**************** Di sebiah kamar apartemen, Sienna mendengus berat, membiarkan helaan napasnya yang sarat frustrasi mengisi keheningan kamar. Ia memilih menyerah pada anak "mahal" ini. Gelar itu, yang pernah ia sematkan dengan getir, kini terasa bagai belati yang menusuknya sendiri. Dengan gerakan lelah, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Tubuhnya sengaja memunggungi si anak yang sedang menangis, membiarkan Nick makin parah didera tangis dan batuk yang saling menyusul, terkadang bahkan sampai memicu rasa mual yang tertahan. Suara tangisnya yang terendam karena anak itu menelungkupkan wajahnya ke bantal ,namun suara tangisnya masih mampu membuat hati Sienna merasakan kesakitan dan penyesalan juga. Sienna tahu pasti Nick mendengarkan setiap patah kata yang Arga—wanita iblis itu—kata

