"Sssttt tunggu Audrey sayang, aku mau bicara."
"Ya Tuan, ada apa lagi, aku mau bersih - bersih badan, lengket. Dan kita sudah sampai Golden Mansion ini."
"Ya, tunggu sebentar, mmuuaahhh." ucap Owen sembari memberikan kecupan lembut di punggung sexy milik Audrey
"Tuan kurang puas ya, dengan pelayananku barusan?" jawab Audrey dengan memberikan kecupan lembut di hidung mancung Owen
"Nggak ada yang kurang, terima kasih, kamu benar - benar masih suci ternyata, maafin aku ya, tetapi aku janji akan menepati semuanya."
"Tuan, aku nggak apa - apa, kalau Tuan Owen bahagia, aku ikhlas."
"Audrey aku sayang sama kamu, jangan tinggalin aku ya."
"Tuan sedang merayuku, atau casanova nya mulai keluar ini."
"Hmm, bahagia aku, sekeras apapun laki - laki kalau sudah menemukan wanita yang bisa meluluhkan hatinya, hufftt kita juga butuh dimanja."
"Tuan jangan terlalu berlebihan, karena tiba waktunya juga pasti akan ada penggantiku juga kan."
"Husstt jangan bicara asal kamu itu, kamu akan menjadi yang terakhir, karena rasamu beda"
"Kopi dong beda, udah ahh, antar aku sekarang ke dalam tuan, badanku lengket semua, gerah banget."
"Ya udah, pakai dulu bajunya yang bener, baru nanti aku antar kamu ke kamar mandi, semua pakaian sudah tersedia, di kamarmu."
"Ya aku juga mau mandi dulu, abis itu aku mau istirahat dulu ya Tuan."
"Ya udah, rehat yah, terima kasih, kamu besok full istirahat aja, besok hari minggu libur kantor, tetapi aku harus ke Singapore."
"Ya Tuan."
"Tetapi tunggu sebentar, aku punya syarat, aku sudah transfer lima puluh miliar , kamu bisa cek, kamu hanya milikku sekarang, tubuhmu hanya milikku."
"Aku sudah punya pacar Tuan, bagaimana bisa, aku menginap dan seutuhnya menjadi milik Tuan Owen."
"Sekarang aku tanya deh sama kamu, apa yang udah aku kasih, apa kurang, lima puluh miliar, mobil kasih baru, berikut semua fasilitas kemewahan, buat apa kamu masih menjalin hubungan sama lelaki yang belum jelas penghasilannya, apa iya dia bisa seroyal aku, dan sepertinya aku kan yang beruntung mendapatkan mahkota berhargamu itu, so putuskan pacarmu, atau aku sendiri yang bertindak."
"Aku memberikannya juga ditukar dengan uangmu Tuan, semua tidak gratis bukan." jawabnya dengan tegas
"Hmm, aku pastikan kamu akan sangat menyayangiku suatu saat."
"Sayang sama Tuan, nggak akan terjadi itu, karena aku anggap semua hanya pekerjaan, udah ahh aku mau mandi."
"Jika nanti kamu bisa membuatku nyaman, maka kastamu akan naik menjadi istri sah, dan satu - satunya wanita di hatiku."
"Semua lelaki itu hanya manis di awal tuan, aku tidak mau percaya begitu saja sama tuan, buktikan saja."
"Hmm nggak apa - apa kalau kamu nggak mau percaya saat ini, dalam tiga bulan kita lihat, jika kamu bisa meruntuhkan hatiku, aku janji akan menikahimu, tetapi jika tidak bisa kamu lakukan, maka aku sendiri yang akan melepaskanmu, hutang ibumu lunas."
"Semoga aku bisa membuatmu bosan tuan, sumpah aku nggak mau menjadi istri sahmu."
"Oh gitu maunya kamu, aku bosan sama kamu, memangnya siapa yang punya kendali di sini."
"Ya Tuan Owen lah."
"Nah itu tahu, terus kenapa jadi kamu yang ngatur aku harus bagaimana sama kamu, hak aku, aku yang atur, bukan urusan kamu."
"Ya sudah iya aku minta maaf Tuan."
"Jika di rumah just call me Owen, tidak usah pakai tuan Dan inget sejak pertama mendapat sentuhanmu, mendapat mahkota kesucianmu, aku sayang sama kamu, terserah mau percaya atau nggak, aku nggak perduli kamu bisa balas perasaan aku kapan, yang terpenting jangan pernah nusuk aku dari belakang, kalau sampai hal itu terjadi, aku akan buat kamu menyesal seumur hidup."
"Ya masalah hubungan kita ini, apa nantinya nggak jadi masalah sama karirnya kamu Owen."
"Selama kamu bisa jaga sikap, nggak akan rahasia ini bocor. Surat perjanjian apa, nggak perlu. Ya udah kamu mandi dulu sana, aku mau mandi juga terus mau cek email dulu, kamu tidur duluan aja nggak apa - apa."
"Ya ini mau mandi."
"Nanti sebelum kamu tidur, buatin aku coffee latte ya sayang, taro di meja kerjaku ya."
"Ya Owen."
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Audrey dengan begitu anggun melangkah menuju dapur, membuatkan coffee latte kesukaan Tuan Owen. Namun karena Audrey merasa terlalu mengantuk, sesuatu terjadi yang membuat Owen sangat marah.
"Owen ini kopinya."
"Eh kamu, masuk sini, taro aja di meja situ."
Tiba - tiba tangan Audrey lemas, dan coffee latte itu tumpah membasahi dokumen penting punya Owen.
"Ya ampun, maafin aku."
"Kenapa, What! Kamu yang numpahin minuman ini ke dokumen penting aku, gimana si kamu, hati - hati dong."
"Maaf aku ngantuk banget, aku bener - bener nggak sengaja Owen, aku minta maaf."
"Bodoh, maaf kamu bilang, ini ceroboh namanya, beresin semua ini, kamu tahu ini dokumen penting aku, dan draftnya nggak sama aku, susah memang kalau dah ceroboh tetap aja ceroboh, kamu tahu dokumen ini harus aku bawa ke Singapore besok, dah sana menjauh aja kamu, bikin pusing aja."
"Ya ampun, aku kan dah minta maaf, nggak sengaja juga aku, kasar banget sich kamu."
"Aku dah bilang, nggak usah cari masalah sama aku, kalau kamu ngantuk bilang, jangan maksain, pikir coba." saut Owen sembari menunjuk kepala Audrey dengan telunjuknya
"Ya udah aku keluar."
"Heh, bersihin dulu ini, sampe bersih."
"Ya sabar." jawab Audrey dengan cucuran air mata
"Nggak usah nangis kamu, udah sana, lelet banget kamu ya, nggak usah cengeng kamu."
Setelah membersihkan meja itu, Audrey lalu kembali istirahat. Owen yang masih kesal, berjalan melewati kamar tamu, dia melihat Audrey tengah tertidur sangat lelapnya.
"Sorry seems to be the hardest word." ucap lirih Owen sembari menutup secara perlahan kamar tamu itu
Besok adalah hari minggu, Audrey berencana main ke kampusnya Cleo, salah satu teman akrabnya yang sampai detik ini masih menjadi mahasiswi abadi. Audrey terus menangis, dia tidak pernah membayangkan, dia harus bekerja dengan miliarder yang sangat kejam dan menuntutnya untuk selalu sempurna. Dalam hal apapun. Namun semua demi melindungi ibunya dari jeratan hukum, Audrey terpaksa mengiyakan permintaan Owen untuk menjadi istri percobaanya yang ke dua puluh satu. Dia pun harus menyiapkan alasan yang tepat untuk memutuskan Adrian, pacarnya yang bekerja sebagai manajer bank.
"Ya ampun, besok gue harus punya alasan yang tepat, untuk mutusin Adrian, dia terlalu baik untuk diputusin, please sumpah, gue bener - bener dilema, semua karena Tuan Owen, yang sok kegantengan itu, ya memang ganteng tapi nyebelin luar biasa." gumamnya dengan menutup bantal ke wajahnya