"Bu Andrea, Tuan Damian pulang, tapi ...." Bik Wati menggantung kalimatnya. Dia menundukkan kepala, kedua tangan saling meremas. Dia ragu untuk memberi tahu majikan perempuannya lebih lanjut. "Tapi apa, Bi?" tanya Andrea. Sepasang alisnya bertaut menatap Bik Wati yang terlihat gugup. "Bibik kasih tau aja, nggak apa-apa," katanya menenangkan. "Tuan membawa pelakor itu lagi, Bu," kata Bik Wati masih dengan kepala tertunduk. Dia bahkan semakin menundukkan kepala, merasa tidak sanggup melihat luka di mata majikan perempuannya. Andrea mengembuskan napas melalui mulut dengan pelan. Setelah kembali tidak pulang semalaman, sore ini Damian pulang malah membawa kekasihnya. Entah apa yang diinginkan pria berengsek itu, seolah saja ia tidak cukup menginjak-injak harga dirinya beberapa hari yan

