Auris merasa hidupnya hampa tanpa ada Yusuf, padahal Auris berada di rumah papanya yang sangat megah ini. Walaupun rumah ini lebih indah tetap saja Auris akan lebih merasa nyaman jika tinggal bersama Yusuf. Entah cinta apa ini, tapi cintanya pada Yusuf tidak pernah meredup, padahal Yusuf sudah melukainya berulang kali. "Makan dulu Ris," tanpa mengetuk pintu kamar Auris, Mawan sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar Auris dengan nampan makanan di tangan. Sejak tadi siang hingga sore hari ini, Auris belum makan sama sekali. Auris mengangguk pelan, sebenarnya Auris tidak lapar sama sekali. Hanya saja Auris sadar diri jika ia tidak makan, bukan hanya dirinya saja yang terkena dampak tapi bayinya juga. Setidaknya ada keturunan Yusuf yang bersamanya. "Mau papa suapin?" tanya Mawan sam

