Kevin terdiam, menatap wajah Rizal dengan kepala menggeleng sebagai isyarat agar sang asisten tidak mengatakan siapa ia sebenarnya. Sementara Evelyn, menatap wajah Kevin dengan tajam tidak sabar menanti jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia layangkan.
"Kenapa lo diem aja? Sebenarnya lo siapa dan dari mana orang-orang ini tau rumah gue?" Evelyn bertanya untuk yang kedua kalinya.
Kevin menatap wajah Evelyn sekejap lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Rizal. "Kamu tunggu di mobil, Rizal. Saya janji gak akan kabur lagi," ucapnya.
Rizal menggelengkan kepala. "Mohon maaf, Pak Kevin. Saya gak percaya sama Anda, Anda bisa aja kabur seperti semalem," tolak Rizal dengan dingin. "Lebih baik Anda ikut kami sekarang juga, kalau tidak kami semua akan dipecat."
"Ya udah, tinggalin dua bodyguard kamu di sini, Rizal. Astaga," decak Kevin dengan kesal. "Saya gak mungkin kabur, kamu pikir saya akan kabur dengan pakaian seperti ini, hah?"
Rizal menatap tubuh Kevin dari ujung kaki hingga ujung rambut, bibirnya seketika mengembang hendak tersenyum. Namun, pria itu segera menahan diri tidak ingin terkesan mentertawakan majikannya sendiri.
"Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu? Kamu ngetawain saya?" bentak Kevin semakin merasa kesal. "Kalau kamu gak kasih saya waktu buat bicara sama Evelyn, saya gak akan pulang biar kamu dipecat sekalian."
Rizal akhirnya mengangguk karena tidak memiliki pilihan lain lalu mengalihkan pandangan matanya kepada kedua bodyguard yang berdiri di belakangnya. "Kalian tunggu di sini, jangan sampai Pak Kevin kabur," pintanya.
"Baik, Pak," jawab sang bodyguard secara bersamaan.
Rizal melangkah meninggalkan tempat itu, menuju mobil miliknya yang terparkir di tepi jalan. Sementara Kevin, meraih lalu menggenggam telapak tangan Evelyn dan membawanya menjauh dari pintu.
"Saya janji gak akan lari dari tanggung jawab, Ev. Saya pasti akan nikahi kamu," ucap Kevin seraya melepaskan genggaman tangannya. "Baju kamu saya pinjem dulu, ya. Nanti saya balikin kalau saya ke sini lagi."
"Lo gak bohong, 'kan? Lo pasti akan tanggung jawab dan nikahi gue, 'kan?" tanya Evelyn, matanya kembali memerah dan berair.
"Iya, saya janji, Evelyn. Saya pasti akan balik lagi ke sini."
Evelyn memandang lekat wajah Kevin. "Lo belum jawab pertanyaan gue, Vin? Sebenarnya lo siapa? Apa lo anak Presiden atau anak salah satu penjabat penting di negara ini?"
"Astaga, saya bukan anak Presiden atau anak penjabat penting. Saya cuma orang biasa," jawab Kevin tersenyum lebar.
"Terus, orang-orang di depan itu?"
"Mereka cuma orang suruhan Ayah saya, Ev."
Evelyn hanya terdiam dengan perasaan bingung. Jawaban Kevin tidak mengobati rasa penasarannya, ia yakin bahwa Kevin bukan orang sembarangan. Semua itu terlihat dari para bodyguard yang menjemputnya juga jas mahal yang masih ia jemur di halaman. Namun, apapun itu, putra siapapun dia, Kevin harus tetap bertanggung jawab karena telah merenggut kesuciannya.
"Saya pulang dulu, ya. Saya janji gak akan lari ke mana pun, saya pasti akan balik lagi ke sini, oke?" ucap Kevin dengan senyum kecil.
"Terus, jas mahal lo, gimana?" tanya Evelyn, seraya menoleh dan menatap ke arah luar.
"Saya 'kan udah bilang bakalan balik lagi ke sini, Ev. Saya juga pengen ngejajal motor balap kamu," bisiknya dengan senyum lebar.
Evelyn memalingkan wajahnya ke arah samping sambil menahan senyuman di bibir. Pada awalnya, ia memang menyesal telah menolong pria bertubuh tingga dan berparas tampan itu karena kebaikannya tersebut, ia harus kehilangan satu-satunya harta yang ia miliki sebagai seorang wanita, tapi setelah mengenalnya beberapa saat, ia merasa bahwa Kevin dan dirinya memiliki kesamaan yaitu, sama-sama menyukai balap motor.
"Oke, hati-hati di jalan," ucap Evelyn dengan wajah datar. "Awas aja kalau lo berani kabur!"
"Iya-iya, astaga!" decak Kevin dengan sinis. "Boleh saya minta nomor hp kamu?"
"Hpku rusak, lagi diservis di konter."
"Hmm, sayang sekali," decak Kevin. "Baiklah, saya pulang dulu, ya."
Evelyn menganggukkan kepala masih dengan ekspresi wajah yang sama.
***
Diperjalanan, Kevin duduk di jok belakang dengan wajah datar, tatapan matanya nampa kosong menatap ke arah samping seolah menembus kaca jendela mobil. Dari mana Rizal tahu tempat tinggal Evelyn dan bahwa dirinya sedang berada di sana? Kevin menoleh dan menatap bagian belakang kepala Rizal.
"Dari mana kamu tau rumah Evelyn, Rizal? Apa kamu memasang pelacak di badan saya?" tanyanya dengan penasaran.
Rizal tersenyum lebar menatap wajah sang majikan dari pantulan kaca spion yang berada di dalam mobil. "Pelacak? Astaga, Pak. Emangnya kita di film-film bisa masang chip di tubuh Anda?"
Kevin tersenyum sinis. "Terus, dari mana kamu tau saya ada di sana?"
"Jaman sudah canggih, Pak Kevin. Saya bisa lacak posisi Anda lewat GPS yang terpasang di hp Anda."
Kevin mengerutkan kening. "Hp?" gumamnya. "Astaga, Rizal. Hp saya ketinggalan di rumahnya Evelyn. Kita balik ke sana sekarang juga. Cepat!"
"Tapi, Pak--"
"Gak ada tapi-tapian segala, pokoknya kita balik ke sana sekarang. Dompet saya juga ketinggalan di sana, Rizal," sela Kevin bahkan sebelum Rizal menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan. "Gara-gara kamu tau nggak, gak bisa sabar!"
Rizal menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Hmm! Baiklah kita balik ke sana, tapi Anda harus janji gak akan macam-macam, oke?"
"Iya, iya ... astaga!" decak Kevin dengan kesal.
***
Mobil yang ditumpangi oleh Kevin akhirnya kembali ke kediaman Evelyn. Kendaraan beroda empat itu mulai melipir sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan. Kevin segera keluar dari dalam mobil lalu berlari memasuki halaman dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang terbuka lebar.
"Evelyn," seru Kevin dengan kening dikerutkan, melangkah memasuki rumah yang nampak berantakan. "Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa rumah ini jadi kayak gini?"
Rizal yang baru saja tiba di sana melangkah memasuki rumah dengan heran. "Lho, ini kenapa, Pak? Ko kayak habis kerampokan gini?" tanyanya.
"Saya juga gak tau, Rizal," jawab Kevin, lalu memasuki lebih dalam area rumah tersebut seraya menyerukan nama Evelyn. "Evelyn, kamu di mana?"
Pintu kamar dibuka dari dalam, Evelyn melangkah keluar dengan wajah babak belur dan ujung bibir mengeluarkan darah segar. Rambut wanita itu pun nampak sedikit berantakan.
Baik Kevin maupun Rizal sontak menoleh dan menatap wajah Evelyn dengan terkejut.
"Astaga, Ev. Kamu kenapa? Muka kamu babak belur," tanya Kevin, melangkah mendekat.
"Maafin gue, Vin. Barang-barang berharga lo dibawa sama mereka, termasuk motor gue," jawab Evelyn dengan suara lemah berjalan menuju kursi lalu duduk dengan napas terengah-engah.
Kevin mengerutkan kening, melakukan hal yang sama dengan Evelyn. "Maksud kamu dibawa sama siapa? Kamu dirampok?"
"Kita bisa laporkan masalah ini ke polisi, Pak Kevin. Ini sudah termasuk perampokan yang disertai dengan penganiayaan," timpal Rizal, menatap wajah Evelyn.
"Nggak usah, ini bukan perampokan," ucap Evelyn dengan wajah datar.
"Bukan perampokan gimana? Jelas-jelas rumah kamu dirampok, Ev," tegur Kevin lalu mengalihkan pandangan matanya ke halaman, di mana jas miliknya sudah tidak terlihat lagi di sana. "Apa jas mahal saya juga dibawa sama mereka?"
Evelyn mengangguk masih dengan ekspresi wajah yang sama.
"Astaga," decak Kevin seraya menghela napas dalam-dalam. "Kalau mereka bukan perampok, terus siapa, Ev? Kenapa mereka mengambil semua barang-barang berharga saya, termasuk motor kamu?"
"Yang ngambil barang-barang lo dan motor gue, Abang gue sendiri, kakak kandung gue," jawab Evelyn membuat Kevin bingung.
"What! Kamu pasti bercanda, 'kan?"
"Nggak, gue gak bercanda, Kevin. Kehidupan gue terlalu rumit buat diceritain, tapi gue janji bakalan ganti barang-barang lo yang diambil sama Abang gue."
Bersambung ....