Ara itu...unik.
Setidaknya begitulah kesimpulan yang dapat Beomgyu tarik setelah nyaris setengah jam mengamati Ara yang tak kunjung beranjak dari kursi kantin. Cewek itu kelihatan kesal sekali, ia memakan makanan yang ia pesan dengan brutal, seolah sudah tujuh hari tujuh malam tak menyentuh nasi.
Nasi dan ayam geprek, bakmi, batagor, gorengan, dan beberapa makanan lainnya sudah habis dilahap Ara yang kini beberapa kali mengelus perutnya karena kekenyangan. Beomgyu terkekeh melihatnya.
Seharian itu, Beomgyu menghabiskan waktu dengan mengikuti Ara. Tentu saja ketika ia tidak sedang belajar di kelas. Seperti sekarang ini, saat bel pulang berbunyi, Beomgyu buru-buru mencari Ara, yang ternyata baru saja berjalan keluar dari kelas. Beruntung karena tak kehilangan jarak Ara, Beomgyu terus mengikuti cewek itu sambil memakai jaket hitam dan maskernya. Yah, jaga-jaga supaya Ara tak mengenalinya.
Sumpah, Beomgyu itu nggak berniat jahat. Ia tak sedikitpun memikirkan hal jahat untuk dilakukan kepada Ara. Yah, walaupun outfitnya kali ini memang mencurigakan, sih. Cowok yang tingginya baru naik menjadi seratus delapan puluh sentimeter itu sekarang sebelas duabelas dengan begal yang siap melancarkan aksinya. Apalagi setelah ia memakai kacamata hitam.
Baru saja keluar dari gerbang sekolah, ternyata Ara berjalan kaki dan memasuki sebuah kedai es krim tak jauh dari sana.
Buset, ni anak masih mau ngalebok lagi?
Sambil menggelengkan kepalanya heran, Beomgyu ikut masuk dan memesan sebuah es krim. Karena terlalu fokus memerhatikan Ara, cowok itu tak terlalu mendengarkan pertanyaan dari sang pemilik kedai yang menanyakan es krim apa yang ingin Beomgyu pesan. Ia hanya minta es krimnya sama dengan yang Ara beli, tanpa tahu bahwa Ara membeli es krim dengan rasa mint chocolate yang sangat Beomgyu benci.
"Samain kayak cewek yang tadi aja." Katanya cepat, tak menyadari bahwa ambang kematian sudah duduk manis menunggunya.
Bahkan jika diberi pilihan untuk memakan es krim mint-choco atau mati, Beomgyu jelas akan memilih opsi yang kedua. Mati dengan hormat tanpa mencicipi sedikit pun pasta gigi berkedok es krim itu adalah suatu hal yang bisa dibanggakan. Haha.
Karena tak punya waktu untuk membeli rasa yang lain—ia harus bergegas duduk karena semua tempat duduk nyaris penuh, hanya tersisa kursi di depan Ara dan juga di belakang Ara. Kini mereka duduk saling membelakangi.
Dengan tenang, Beomgyu memilih duduk di kursi yang tepat membelakangi Ara. Sesekali cowok itu menoleh dan melihat keasyikan Ara saat menikmati mint-choconya.
Beomgyu merinding. Ara itu sebelas duabelas dengan Yeonjun ketika sedang menikmati mint-choco seperti itu.
Ditatapnya mint-choco yang tak sengaja ia pesan, Bakal aneh nggak, ya, kalo nggak gue makan?
Tentu saja aneh! Orang-orang di sini semuanya melahap es krim yang mereka beli. Nggak ada alasan buat tak segera menikmatinya. Yah, kalau kasusnya seperti Beomgyu, sih, beda lagi ceritanya. Namun, semua orang 'kan nggak tahu kalau Beomgyu itu anti mint-choco. Bagaimana kalau Ara menyadari keanehan itu?
Setelah menelan ludah dan merapalkan mantra demi kebaikan organ pencernaannya, Beomgyu mencoba mint-choconya.
Tuhan, rasanya Beomgyu mau muntah sekarang juga. Bibirnya bergetar, mint-choco itu seolah meledak dan menyebarkan virus di dalam mulut Beomgyu. Karena tak tahan, Beomgyu memutuskan untuk berhenti setelah memakan lima suap. Beomgyu benar-benar nggak bisa. Kalau dilanjutkan, bisa self harm namanya.
Berhasil menghadapi cobaan dengan mint-choconya, cowok itu bersyukur saat Ara bangkit dan keluar dari kedai.
Akhirnya, penderitaan gue berakhir. Ia membatin, sembari terus mengikuti Ara dari belakang. Baru saja Beomgyu mau menertawai Ara karena tak menyadari keberadaannya sejak tadi, cewek itu tiba-tiba menoleh, membuat Beomgyu kaget dan kontan menyembunyikan diri di balik tiang listrik. Entahlah sejak kapan tiang listrik itu berada di sana, tapi Beomgyu bersyukur karena kehadiran tiang listrik itu, ia jadi nggak tertangkap basah.
Gawat. Ternyata Ara nggak sebodoh yang ia kira.
Beomgyu yang sudah belajar dari kesalahan pun kembali mengikuti Ara, kali ini dengan jauh lebih berhati-hati. Dia tidak berjalan santai dengan wajah tanpa dosa seperti sebelumnya, tetapi berjalan dengan tanpa suara layaknya maling, dan dengan cepat menyembunyikan diri di balik benda apa pun yang ada ketika Ara menunjukkan tanda-tanda untuk menoleh ke arahnya. Merepotkan, memang. Namun Beomgyu nggak mau Ara melihatnya saat ini, pada keadaan seperti ini. Ia berencana meminta saran Yeonjun untuk hal-hal keren apa yang seharusnya ia lakukan nanti. Untuk sekarang, melihat Ara dari jauh sudah lebih dari cukup.
Sialnya, Beomgyu tiba-tiba tak sengaja menginjak permen karet saat ia masih mengikuti Ara. Cowok itu mendengus. Kalau permen karet itu dibiarkan menempel di sepatunya, bakalan jorok dan jijik banget. Walaupun Beomgyu bukan tipikal orang yang gila kebersihan seperti Levi Ackerman, tetapi menurutnya hal ini nggak bisa dibenarkan. Selain itu, permen karetnya juga membuat sepatunya lengket.
Ara ternyata sudah melangkah jauh hingga punggungnya nyaris tak terlihat lagi. Beomgyu berdecak kesal. Keadaan trotoar yang lumayan penuh oleh para siswa lain yang juga dalam perjalanan pulang benar-benar memperburuk situasinya. Ara makin tak terlihat.
Setelah menarik napas frustrasi dan meminta maaf kepada sepatu kesayangannya yang mungkin harus berdamai dengan permen karet yang menempelinya, Beomgyu berlari kecil sehingga berhasil menemukan Ara yang masih berjalan santai.
Cowok itu lega. Karena jaraknya dan Ara kini lumayan dekat dan tak ada tiang listrik atau pun pohon untuk tempat bersembunyi, Beomgyu memutuskan untuk jongkok dan menuntaskan urusannya dengan permen karet di sepatunya terlebih dahulu. Sesekali, cowok itu tetap melirik ke depan dan melihat masih tetap bisa melihat Ara tak jauh darinya. Bagus, batinnya, merasa situasi mulai memihak kepadanya.
Padahal, sepertinya situasi sama sekali nggak pernah memihak kepada Beomgyu dari awal. Ara itu sudah curiga dengan cowok berpakaian serba hitam lengkap dengan masker serta kacamata hitam yang sejak tadi mengikutinya.
Ara nggak mau asal menuduh, sih. Cuma, cowok itu sudah beberapa kali tertangkap mata Ara berada di dekatnya. Kalau cowok itu adalah seorang stalker yang mau mendokumentasikan kegiatannya, atau bahkan psikopat yang hendak membunuhnya, bakal bahaya, 'kan? Ara bahkan nggak bisa membayangkan bagaimana jadinya.
Karena itu, ketika si cowok sedang melakukan sesuatu dengan sepatunya, Ara tersenyum miring. Ia berjalan mundur dengan perlahan sehingga si cowok sama sekali tak menyadarinya. Setelah berada tepat di depan cowok itu, Ara menunduk, mengamatinya dengan mata melebar. Rasanya, Ara mengenalnya.
Beomgyu yang baru sadar dengan kehadiran Ara di depannya, mendadak terkejut, tapi tak bisa berbuat banyak. Cowok itu bangkit dan balik menatap Ara yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
Jika Beomgyu tiba-tiba berlari dan bersembunyi di balik tiang listrik atau pun pohon terdekat, Ara pun pasti mengejarnya, bukan? Karena itu, Beomgyu masih tetap terdiam di posisinya, memikirkan solusi yang memungkinkan di keadaan kritisnya kali ini.
Beomgyu masih berpikir keras ketika seorang cowok tinggi menjulang dengan wajah blasteran muncul dan menepuk pundak Ara.
"Ra!" serunya, "mukbang nggak ajak-ajak gue lo mah."
Ara memutar badan, lalu tersenyum lebar ketika bertatapan dengan si cowok. "UNING!" teriaknya kencang.
"Diem nggak?!" si cowok menutup mulut Ara paksa, "malu-maluin mulu kerjaan lo."
Ara terkekeh, "Uning, gue capek banget hari ini."
Setelah itu, Ara tanpa ragu naik ke punggung cowok jangkung yang ia panggil Uning itu. Sang cowok terlihat terbebani karena kini harus menggendong Ara yang kelihatannya—well, lumayan berat. Tetapi ia sama sekali tak menjatuhkan Ara, walaupun mulutnya sedari tadi menyumpah serapah.
Beomgyu meringis. Jadi begini rasanya cemburu pada sesuatu yang bahkan nggak—atau lebih tepatnya belum—kita miliki?