Samuel mendengus kesal, napasnya memburu tipis di udara sore yang mulai sejuk. Pertengkaran kecil yang baru saja terjadi, meski singkat, terasa menguras energinya hingga ke tulang. Urusan pekerjaan di kantor sudah menumpuk tak terhindarkan, namun ia sama sekali tidak bisa membiarkan Sienna pergi begitu saja. Apalagi dengan Nick, putra mereka, yang dibawa menuju ke tempat Malik tanpa ada satu pun diskusi yang tuntas. “Tidak, Sienna. Kita perlu bicara.” Samuel bergerak cepat, tangannya menahan pergelangan tangan Sienna tepat sebelum wanita itu berhasil melangkah sepenuhnya ke dalam mobil. Sentuhannya hangat, tegas, dan tak mengizinkan penolakan. Sienna berbalik, sorot mata cokelat terangnya menantang. Alisnya terangkat dalam gestur meremehkan. “Bicara apa lagi, Samuel? Kamu sudah dengar, a

