************* Samuel memutar tubuhnya perlahan di tengah aula utama yang megah. Indera penciumannya menangkap aroma kayu cendana mahal yang berpadu dengan samar bau masakan yang lezat. Matanya menyapu lantai marmer hitam mengilap. Ada bola karet merah kecil yang terdampar mencolok di dekat pilar. Lebih jauh lagi, di kaki tangga, terlihat tumpukan kepingan Lego berwarna-warni yang berceceran seperti mosaik yang gagal. Itu adalah pemandangan yang tidak pernah ia harapkan di dalam mansion-nya yang biasanya steril dan sempurna. Samuel menghembuskan napas panjang,garis wajahnya tampak tegas, namun ada kilatan penasaran yang terselip di balik sorot matanya yang tajam. "Mari kita lihat, apa yang diperbuat setan kecil ini saat marah," gumamnya, suaranya pelan tapi mengandung janji. Ia mulai

