Masih di Golden Mansion, Saat Owen tengah bersiap berangkat menuju kantornya, tiba - tiba pandangannya dibuyarkan oleh Audrey yang tengah memasak masakan di dapur. Owen yang begitu tergoda pagi itu mendekat ke arah Audrey. Memeluk erat dengan memberikan kecupan lembut di leher belakang Audrey
"Masak apa sayang, kan ada koki keluarga yang siap masakin, ngapain kamu capek - capek, nanti bau bawang badanya."
"Ya Owen, dah jangan peluk - peluk, aku lagi masak ini tar kamu kena minyak lho."
"Biarin aja sich, ini kan rumahku, suka - suka aku mau ngapain, lagian kamu ngapain masak, kan udah ada koki di sini."
"Aku kurang suka masakan western, aku mau masak ini buat bekal saat nanti kerja, sayang kan uangnya beli terus, pemborosan kan, kamu nyari uang itu susah.'
"Hmm, kalau kamu mau masakan nusantara gampang nanti tinggal panggil koki khusus masakan nusantara, kenapa nggak bilang sama aku sich."
"Owen, kamu itu kan udah kasih uang aku super banyak kan."
"Terus kenapa mang, kurang ya, nanti aku tambahin."
"Gila apa, uang segitu bisa buat aku hidup sampai tua kali, gila apa kurang. Aku tuch memang suka uang, tetapi nggak juga buang - buang beli masakan di luar terus, nggak sehat lah. Apalagi kamu kan capek nyari uangnya, masa aku abisin gitu aja."
"Ya ampun, kamu takut gitu aku bangkrut, nggak akan sayang, aku bilang kan uang segitu, cuman uang kecil, nggak akan aku bangkrut ya ampun, kamu tuh ya, bikin aku tambah gemes aja."
"Ya bagi kamu kecil, bagi aku gede banget lah, dari pada kamu datengin koki khusus masakan nusantara lebih baik uangnya kasih yang lebih membutuhkan lah, nggak usah."
"Aku ini sayang sama kamu."
"Sayang koq galak banget, sering bentak aku, ngatain aku bodoh, ceroboh, itu namanya sayang."
"Bawel ahh."
Saat mereka tengah bermesraan, tiba - tiba suara salah satu satpam menganggu kemesraan mereka.
"Maaf Tuan Owen, Nona Audrey."
"Ya apa, ah kamu ini ganggu aja, ada apa pak satpam?" jawab Owen yang wajahnya langsung bete
"Anu...hmm."
"Anu ... anu apa pak satpam?"
"Di luar ada Mbak Laura."
"Hah, ngapain lagi dia dateng, bilang aja pak satpam, saya nggak di rumah, bilang aja lagi di Ausy gitu."
"Sudah Tuan Owen, tetapi Mbak Laura maksa masuk, itu lagi dihadang sama satpam lainnya."
"Hadehh, ngapain lagi si dia, wanita nggak tahu diri dia itu."
Owen dengan raut wajah kesal, akhirnya terpaksa menemui Laura, anak salah satu anak miliarder terkenal juga.
"Pagi sayangku Owen, kamu kenapa sich berubah sekarang, segala bilang nggak ada di rumah, aku mau main atau nemenin kamu ke kantor." ucap Laura sembari menggandeng Owen
"Laura apaan sich kamu, lepasin nggak, udah ya, langsung aja kamu mau ngapain ke rumahku pagi - pagi, kamu bukannya harus ke kantor urus perusahan kamu."
"Owen, aku kangen lah, masa nggak boleh kangen sama kamu."
"Eh, stop ya udah, masih nggak sadar juga, aku sama kamu itu udah batal tunangan, jadi stop panggil - panggil aku sayang. Kamu itu cuman mantan istri percobaan bukan istri sah."
"Tunggu dulu, aku masih sayang sama kamu."
"Ya silahkan kalau kamu masih sayang sama aku itu hak kamu Laura, tetapi aku nggak pernah suka sama kamu, karena perjodohan ini semua hanya keinginan orang tua kamu, so papaku sudah nggak ada tidak perlu lagi kita lanjutkan, aku tidak pernah mencintai kamu, kamu itu hanya ambisi sama aku, bukan cinta."
"Owen, koq kamu gitu sich, aku beneran sayang sama kamu."
"Pak satpam, lain kali kalau dia maksa masuk, langsung usir aja, kalau perlu siram pakai air kotor aja, jangan lagi besok - besok kalian kasih masuk dia ya, kalau sampai kalian nggak dengerin perintah saya, jangan salahkan saya, saya cari pengganti kalian, mau kalian semua saya pecat."
"Jangan Tuan Owen. Mba Laura mohon lebih baik pulang yah, jangan buat kami jadi sulit."
"Ihh awas kalian semua ya, liat aja."
Owen hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali masuk ke dalam untuk sarapan pagi.
"Siapa sich, kayaknya kenal banget sama kamu y, dan seperti wanita terhormat juga."
"Ya, dulu dia mantan tunanganku, tetapi setelah papa meninggal, aku memutuskan pertunangan sama dia. Dia salah satu istri percobaanku juga, tetapi dulu kedua orang tuaku memaksaku untuk benar - benar serius, dia selingkuh, langsung aku batalin aja, toh papa dan mama udah nggak ada juga."
"Terus dia mau gitu, ninggalin kamu."
"Entahlah aku nggak mau pusing, udah dulu aku berangkat duluan ya, masukin rotinya di kotak makanan aja yah, aku buru - buru mau berangkat ke Ausy dulu ada meeting sama klien besar."
"Lho kamu mau bawa bekel, yakin, biasanya sarapan di rumah."
"Sekali - kali makan buatan kamu, masak apa kamu barusan."
"Ada sandwich, ada nasi sama capcay sama ayam goreng."
"Ya udah bawain semua, sampai buat aku makan siang, awas jangan sampe nggak enak yah."
"Ya siap tenang ajah, aman juga koq dari racun."
"Aww racun, ih bisa memangnya , racunin aku. Dah ya kamu rehat aja dulu, tunggu aku pulang, nggak usah ke kantor dulu."
"Ya lagi pula, aku mau ijin ke rumah ibu ya."
"Hmm, ya udah, pake supir sana
"Ya, boleh ya, aku mau ke rumah ibu."
"Boleh asal jangan sampai bertemu sama Adrian."
"Ya, tenang aja, aku juga udah blokir nomor ponsel dia koq."
"Usahain sore udah di rumah ya."
"Ya aku usahakan."
"Lain kali kamu harus bisa nyetir sendiri ya, nanti aku akan datangkan pelatih, karena aku tidak sempat untuk ngajarin kamu."
"Owen, aku nggak bisa nyetir, dan nggak akan mau belajar nyetir juga."
"Kenapa mang, gampang koq belajar nyetir."
"Kaki aku ini sering nyeri, bahaya kalau nyetir nanti mobil kamu rusak gimana, kamu beli pake uang."
"Kalau kaki kamu sakit kakinya itu tinggal pake supir aja, nggak usah ribet, aku nggak mau kamu naik taxi online lagi."
"Ya udah terserah kamu aja, nanti juga siang sepertinya aku mau ambil side job ya."
"Nggak usah macem - macem ngapain masih kerja, kamu fokus aja urusin aku, masalah nanti kamu mau punya bisnis, urusan aku, aku yang akan siapin semuanya, sesuai bidang kamu."
"Aku dah nyaman lho sama kerjaan aku yang sekarang, kalau aku nggak kerja aku bengong gitu di rumah, aku bete kali."
"Ya udah gini aja, kamu jurusan apa sich kuliahnya?"
"Bisnis manajemen lah"
"Oh pas berarti, kamu bisa kerja di salah satu Golden Grup aja, nanti besok ya kita kesana, hari ini kamu nggak usah lagi ambil - ambil side job deh."
"Ya itu namanya aku kerja karena kamu yang bawa dong, nanti ada kecemburuan sosial."
"Nggak usah mikirin gitu, semua Golden Grup aku yang pegang, nggak ada yang berani lawan keputusan aku, nanti kamu belajar bisnis sama Bram, dia pasti siap bantu kamu.'
"Ya udah, nanti aku kabarin ke boss nya, aku nggak jadi ambil side jobnya."
"Ya udah aku pergi dulu, hati - hati di rumah, nanti kita bicara lagi." jawab Owen dengan memberikan kecupan lembut di kening Audrey
"Hati - hati Owen."
"Yah, kamu juga ya."