2. Lamaran

1228 Words
"Tapi aku mencintai Marife." "Jadi wanita yang kamu cintai itu adalah Marife." "Benar." "Apakah dia juga mencintaimu?" "Aku tidak tahu apa dia mencintaiku atau tidak." "Jadi kamu membatalkan pernikahanmu demi cintamu yang tidak jelas itu. Sebaiknya lupakan gadis itu. Kalau pernikahan ini sampai batal, kita yang akan rugi. Ini demi perusahaan kita. Pokoknya kamu harus tetap menikah dengan Marcelina. Sekarang kamu minta maaf padanya dan tarik kembali ucapanmu padanya. Katakan kalau kamu akan menikah dengannya secepat mungkin." "Tapi ayah...." Edward memandang marah Zach, lalu pergi meninggalkannya dengan penuh kemarahaan. Zach masuk ke kamarnya dan membanting jasnya ke lantai, lalu duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang kepalanya. "Marife, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Zach berada di kamarnya yang gelap memandangi hujan yang turun. Hatinya sangat sedih tidak bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Air mata mulai menetes dari sudut matanya. *** Marife menangis dan air matanya terus mengalir. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain dia tidak ingin berada jauh dari Zach, pria yang ia cintai secara diam-diam, tapi di sisi lain tidak ingin sahabatnya terluka, kemudian hujan turun dengan deras. Marife duduk di taman sambil menangis dan tidak mempedulikan hujan yang turun. Pakaiannya sudah basah kuyup dan badannya sudah menggigil kedinginan. Luca, temannya yang kebetulan lewat di taman itu melihat Marife sedang duduk di sana sambil menangis. "Marife, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu menangis?" Marife menatap Luca dan tiba-tiba memeluk pria itu dan menangis di pelukannya. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Luca mengantarkan Marife pulang ke apartemennya setelah gadis itu tenang dan tidak menangis lagi. Ia membuatkan s**u hangat untuk Marife. Setelah meminumnya, Marife pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian, lalu ia menghampiri Luca yang sudah duduk di kursi meja makan. "Maaf. Sudah merepotkanmu." "Tidak apa-apa." "Apa ini karena Pak Zachary Adhipramana?’’ Marife langsung menatap Luca dengan ekspresi terkejut. "Dari mana kamu tahu?" "Itu sudah kuduga. Aku tahu kamu jatuh cinta kepadanya. Dari kamu cara memandanginya, matamu penuh cinta." "Eh." Marife tersipu malu dan wajahnya memanas. Suasana menjadi hening. Di luar hujan masih turun sangat deras diiringi dengan suara petir yang keras. "Marife, apa kamu mau menikah denganku?" Marife tersentak kaget dengan pertanyaan Luca dan ia juga tersedak. Air yang sedang di minumnya tumpah dari mulutnya dan ia terbatuk-batuk. Marife tidak pernah menyangka kalau Luca akan melamarnya sekarang. "Kamu tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa." "Aku tahu ini mungkin terlalu cepat dan aku juga tahu kamu mencintai pria lain, tapi pria itu sudah membuatmu sedih. Apa Pak Zachary mencintaimu?" "Tidak. Dia tidak mencintaiku. Sebentar lagi dia akan menikah. Mana mungkin dia mencintaiku. Aku tidak cantik, pendek, ceroboh, dan juga bodoh." Raut wajah Marife berubah jadi sedih. "Jadi apa jawabanmu?’’ "Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Maaf." "Iya. Aku mengerti. Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya. Sebaiknya aku pulang. Nanti keluargaku mencemaskanku. Tidak apa-apa aku tinggalkan kamu sendiri di sini?" "Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja." "Baiklah. Selamat malam!" "Selamat malam!" Marife melihat kepergian Luca dari jendelanya. Ia masih belum percaya Luca sudah melamarnya, tapi dia tidak mencintainya. Ia sudah menganggap Luca sebagai kakaknya sendiri. Seorang kakak yang tidak pernah ia miliki. *** Zach dibangunkan oleh bunyi telepon dan menerima panggilan telepon dalam keadaanmasih mengantuk. "Pagi Zach!" Zach langsung bangun. "Pak Sukwariabhipraya." "Cepatlah kamu pergi ke rumah sakit. Marcelina kemarin malam mencoba bunuh diri." "APA?!" "Kami menemukan Marcelina di kamar mandi dengan bersimbah darah. Sekarang ia di rawat di rumah sakit. Bisakah kamu datang sekarang?" Zach dengan wajah panik dan khawatir langsung berdiri tegak dari tempat tidurnya. "Baik aku akan segera ke sana." Zach cepat-cepat mandi, berganti pakaian, dan langsung pergi kerumah sakit. Marcelina terbaring lemah dan wajahnya pucat, karena kehilangan banyak darah. Zach menatap gadis itu dengan pandangan sedih dan pilu. Dia sama sekali tidak menyangka Marcelina akan melakukan ini, karena ia telah membatalkan pernikahannya. "Kenapa kamu melakukan ini?" "Karena aku mencintaimu dan aku tidak ingin hidup kalau kamu tidak ada di sisiku. Aku mohon jangan batalkan pernikahan kita." Marcelina memandang Zach dengan pandangan memelas. Zach yang tidak tega melihat Marcelina seperti itu, akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pernikahan mereka, meskipun harus kehilangan wanita yang dicintainya untuk selamanya. "Baiklah. Kita akan tetap menikah." "Benarkah?" "Iya. Jadi aku mohon jangan melakukan perbuatan bodoh ini lagi." "Aku berjanji,’’kata Marcelina senang. Perasaan Marcelina sekarang diliputi kebahagian, akhirnya dia mendapatkan Zach kembali ke dalam pelukannya. Sesampainya di rumah, Zach mengatakan pada ayahnya akan menikahi Marcelina. Edward langsung tersenyum mendengar keputusan anaknya. Zach pergi ke kamarnya dan duduk di kursi. "Ini mungkin keputusan yang terbaik untukku, Marcelina, dan juga untuk perusahaan." Zach teringat dengan Marife. Wajahnya berubah menjadi gelap dan muram. Hatinya terasa perih setiap kali mengingat gadis itu. *** Marife berusaha menghindari Zach setiap kali bertemu dan itu membuat pria itu menjadi bingung. Setiap kali pandangan mereka bertemu, Marife selalu membuang wajahnya. Akhirnya Zach mendekati Marife "Marife, mau makan siang denganku?" "Tidak. Terima kasih." Marife langsung meninggalkan Zach begitu saja. Pria itu kecewa dan sedih. Padahal dia sangat merindukan Marife dan menginginkan gadis itu berada di sisinya sebelum menikahi Marcelina. Selama beberapa hari, Marife berusaha terus menghindari Zach dan berusaha untuk tidak berada dekat-dekat dengannya, meskipun itu membuat hatinya sangat sedih. Bekerja di satu perusahaan dengan Zach akan membuatnya selalu bertemu dengan pria itu. Dua hari kemudian pementasan teater putri angsa akan dilaksanakan. Marife sebagai pemeran utama tentu saja merasa gugup, tapi dia harus mementaskannya dengan baik. Tidak ingin mengecewakan orang-orang yang selama ini sudah mendukungnya. Para penonton sudah berada di masing-masing tempat duduknya dan Marife melihat orang yang dicintainya duduk dibarisan depan dan jantungnya berdetak semakin cepat, tapi rasa sakit muncul di dirinya, ketika Marcelina duduk di sampingnya. Kesedihan menyergapnya, karena pria yang dicintai akan menikahi wanita lain. "Pak Zachary, aku akan memainkan putri angsa hanya untuk Anda." Marife kembali ke ruang gantinya dan di sana dia melihat sebuah koran yang mengumumkan pernikahan Zach dan Marcelina Minggu depan. Jantungnya berhenti berdetak, ketika membaca berita itu. Air matanya mulai menetes, lalu ia cepat-cepat menghapusnya. "Ini bukan saatnya untuk bersedih. Aku harus mensukseskan pertunjukan kali ini." Pementasan pun dimulai dan tirai dibuka. Para penonton dibuat terkagum-kagum oleh penampilan Marife sebagai putri angsa. Para penonton sudah tersihir dan terbawa oleh suasana magis ceritanya. Marife telah berhasil membawa penonton ke dalam penderitaan cinta Putri Angsa. Zach terus memperhatikan Marife dengan tatapan penuh cinta dan matanya tidak pernah lepas dari gadis itu. Marcelina yang melihat itu menjadi marah. Pertunjukan tidak terasa telah selesai. Semua penonton berdiri dan bertepuk tangan. Marife merasa sangat senang pertunjukannya berhasil dengan baik. Zach tersenyum bahagia. "Marife, kamu sudah melakukannya dengan baik dan selamat tinggal!’’kata Zach dalam hati. Wajah Zach berubah gelap, ketika Marife di peluk oleh Luca. Kecemburannya telah membakar dirinya. Kedua tangannya dikepal dengan kuat menahan kemarahan, lalu secepat mungkin meninggalkan kursinya dan Marcelina yang merasa kebingungan dengan kepergian Zach yang tiba-tiba, mengikutinya dari belakang. Bu Soraya menangis dibalik layar, karena Marife, muridnya sudah berhasil mementaskan Putri Angsa dengan baik. Marife kembali ke ruang ganti dan banyak orang yang mengucapkan selamat kepadanya. Anggota teater Bu Soraya memberikan ucapan selamat kepada Marife. Ketika gadis itu masuk ke ruang ganti, disana sudah ada bunga dan kartu ucapan. Marife membacanya dan ternyata itu dari Zach. Pertunjukanmu sangat bagus. Aku suka sekali. Kamu sudah melakukan yang terbaik. "Pak Zachary." Marife tidak dapat membendung air matanya lagi dan menangis sejadi-jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD