Perjanjian

1437 Words
2 minggu sudah aku resmi memegang kartu mahasiswa arsitektur, menjalani masa orientasi mahasiswa baru dengan hati berdebar dan semangat empat lima. Rasanya, penatnya tugas-tugas yang diberikan seniorku tak seberapa dibandingkan hidup pernikahanku yang tak jelas alur rimbanya. Aku berhasil membayar uang daftar ulang dan uang gedung kuliahku dengan menggadaikan cincin pernikahanku. Dua cincin sekaligus. Awalnya sempat terlintas untuk menjualnya saja, toh tak ada yang memakainya, dan Radit pun selama hampir 6 bulan kami menikah tak pernah sekalipun memberiku nafkah. Nafkah bentuk apa saja. Namun, aku terlalu penakut, takut kena karma. Bagaimanapun juga, pernikahan ini suci adanya. Hanya apartemen ini saja yang bisa kutinggali dengan leluasa, itu pun pemberian orang tuanya, bukan dia. Aku juga berhasil mendapatkan pekerjaan paruh waktu sebagai kasir kedai kopi yang buka 24 jam dekat unit, dan dengan kemurahan hati Pak Brian, manajernya, aku bisa mendapatkan shift malam hingga dini hari. Pekerjaan ini sangat membantuku untuk bisa mencukupi kebutuhan uang makanku sehari-hari dan juga uang transport kuliahku meski jumlahnya tidak banyak. "Bip.." Kujulurkan kepalaku ke arah ruang tamu, heran dan kaget. Sepertinya aku mendengar suara pintu unitku terbuka. Tapi siapa. "Oh, Nak Laras ada di sini." Hahaha. Memangnya siapa lagi kalau bukan aku yang ada di sini. Jawabku dalam hati, dalam hati saja tentunya. Aku hanya tersenyum. Beranjak bangun dari karpet depan ruang TV yang kujadikan tempat mengerjakan semua tugas kuliahku. Bangun, lalu mencium punggung tangan tante Rika, ibu mertuaku. Aku masih memanggilnya 'Tante'. Beliau menyodorkan beberapa kotak roti dan semangka utuh yang langsung kubawa ke meja dapur. Kutata di piring saji, untuk kusajikan lagi pada tamu yang membawanya sendiri. Karena aku sendiri tak punya apapun untuk dijadikan suguhan. Syukurlah. "Wah, sudah jadi mahasiswa? Ketrima dimana?" Tanyanya sambil membolak balik bukuku sambil lalu sebelum kemudian duduk di meja makan mendekatiku. "Radit juga sudah mulai kuliah loh Ras, resmi jadi mahasiswa manajemen bisnis dia sekarang. Iya kan Dit?" "Iya dong, Ma" Deg! Tiba-tiba jantungku seperti dipacu untuk lari, aku menahan nafasku agar tak tersengal. Suara itu, membuatku hati dan tubuhku berdebar. Bukan karena asmara, tapi karena amarah. Amarah yang selama 6 bulan ini kutumpuk sendirian. Kujejalkan dalam hatiku kepingan demi kepingan. Hampir saja ku lemparkan pisau irisan semangka ini ke wajahnya yang tampan. Kalau itu tak di kategorikan sebagai tindak pidana, pasti sudah senang hati kulakukan. Dengan santainya dia bersandar di tembok di belakang di mana tante Rika sekarang duduk. Seolah ingin menyembunyikan wajah dan tatapan sinis nya padaku dari pandangan ibunya. Aku hanya tersenyum. Berusaha tak menghiraukan tatapan sinisnya. Atau tatapan menyelidik oleh ibunya. "Silahkan, tante. Maaf, saya tak punya suguhan apa-apa," Aku menyodorkan irisan roti dan semangka ke hadapan ibu mertuaku. "Gausah repot Ras. Itu buat kamu. Mama minta maaf, karena tak pernah menengokmu selama disini. Kamu betah kan?" "Kalau tidak betah, apakah saya boleh pulang?" Celetuk ku spontan. Terkejut, tante Rika membelalakan matanya menatapku. Mungkin dikira aku akan menelan bulat-bulat basa-basi nya, seperti yang sudah sudah. "Hei, jaga bicaramu! Yang sopan lo kalo ngomong!" Radit mulai menggonggong. "Saya sopan." "Ibu gue udah baik ngasih lo tinggal di tempat sebagus ini. Lo harusnya nyadar! Dan terimakasih jangan lupa!" "Ssshh. Radit, sudah." Tante Rika menggerakkan tangannya di depan wajah. Mencoba melerai amarah anaknya yang mudah meletup karena apa saja. "Terimakasih." Aku menundukkan wajahku. Tanganku mengepal keras. Kujaga suaraku tetap datar, kujaga kata-kataku tetap wajar. "Tapi, saya tak pernah meminta tempat ini." "Kamu menantu mama, tentu mama ingin kamu tinggal di tempat yang layak. Meski tak meminta." Jawab tante Rika, tetap dengan suara halusnya. "Bukankah saya di sini karena tante tidak ingin saya tinggal di rumah tante?" "LO.... " Radit maju mendekatiku, namun tangannya di tahan oleh ibunya. "Mungkin tante bisa mengajari anak tante, tentang hidup berumah tangga, hak dan kewajiban suami istri. Bukan sekedar ijab qobul SAH, lalu seenak hatinya melenggang pergi." Nada suaraku tetap datar. Entah keberanian dari mana hingga kata-kata itu tanpa kusadari sudah terlanjur keluar begitu saja dari mulutku. Aku menatap tante Rika tepat di matanya. Meminta jawaban, meminta penjelasan. Tapi beliau hanya menyiratkan rasa iba dan kasihan dengan mata teduhnya, tanpa menjawab apa-apa. Tanpa perlu memberi penjelasan apa-apa. Tiba-tiba Radit merangsek maju, mengikis jarak di antara kami. Menatapku dengan rasa tidak suka yang amat sangat. "Lo suka gue? NGAKU!! Penting lo ngerusak hidup gue?! Lo itu bukan siapa-siapa! Dan selamanya gue gak akan nganggep lo sebagai SIAPA-SIAPA!!!" "Suka kamu? Ngerusak hidupmu? Saya yang harusnya bertanya itu pada kalian!" Suaraku mulai meninggi. Kutatap tajam dua pasang mata di depanku itu bergantian. "Kalian datang ke rumah anak gadis seseorang dengan ancaman penjara. Saya tak pernah merekam apa-apa. Tak pernah menyebarkan apa-apa. Lalu kemudian saya dijauhkan dari orangtua, dipaksa hidup berumah tangga tanpa nafkah berbulan-bulan, demi apa tante? Demi sebuah nama baik anak laki-laki yang tak tahu menjaga marwahnya." Air mataku sudah diujung, dadaku naik turun. Jantungku berloncatan. Sebersit pikiran muncul. Bagaimana jika mereka benar-benar menjebloskanku ke penjara? Bagaimana? Padahal ibukku tak bisa melihat yang namanya polisi. Ya Allah, Larasati. Apa yang barusan kamu katakan. Ibuku punya ketakutan tak manusiawi terhadap polisi. Trauma yang tak pernah dijelaskannya padaku, maupun Ali. Itulah kenapa, ketika keluarga Radit mengancam dengan penjara atau aku menikah dengan anaknya, ibuku langsung mengiyakan. Aku berbalik menatap Radit, jarak kami hanya sejengkal. "Suka? Kamu? Kalau mimpi jangan kerendahan. Saking rendahnya sampai gak bisa dipijak." Aku menatapnya dengan sepenuh hatiku, kugertakkan rahangku kuat-kuat. Menjaga agar ketakutanku tak naik menguasai kepalaku. Air mataku tumpah, luruh satu persatu. Tapi aku masih menatapnya. Aku bertekad tak akan kalah. Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut di pundakku. Lembut sekali, seperti tangan ibukku. Dan ternyata, itu adalah tangan tante Rika. Menepukku pelan, menenangkanku. "Duduklah, Nak." Pintanya. "Ayo, kita bicarakan dengan kepala dingin semuanya. Radit juga, ayo duduk sayang. Jangan membentak pada perempuan." Radit duduk, meski kilat amarah masih membara di matanya, dia menurut. Setelahnya, tante Rika menjelaskan bahwa yang meminta Radit agar menikahiku bukanlah keinginan keluarga mereka. Namun semua ini adalah permintaan keluarga Stephanie. Ancaman lebih tepat. Untuk memuluskan citra ayahnya yang sekarang telah terpilih menjadi menteri untuk 5 tahun ke depan. Seperti diketahui, Stephanie telah dikirim sekolah ke luar negeri. Foto dan video mereka yang beredar viral telah dihapus dan diburu tim IT. Diganti dengan foto yang wajah pelaku wanitanya diblurkan sedemikian rupa, dan entah bagaimana caranya, mereka menjadikannya seperti wajahku namun samar-samar. Karena itulah, keluarga Radit kemudian menggelar konferensi pers, meminta maaf pada masyarakat, dan akan bertanggung jawab yaitu dengan menikahkan putra mereka dan kekasihnya, yang kemudian baru kusadari bahwa yang mereka maksud 'kekasih Radit' adalah aku. Lalu Stephanie? Dia terselamatkan dengan hidup mapan di luar negeri, jauh dari gosip, jauh dari cemoohan, dan juga jauh Raditya. Mereka dilarang bertemu sampai batas waktu tak ditentukan. Dan untuk menjaga agar tidak ada lagi video/foto anak semata wayang mereka tersebar, maka Radit harus menikahiku. Sekaligus mengikat agar aku tak berusaha menyebarkan video atau foto apa-apa lagi di masa depan. Seolah-olah secara tak langsung mengatakan pada dunia, bahwa akulah gadis SMA yang dicumbunya. Yang harus dinikahinya dengan terpaksa. Gila!! "Kami tak bisa berbuat apa-apa, atau pekerjaan Ayah Radit taruhannya. Maafkan kami, Nak." Tentu saja, BUMN adalah perusahaan milik negara. Bu Rika pasti tak mau pak Suseno terlepas dari kursinya, dari jaringan elite koleganya. Hatiku serasa dicabik. Air mataku mengalir semakin deras. Aku menundukkan mukaku agar mereka tak dapat melihat wajah terlukaku. "Sudahlah, Ma. Mama gak perlu lagi minta maaf sama gadis kasar kayak dia." Radit pun melenggang pergi begitu saja, meninggalkan kami di ruang makan ini. ** Kupandangi selembar kertas perjanjian bermaterai yang baru saja ku tandatangani dengan tante Rika. 5 tahun. Tertera di sana, aku harus menikah dengan Radit selama 5 tahun hingga jabatan ayah Stephanie sebagai menteri periode ini selesai. Maka kami akan terbebas dengan segala keterikatan tidak masuk akal ini. Setelahnya, aku bisa menggugat cerai. Dan aku bisa memakai pengacara keluarga mereka untuk mempermudah segala urusannya. Sebelum pergi, tante Rika sempat menawarkanku uang hidup dan kuliah, alih-alih beliau hanya menyebutnya sebagai 'uang saku'. Namun aku menolak. Aku tak ingin lagi menjalin keterikatan lain pada keluarga mereka yang hanya akan menambah rumit, juga menambah rasa tidak suka Radit terhadapku. Bisa jadi lain kali dia akan menghinaku sebagai gadis lintah, yang hanya ingin menghisap uang keluarganya. Ah! Memikirkannya saja aku sudah muak. Apartemen ini tetap akan menjadi hakku hingga aku resmi bercerai nantinya. Dan tentu, aku tetap tak boleh tinggal bersama keluargaku agar tak ada yang menaruh curiga dengan pernikahan pura-pura ini. Dan Radit tetap bisa ke sini, jika dia bersedia. ** Kuputuskan dalam hati semenjak hari itu, bahwa aku harus lulus tepat waktu. Karena aku berkejaran dengan waktu. Aku harus mengejar dengan cepat kebebasanku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD