Samuel menarik napas panjang, berusaha memasok oksigen ke dalam rongga dadanya yang mendadak terasa menyempit. Di dalam kamar yang luas itu, aroma parfum Sienna masih tertinggal, memicu memori-memori lama yang seharusnya sudah ia kubur. Ia teringat tawa Sienna—perempuan yang biasanya sedingin es dan irit ekspresi—saat mereka dulu pertama kali mengira akan memiliki momongan. Kala itu, binar di mata Sienna begitu nyata, sebuah pemandangan langka yang sempat membuat Samuel merasa menjadi pria paling beruntung. Namun, Samuel menyunggingkan senyum getir. Ia merenung dalam kesendirian, bukankah reaksi mereka dahulu terlalu berlebihan? Terutama untuk seorang bayi yang, dalam lingkaran keluarga mereka, mungkin hanya akan dipandang sebagai bidak catur baru. Seorang penerus takhta yang dipersiapkan

