"Bu Andrea hamil?" Bik Wati menutupi mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan. Haru menyelinap di dadanya membuat matanya terasa perih dan berkaca-kaca. "Bu Andrea!" Bik Wati memeluk Andrea, menangis di bahunya. Dia benar-benar terharu dan kagum. Majikan perempuannya sangat kuat dan sabar. Keputusannya memilih untuk meninggalkan keluarga Oliver dinilainya sangat tepat untuk kandungannya. Bu Andrea pasti akan terus kepikiran bila tetap berada di rumah itu. Hal tersebut sangat tidak baik untuk perkembangan janin. Seorang ibu hamil tidak boleh stress, ibu hamil harus selalu berpikiran positif dan bahagia agar bayi dalam kandungannya juga sehat. "Kenapa ibu nggak kasih tau saya?" tanya Bik Wati sambil mengurai pelukan. Andrea tersenyum. Kedua tangannya terangkat, mengusap air mata di p

