Rafi tertegun sesaat setelah mendengar penuturan seorang dokter wanita yang kini ada di hadapannya. "Benar, Pak. Alasannya adalah karena dia tak mau Pak Rafi hidup dalam rasa bersalah yang besar. Ingatan Dokter itu kembali bermula saat menangani seorang pasien wanita yang sudah kritis saat itu. Beberapa perawat membawa seorang wanita yang terluka parah. Yang satu lagi sudah meninggal dan yang lainnya kritis. "Cepat lakukan pertolongan pertama. Dia keguguran." Ucap Dokter tersebut. Dengan sebuah perjuangan, wanita itu menarik lengan sang Dokter. "Jangan katakan kalau aku keguguran pada suamiku." Ucap Aurel dengan tangisnya. "Dia perlu tahu, Nyonya." Jawab sang Dokter. "Jangan. Aku tak mau dia hidup dengan perasaan bersalah yang besar. Aku tidak kuat lagi Dokter. Dia akan terpukul s

