilang kau lupa?" tanya Sasha. "Makan malam?" tanya Lara. Sasha mendesah pelan. "Makan malam bersama tim arsitek 1, Lara. Semua orang datang. Ini makan malam pertamamu, jadi kau harus datang juga. Aku akan mengenalkanmu pada anak-anak di divisi lain," kata Sasha. Lara duduk di meja kerjanya. "Bukannya hanya tim arsitek 1 yang datang?" Sasha menggeleng dengan semangat. "Tidak-tidak. Aku mendengar kabar bahwa divisi HRD dan produksi juga akan makan malam hari ini - di tempat yang sama." Sasha merapikan rambut panjangnya. "Semoga Pak Bobby datang - aku ingin mengajaknya datang ke pesta ulang tahun perusahaan dua minggu lagi." Melihat Lara tak peduli, Sasha duduk di depan perempuan itu. "Jangan bilang kau juga tak tahu kalau dua minggu lagi ada pesta ulang tahun Lavingston Group?" tanya Sasha. Lara menggeleng dengan wajar datar. "Lara! Semua yang bekerja di sini harus tahu! Semua diundang! Itu pesta paling mewah di antara perusahaan-perusahaan lain. Bahkan lebih mewah dari pesta yang digelar Bill Gerald dari perusahaan mobil itu." "Benarkah? Apa aku harus datang?" tanya Lara tak tertarik. "Tentu saja. Selain pesta ulang tahun Lavingston Group, itu juga pesta ulang tahun Andreas Lavingston - ayah Pak Damian. Semua orang penting di negara ini akan datang ke pesta itu. Ini kesempatan langka untuk perempuan seperti kita, Lara," kata Sasha. "Kesempatan langka?" Sasha berbisik pada Lara. "Kesempatan langka untuk mendekati pria kaya atau pejabat muda. Akan ada banyak pria-pria muda berkelas yang akan datang ke pesta itu," kata Sasha dengan cengiran khasnya. Lara tersenyum kecil. "Aku tak tertarik dengan itu," ucapnya. Kening Sasha bekerut. "Kau sudah memiliki pacar?" tanyanya. Lara menggeleng pelan. "Kau tak ingin memiliki pacar?" Lara menggeleng lagi. Kerutan di kening Sasha semakin tajam. "Kenapa?" "Aku tak punya waktu untuk pacaran." Sasha tertawa kecil. "Memangnya apa saja yang kau lakukan? Sesibuk apapun dirimu, akan selalu ada waktu untuk pacaran, Lara. Kau saja yang tak mau mencobanya," ujar perempuan itu. Lara melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang. "Kau tak kembali ke mejamu? Bukannya kau harus membuat notula rapat untuk Pak Damian?" tanya Sasha. Sasha berdiri kaget. "Oh benar! Aku sampai lupa!" Perempuan itu menunjuk Lara. "Pokoknya kau harus datang nanti malam! Oke?" kata Sasha. Lara hanya mengangguk dan Sasha tersenyum senang. Perempuan itu kembali ke mejanya dan Lara pun melanjutkan pekerjaannya. * * * * * Sasha menarik lengan Lara dengan semangat. Sedangkan Lara masih fokus pada ruangan Damian yang masih menyala. Kenapa laki-laki itu masih bekerja di saat karyawannya akan makan malam bersama? "Apa kita boleh pergi begitu saja? Aku lihat Pak Damian masih di ruangannya," kata Lara pada beberapa teman kantornya ketika masuk lift. Theo - salah satu drafter di timnya menjawab. "Pak Damian tak pernah ikut makan malam perusahaan. Dia selalu bekerja sampai pukul delapan. Aku tak tahu kenapa dia begitu rajin. Kalau aku jadi anak pemilik perusahaan, aku lebih suka berkeliling dunia daripada terkurung di ruangan itu sampai malam," ucapnya dengan santai. "Theo benar. Pak Damian tak pernah ikut bersama kami." Sasha tiba-tiba tertawa, membuat Lara bingung. "Kau tahu? Enam bulan yang lalu - saat ia baru menyelesaikan studinya di Belanda - kami mengadakan pesta kecil untuk menyambutnya kembali. Tapi apa? Dia bahkan tak datang? Coba kau bayangkan, sebuah pesta penyambutan tanpa orang yang disambut. Pak Damian kadang bisa sangat menyebalkan," kata Sasha mengingat-ingat kejadian itu. Pintu lift terbuka dan mereka berjalan ke restoran di dekat kantor. Ada sekitar lima puluh orang yang ikut makan malam itu. Mereka menyewa seluruh restoran dan membuatnya menjadi pesta kecil yang ramai. Lara duduk di antara Sasha dan Theo. Mereka memakan daging panggang sambil mengobrol. "Jadi, bagaimana Lara? Kau suka bekerja di sini?" tanya Steven - arsitek senior yang dudu di depan Lara. Lara mengangguk sambil meminum alkohol di depannya. Sasha menatap Lara dengan curiga. "Kenapa kau terlihat tak senang? Kau tak mau bekerja di sini saat lulus nanti?" tanyanya. Lara tersenyum kecil. "Aku akan memikirkannya saat lulus." "Tak ada yang perlu dipikirkan, Lara. Ini perusahaan konstruksi terbesar di Inggris. Biar kutebak? Kau tak suka bekerja di sini karena Pak Damian, ya?" Sasha menatap curiga pada Lara. "Apa kau berbuat salah pada Pak Damian? Kenapa dia terlihat membencimu?" tanya Sasha. Lara menggeleng. "Aku tak tahu." Sasha meminum beer di depannya dan tersedak hingga memuncrat ke tangan Lara. Perempuan itu terlihat sangat terkejut. Matanya melotot melihat ke belakang Lara. "Pak - Da-mian," ucapnya tak percaya. Lara menoleh ke belakang dan matanya langsung menatap mata tajam Damian yang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu melihat ke arah Lara. Dari sekian banyak orang di ruangan itu, matanya hanya terfokus pada Lara. "Apa boleh aku duduk di sini?" tanya Damian pada Theo yang duduk di samping Lara. Theo segera berdiri. "Tentu saja, Pak," katanya. Lara menggeser tubuhnya dengan tak nyaman. Sedangkan Sasha berbisik di telinganya. "Ini sungguh luar biasa. Pak Damian datang ke acara makan malam. Acara yang mungkin paling tak berguna untuknya," bisik Sasha. Lara tak menanggapi Sasha dan mengambil kaleng beer-nya. Ketika perempuan itu ingin meminumnya, Damian lebih dulu merebutnya. Lara menatap laki-laki itu bingung - begitu juga dengan seluruh karyawan yang melihat. "Aku haus," kata Damian sambil meminum beer bekas Lara. Perempuan itu menatap Damian tak percaya. Tak bisa menebak apa yang dilakukan Damian sekarang. Tiga hari laki-laki itu tak berbicara dengannya dan sekarang laki-laki itu duduk di sampingnya? Membuat semua orang terkejut karena tiba-tiba datang dan duduk di samping Lara? Terlebih lagi, meminum beer sisanya? Sasha tertawa untuk mencairkan suasana yang berubah tegang. Perempuan itu mengangkat kaleng beer-nya. "Untuk Pak Damian yang akhirnya datang ke makan malam perusahaan! Cheers!" Semua orang tertawa dengan canggung. Begitu pula Damian yang ikut bersulang dengan kaleng beer Lara. Sedangkan Lara merasa tak nyaman duduk di samping laki-laki itu. Mereka selesai makan malam pukul sepuluh malam. Sasha mabuk berat hingga Lara harus menuntunnya dan menghentikan taksi untuknya. Semua orang sudah pulang dan Lara masih menunggu taksi di depan restoran bersama Sasha. "Aku benar-benar tak menyangka Pak Damian datang. Apa aku bermimpi? Aku mabuk?" racau Sasha yang kini duduk di halte. "Sasha, kau bisa berdiri? Taksinya sudah datang. Kau harus memberitahu alamat rumahmu, Sasha," kata Lara sambil membangunkan Sasha. Namun Sasha tak sadar sama sekali. Perempuan itu hanya meracau tak jelas. Lara bingung karena tak tahu harus bagaimana. Apa Lara harus membawa Sasha ke rumahnya saja? Lara tak mungkin membiarkan Sasha sendirian naik taksi dengan keadaan mabuk. Saat Lara berpikir keras, seseorang menepuk pundaknya. Lara terkejut melihat Damian sudah berada di belakangnya. Laki-laki itu mengangkat tubuh Sasha dengan ringan ke dalam taksi. Laki-laki itu mengambil ponsel Sasha dan menelepon seseorang. Membuat Lara bingung dengan apa yang ia lakukan. "Ini Damian, bos Sasha. Adik Anda sedang mabuk dan saya memesankan taksi untuknya. Bisakah Anda menunggu di depan gedung? Sekitar sepuluh menit Sasha akan pulang," kata Damian dengan cepat. Laki-laki itu menutup telepon itu dan mengembalikan ponsel Sasha ke tasnya. Damian pun berkata pada sopir taksi. "Eden Apartment di jalan Kensington High, Pak. Silakan antar perempuan itu ke sana," kata Damian sambil memberikan uang taksi pada sopir. Sopir tua itu mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Lara menatap Damian tak mengerti. "Apa yang kau lakukan?" tanya Lara. Alis Damian terangkat. "Apa? Aku baru saja membantumu mengurus temanmu itu," kata Damian. "Siapa yang kau telepon tadi?" tanya Lara lagi. "Kakaknya." Kening Lara berkerut. "Darimana kau tahu kalau Sasha tinggal dengan kakaknya?" "Sasha adalah karyawanku, Lara. Aku mengetahui semua hal tentang karyawanku. Termasuk kau. Aku juga tahu kau tinggal dengan ibu dan adikmu," kata Damian. Lara menatap tajam Damian dan berjalan menjauhi laki-laki itu. Lara pikir Damian akan pergi, tapi laki-laki itu malah mengikutinya. "Ayo aku antar pulang," ucap Damian sambil menahan tangan Lara. Lara menepis tangan Damian. "Tak perlu." "Lara!" "Gang itu sudah tak bahaya lagi. Aku sudah melapor ke polisi dan kadang ada polisi yang berjaga di sana." Damian tak menyerah dan tetap menarik tangan Lara. "Aku akan mengantarmu," kata Damian sambil menarik tangan Lara ke mobilnya yang sudah terparkir di jalan. Ketika Damian membukakan pintu, Lara tak langsung masuk. "Kenapa kau melakukan ini, Pak Damian?" tanya Lara. "Melakukan apa?" "Mengantarku pulang. Anda bukan bos yang peduli pada karyawan. Kenapa Anda peduli pada saya?" Damian tak langsung menjawab dan mendorong Lara dengan lembut masuk ke mobilnya. Laki-laki itu memasangkan sabuk pengaman pada Lara dan duduk di sampingnya. "Pak Damian -" "Bisakah kau tak bertanya kenapa aku melakukan ini? Karena aku juga tak tahu! Aku hanya tak ingin melihatmu berjalan sendiri di gang itu lagi, Lara!" Lara menatap tajam Damian. "Bapak tak akan tiba-tiba mencekik leherku lagi seperti kemarin, kan?" tanyanya dengan nada menyindir. Damian menghela napas. "Aku tidak -" Laki-laki itu menyalakan mobilnya. "Aku tidak akan melakukannya lagi." "Bapak bahkan tak meminta maaf padaku," kata Lara. Damian menatap perempuan di sampingnya. "Apa ada yang berubah jika aku meminta maaf? Kau akan tetap menganggapku berengsek, kan?" Lara mengangguk dengan cepat. "Setidaknya Bapak sadar itu," katanya. Damian melajukan mobilnya dengan cepat. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di depan rumah Lara. Damian memperhatikan rumah kecil itu dengan serius. Sedangkan Lara segera turun dari mobil. Damian menurunkan jendela dan memanggil perempuan itu. "Lara!" Lara berbalik dan menatap laki-laki itu. "Apa?" "Aku minta maaf," kata Damian lalu menaikkan jendela mobilnya tanpa menunggu tanggapan Lara. Mobil laki-laki itu melaju pergi. Meninggalkan Lara yang masih berdiri di depan rumahnya seorang diri. Itu hanyalah permintaan maaf. Bahkan Lara tak tahu laki-laki itu tulus mengucapkannya atau tidak. Tapi kenapa d**a Lara berdebar hebat hanya karena permintaan maaf itu? "Tidak boleh, Lara. Kau tak boleh peduli pada laki-laki itu. Kau tak boleh memikirkan laki-laki itu. Dia tetap berbahaya meskipun mengucapkan permintaan maaf padamu ratusan kali pun," batin Lara pada dirinya sendiri. "Lara!" Seseorang memanggilnya dari belakang. Suara berat yang tak asing baginya. Suara yang meskipun berada seratus meter darinya - tapi bisa ia dengar dengan jelas. Suara yang selalu muncul dalam mimpi buruk Lara - selama belasan tahun. Tak pernah meninggalkannya sendirian. Suara yang membuat hidup Lara tak pernah bisa normal. Suara yang membuat Lara tak bisa tertawa dan bahagia seperti orang lain. Seharusnya Lara berlari secepat mungkin menjauhi suara itu. Tapi tubuhnya lebih dulu menegang dan Lara tak bisa mengendalikan kepalanya untuk tak menoleh ke belakang. Melihat orang yang membuat Lara dan keluarganya hidup bersembunyi seumur hidupnya. Ayahnya. Orang yang ingin Lara bunuh dengan tangannya sendiri jika ia bisa. Ayahnya. Orang yang selalu menjadi iblis di mata Lara. Baik di mimpinya - maupun di depan Lara seperti sekarang. Terlihat nyata dan menakutkan. Ayahnya sudah kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD