Yena baru saja sampai di sekolah kala matanya melihat sekerumunan orang di depan papan majalah dinding. Gadis itu mengernyit, tak menyangka apa yang menjadi perhatian orang-orang adalah kertas coretan Ara kemarin.
Masalahnya, saat ini Ara pasti bakalan marah atau bahkan parahnya menangis kalau tahu kenyataan bahwa coretan gabutnya kemarin itu dipajang dan dibaca satu sekolah. Padahal, Yena berani bersumpah kemarin ia hanya membungkusnya dengan amplop putih polos yang ia temukan di laci meja guru dan kemudian ia masukkan ke dalam lokernya Kak Beomgyu.
Sialan. Yena benar-benar dibuat merasa bersalah, apalagi saat ia menemukan kelasnya penuh oleh orang-orang yang penasaran dengan Ara. Pasalnya, gadis itu memang tak populer. Tak ada orang lain yang tahu namanya selain teman-teman sekelasnya. Maka tak heran jika para murid yang heboh dengan surat tulisan Ara kemarin itu bertanya-tanya bagaimana kenampakan Ara di dunia nyata.
Ara yang baru saja terlihat batang hidungnya memasuki kelas dengan santai, mendorong beberapa orang yang berkumpul di depan pintu karena penasaran dengannya.
"Ini ada apa sih, kenapa rame banget?"
Belum sempat Yena menjawab dan menjelaskan semuanya pada Ara, Jay yang sudah jengah dengan keributan di kelas tiba-tiba angkat bicara.
"Kalian semua nyari Ara, 'kan? Tuh orangnya."
Ara melotot, masih tak mengerti dengan keadaan menyebalkan ini. Dia tahu Jay itu menyebalkan, tetapi apa yang ia katakan tadi? Mengapa semua orang mencarinya?
Tak ada waktu untuk kabur atau pergi. Semua orang menatap Ara dengan tatapan yang aneh. Seumur hidupnya, Ara nggak pernah mendapat perhatian seperti ini. Rasanya benar-benar nggak nyaman.
Biasanya, saat Ara membacakan puisi atau quotes buatannya, atau bahkan saat cewek itu berjoget heboh karena gabut alias nggak punya kerjaan, semua orang tetap nggak peduli. Paling beberapa orang akan menganggapnya konyol sementara beberapa yang lain memutar bola matanya jengah. Ara merindukan momen itu. Ia sering melakukan hal-hal seperti itu karena ia memang ingin, karena itulah dirinya, bukan demi mencari perhatian yang berlebih seperti ini.
Dan saat ini, ketika semua orang menjadikannya pusat perhatian tanpa alasan yang jelas, Ara tak bisa tak heran. Kedua alisnya bertautan, menyisiri orang-orang yang kini memandanginya serta saling membisiki sesuatu.
"Lo berangkat lewat gerbang belakang, Ra?"
Mendengar pertanyaan Yena barusan, Ara mengangguk. Memangnya di gerbang depan ada apa? Pikirnya.
"Maafin gue, Ra..." Kata Yena, cewek itu memasang air muka tegang sekaligus cemas, seolah masalah besar baru saja terjadi. Serius, deh. Keadaan saat ini jauh lebih membingungkan daripada soal ulangan Matematika Pak Wira kemarin.
Kalau keadaan adalah suatu ujian, mungkin Ara akan berakhir dengan remedial.
"Nggak, sebelum lo jelasin ini semua apa."
Yena menggigit bibir, jawaban Ara barusan menyeramkan sekali. Belum sempat Yena merangkai kata untuk menjelaskan keadaan pada Ara, semua orang yang memenuhi ambang pintu kelas Sepuluh Ipa Dua berhamburan pergi. Seperti semut-semut kecil yang terbang terbawa angin besar.
Mampus. Semuanya bakal lebih buruk sekarang, Yena membatin setelah melihat batang hidung Kak Beomgyu muncul dan memasuki kelasnya.
Dengan santai, cowok tinggi nan tampan itu meminta semua penghuni kelas—kecuali Ara—keluar sebentar. Tak semua orang menurut, tentu saja. Jay bahkan nyaris mengajak Kak Beomgyu berkelahi. Untungnya, sikap Kak Beomgyu yang selalu tenang dalam menghadapi setiap hal berhasil menggagalkannya.
Yena menggigit bibir, bergegas bangkit keluar kelas dan meninggalkan Ara serta Kak Beomgyu berduaan di dalam.
"Sori, Ra."
Ara ingin sekali mencabik-cabik tubuh Yena sekarang karena kesal. Namun, ia tak punya waktu. Bagaimana mungkin Ara punya waktu untuk melakukan hal lain ketika seorang Choi Beomgyu melangkah ke arahnya?
Beomgyu menarik senyum simpul, ia menarik kursi di depan Ara lalu dengan santai dijadikannya tempat duduknya.
"Kenapa mau nyerah?"
Ratusan pertanyaan beterbangan memenuhi kepala Ara. Ditatapnya Choi Beomgyu dengan kedua iris hitam yang tengah kebingungan itu. Siapa pun yang membuat suratnya bisa sampai ke tangan Beomgyu, bagaimana pun cara surat itu bisa dibaca Beomgyu, Ara sudah tak memikirkannya lagi.
Jantung Ara benar-benar tak bisa diajak kompromi. Melihat Beomgyu yang mengangkat sebelah alisnya bingung, Ara jadi nggak karuan. Ini tidak benar. Ia harus tetap melihat Beomgyu dari jauh saja, tak boleh sedekat ini.
Ini...berbahaya sekali untuk kesehatan jantungnya.
"Gimana kalo gue nggak mau lo nyerah?"
Situasi seperti inilah yang Ara takutkan sejak dulu. Ketika para gadis lain berlomba-lomba mencari cara untuk bisa dekat dengan Beomgyu, Ara lebih memilih diam dan mengamati cowok itu dari kejauhan. Ara takut jika ia berada di dekat Beomgyu, dia nggak bisa melakukan apa pun dan hanya melongo seperti saat ini. Karena Ara terus diam layaknya tak percaya dengan keadaan, Beomgyu tersenyum kecil, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Ara yang sedikit menggemaskan.
Semburat merah memenuhi pipi Ara. "Kak, aku nggak suka keramaian."
Jawaban Ara yang sebenarnya sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan yang tadi Beomgyu lontarkan itu membuat Beomgyu mengerjap beberapa kali. Sedari tadi, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Ara, seperti Mengapa Ara bilang takkan mengirimkan suratnya pada Beomgyu, Mengapa Beomgyu tak pernah melihat Ara di kerumunan penggemarnya saat ia tampil, Mengapa Ara tak pernah memberinya cokelat atau kotak makan siang seperti gadis-gadis yang lain.
Dan jawaban Ara, sudah sepenuhnya menjawab pertanyaan-pertanyaan Beomgyu. Cowok berambut cokelat itu merasa bersalah, karena secara sadar sudah membawa keramaian—yang tidak Ara sukai—kepadanya.
Beomgyu tertawa kecil, "Maaf." Ujarnya, ia lalu mengambil sticky note yang ada di meja Ara, dan ia tuliskan beberapa kata di sana.
081321451571
Have a great day, Ara. I'll wait for your message. Maaf udah bikin heboh ya, hehe.
—b.g.
Setelah menyodorkannya pada Ara dan memberikannya seulas senyum, cowok itu keluar dari dalam kelas, membuat seluruh warga kelas dan kelas lain yang kepo mengumpul dan menggerumuti Ara bagai semut pada gula.
Ara meraih sticky note warna biru itu dan memasukkannya pada sakunya, tak membiarkan seorang pun melirik ataupun membacanya.
Hari ini, Ara senang, tetapi juga bingung. Seperti Stephanie Poetry yang tiba-tiba jadi topik pembicaraan orang di mana-mana karena lagu I Love You 3000nya yang mendadak viral, Ara merasakan yang sama. Semua orang mendadak memusatkan perhatian kepada dirinya. Harus dia akui, Ara nggak suka itu. Namun, kalau dengan itu Ara bisa mendapatkan Kak Beomgyu, bagaimana ia bisa menolak?
Tak ada lagi kata menyerah.