Damian mengembuskan napas lega. Ia merasa sangat beruntung memiliki mobil yang sangat tidak berisik. Suara mesin mobilnya sehalus sutra sehingga ia tidak ketahuan. Di jalan utama, Damian memacu mobilnya lebih kencang. Ia ingin segera tiba di tempat Sherina, kemudian meninggalkan ibu kota secepatnya, sebelum kedua orang tuanya mengetahui ia tidak berada di rumah lagi. Kondisi jalanan yang ramai sedikit menghambat Damian. Beberapa kali ia terjebak kemacetan, tidak hanya di lampu merah, di beberapa belokan juga. Saat tiba di tempat Sherina menunggunya, ia berseru gembira tanpa sadar. Cepat-cepat Damian membukakan pintu untuk Sherina yang berlari kecil ke arah mobilnya. Wanitanya hanya membawa sebuah koper kecil, sepertinya Sherina terburu-buru sama seperti dirinya. "Yang, aku takut ba

