"Mau apa kita ke sini?" Hanin menatap runcing raut sang suami. Selepas dari kedai es krim, arahnya tidak langsung pulang ke rumah, justru datang ke kediaman lain. "Papimu minta ketemu." Makanya Hanin protes. Ini kediaman keluarga Lavoie, tempat di mana Hanin tumbuh tanpa pernah membuatnya rindu untuk kembali. "Mas tahu kalau aku—" "Hanya formalitas. Setelah itu, pulang." Januar memangkas. Tapi Hanin benar-benar berharap Januar menolak permintaan papinya yang konon ingin bertemu. Bertemu siapa juga? Hanin? Oh, jelas. Cuma mau ketemu Januar, dan itu pasti bukan tanpa maksud terselubung. Hanin sangat mengenal papinya. Jadi, mestinya tidak ke sini. Padahal sejak awal pernikahan ini disetujui, Hanin terang-terangan bahwa dia tidak akur dengan keluarganya sendiri, terkhusus orang tua. M

