Bandung, Desember 2016.
Sejak keputusan itu dibuat, aku selalu pulang sekolah bersama Bastian. Sebenarnya aku masih kesal, kenapa pereman-pereman itu tidak pernah mengejar kami lagi? Padahal kan itu membuatku bisa memeluk Bastian dan bersandar di pundaknya. Namun, Bastian selalu sabar menungguku latihan bersama anak-anak band. Dan hal itu terus berlanjut hingga tiba pada hari festival musik di sekolah. Aku benar-benar deg degan hari itu. Karena walaupun sering mengcover lagu di media sosial, ini adalah kali pertamaku tampil di depan orang banyak.
Tiba di hari festival musik sekolah, aku benar-benar dag dig dug dan tidak bisa tenang sejak pagi. Aku mondar mandir di depan rumahku dengan gelisah sambil menunggu Bastian keluar dari rumahnya. Hari ini Bastian akan mengantarkanku ke gedung pertunjukan di sekolah. Sebenarnya mereka yang tidak berpartisipasi di acara ini diizinkan untuk di rumah saja. Toh sekolah sedang tidak ada jam belajar mengajar. Tapi, aku memaksa Bastian dengan susah payah untuk mengantarkanku ke acara ini. Aku memintanya untuk diam di dalam gedung dan menonton penampilanku. Aku juga memintanya untuk mengabadikan penampilanku dengan vidio. Aku memberikan camera ku padanya untuk mengabadikan seluruh momentku nantinya.
***
Bastian keluar dari gerbang rumahnya. Sebenarnya Bastian menawarkanku untuk naik mobil saja. Dia mau mengantarku naik mobilnya, karena perkiraannya hari ini hujan akan turum deras. Tentu saja aku menolaknya. Kalau naik mobil, aku tak bisa menyender di pundaknya dan memeluknya seperti waktu di kejar pereman itu. Siapa tau hari ini pereman itu kembali menejar kami, hehehe...
“Kenapa liat liat kaya gitu?”
Bastian menyadarkanku yang dari tadi terbengong karena terkagum dengan penampilannya hari itu. Dia benar benar tampan memakai celana jeans putih dan atasan kaos oblong hitam. Dia juga memakai sepatu kets putih dan jaket bamper hitam. Benar benar tampan, bahkan melebihi oppa oppa Korea yang terpanjang di dalam kamarku.
“ Kamu keren banget Bas. Ga salah aku gila karena kamu" Kagumku.
“ Dih apaan sih. Udah naik, pagi-pagi udah kumat aja gilanya” Sinisnya
Sepanjang jalanan, aku menatap ketampanan Bastian saat itu dari spion motornya. Aku benar-benar bahagia sampai aku benar-benar tidak peduli dengan festival nanti. Menang atau kalah, di antar Bastian seperti ini saja aku sudah sangat bahagia.
***
Setibanya di sekolah, aku kembali deg degan karena takut tak bisa tampil maksimal di depan Bastian. Namun, Bastian meyakinkanku untuk bisa tampil dengan maksimal.
“ Kalau kamu jelek, aku langsung pulang. Kalau suara kamu rusak telinga aku, aku langsung pulang”
Bastian mengatakan itu dengan nada dinginnya tanpa menatapku.
“ Ih, tinggal bilang semoga menang aja kok gengsi banget sih Bas Bas. Yaudah nih, kamera aku. Jangan lupa vidioin ya. Yang bagus. Oke? ” Pintaku padanya
“ Ribet banget sih punya temen kaya kamu” Ujar Bastian dengan nada dinginnya itu.
Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, ku ukir senyum licik di wajahku.
“ Makanya kalau aku ribet jadi teman kamu, pacarin aja, siapa tau ga seribet jadi temen kamu” Bisikku nakal kepadanya.
Aku memberikan kameraku kepada Bastian dan meninggalkannya untuk bergabung bersama anak anak band yang lainnya. Sementara Bastian, dia masih saja berdiri dengan alisnya yang naik sebelah memandang heran dengan isi kepalaku ini.
***
Sekarang waktunya aku untuk tampil bersama bandku. Aku memasuki panggung dengan keringat dingin. Namun, aku menjadi tenang karena melihat Bastian yang berdiri dengan gagahnya diantara para penonton lainnya. Dia tampaknya sudah merekamku sejak aku memasuki panggung tadi. Dia terlihat tersenyum kepadaku. Musikpun berbunyi, aku mulai bernyanyi di panggung itu. Dari awal aku menyanyi, penonton sudah banyak yang bertepuk tangan. Itu membuatku semakin percaya diri menyelesaikan laguku. Saat itu, Semua lagu yang di lombakan berasal dari lagu penyanyi Tulus. Dan di lagu pertama, band kami memilih untuk membawakan lagu yang berjudul “Sepatu”. Aku membawakan lagu itu dengan sepenuh hati. Seolah benar benar terjadi di dalam hidupku.
“..... kita sadar ingin bersama.
Tapi tak bisa apa apa..
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sepi bila kita di rak berbeda.....”
Potongan lirik itu mengingatkanku kepada Bastian. Aku melihat ke arahnya di sepanjang aku bernyanyi. Dia tampak focus dengan kamera yang sejak tadi dipegangnya. Dasar pelit, dia hanya focus merekamku tanpa memberikan sedikitpun senyuman untukku.
Lagu pertama selesai. Aku menutupnya dengan di iringi tepuk tangan yang meriah dari para penonton. Dan lagu kedua, lagu terakhir, band kami membawakan lagu Tulus yang berjudul ‘ Teman Hidup’. Dan sepanjang aku membawakan lagu itu, suasana gedung itu mendadak sepi. Semua tampak terhanyut dengan lagu yang kami bawakan. Entah karena suaraku, musiknya, atau karena pembawaanku yang begitu mendalami lagu itu. Aku membawakannya sambil beberapa kali menatap Bastian. Ada waktu dimana kami saling bertukar pandang, bertukar senyuman.
“... tetaplah bersamaku,. Jadi teman hidupku..
Berdua kita hadapi dunia..
Kau milik ku milikmu
Kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu... ”
Potongan lirik lagu itu kembali mengingatkanku kepada Bastian. Bastian tersenyum ke arahku. Dia dan semua penghuni gedung itu memberikan tepuk tangan yang meriah saat band kami mengakhiri penampilan kami. Aku tersenyum puas dengan penampilanku. Terimakasih Bastian, sudah membantuku meresapi lagu-lagu ini dan membawakannya dengan baik.
Meskipun lawan kami dari sekolah lain juga bagus-bagus, namun aku bisa menyanyi dengan maksimal di atas panggung itu. Tentu saja karena ada Bastian yang sedang menontonku saat itu. Dan juga karena lagu lagu yang sesuai dengan kehidupanku itu.
***
Tiba saatnya dimana juri akan memutuskan siapa pemenangnya. Perwakilan dari setiap band naik ke panggung untuk menentukan pemenangnya. Dan band kami di wakili oleh aku dan Riski. Kami berdua naik ke atas panggung bersamaan dengan perwakilan band yang lainnya. Dan saat di umukan, juara 3 di raih oleh SMA Kejayaan Timur, juara dua di raih oleh SMA musik Bandung.
Dan saat penentuan juara satu, aku sangat deg degan karena takut bahwa band kami tidak akan menang hari itu. Dan ternyata, juri memutuskan juara 1 di raih oleh band kami. Aku sangat senang saat itu. Aku melambaikan taganku kepada Bastian dan tersenyum ke arahnya. Dia membalas lambaian tanganku dan juga tersenyum kepadaku. Aku benar benar bahagia saat itu. Namun, Riski yang berada di sampingku tiba-tiba saja memelukku saat aku tengah bertukar senyuman dengan Bastian.
Tentu saja aku terkejut kala itu. Aku tak membalas pelukan Riski. Namun, aku membiarkannya memelukku karena kala itu kami tengah berada di atas panggung, dan kami adalah teman seband. Tak mungkin aku mendorongnya dan membuatnya malu didepan banyak orang.
“ Dasar bodoh. Katanya ga mau digosipin pacaran sama Riski. Tapi malah pelukan di depan umum kaya gitu“ gerutu Bastian.
Bandung, Desember 2016
Ada kala dimana cinta sepihak kita bersikap egois ketika kita menjadi dekat dengan orang lain. Sementara dia, tak pernah peduli dengan perasaan kita selama ini. Bagaimana dia mengabaikan kita, dan menganggap remeh ketulusan cinta kita.