Rahasia di Balik Pelukan: Antara Janin dan Sang Mantan

1413 Words

Sienna memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, denyut di pelipisnya seakan mengikuti irama detak jantungnya yang tidak beraturan. Debat ini selalu berujung pada kebuntuan. "Klasik," desis Malik sarkas. Ia berdiri bersandar pada meja kayu, menatap Sienna dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kecemburuan yang membara dan rasa tidak percaya. "Cukup, Malik," ujar Sienna tajam, meski suaranya sedikit bergetar. "Cukup. Nggak usah bicara yang enggak-enggak. Mending sekarang kamu berangkat saja. Aku sudah lelah, kepalaku mau pecah hanya untuk berdebat denganmu." Malik justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Senyum miring tersungging di bibirnya, namun matanya dingin. "Bicara yang enggak-enggak? Bagian mana yang menurutmu fiksi, Sienna? Tentang kalian yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD