Bab 17. Make Over

1049 Words
Evelyn tersenyum ringan. Rasa panas yang semula terasa membakar hatinya, mulai mereda setelah mendengar doa tulus yang diucapkan oleh wanita bernama Celine. Wanita itu bukan hanya cantik dan berkelas, tapi memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan perempuan yang berasal dari keluarga kaya. Namun, Evelyn seketika dilanda rasa khawatir, apa Kevin tidak akan berpaling darinya mengingat bahwa mereka dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing? Ya, meskipun keduanya mengatakan hanya akan berpura-pura menerima perjodohan tersebut. Batin Evelyn kembali dilanda rasa gelisah. "Makasih, Mbak Celine. Kamu tak hanya cantik, tapi juga baik. Semoga aja pacarku gak tergoda sama kecantikan kamu," ucapnya seraya melirik sinis wajah Kevin. Celine tertawa lepas. "Hah? Hahahaha! Kamu tenang aja, Ev. Kevin gak bakalan tergoda sama aku," ucapnya santai. "Dia itu cinta mati sama kamu. Lagian, aku juga udah punya pacar ko." "Nah, kamu denger, Sayang? Saya gak akan pernah tergoda sama Celine. Dia udah punya pacar," timpal Kevin seraya merangkul pundak Evelyn dengan mesra. "Tapi, sebenarnya kamu juga cantik lho," sahut Celine, memandang lekat wajah Evelyn. "Muka kamu cuma perlu dipoles sedikit, pake dress, pake high heels, aku yakin penampilan kamu akan berubah jadi cewek berkelas." Evelyn menggaruk lehernya sendiri dengan canggung. "Eu ... aku gak bisa make up, dress aja aku gak punya." Celine mengalihkan pandangan matanya kepada Kevin, menatap wajahnya dengan sinis. "Ish, pacar macam apa kamu, Vin? Kamu itu kaya lho, uang kamu banyak. Beliin pacar kamu dress dong, bawa dia ke salon. Kalau kamu cinta sama dia, tunjukkin effort kamu. Gimana sih!" Kevin tersenyum cengengesan. "Saya belum ada waktu, saya sibuk, Celine, tapi kalau kamu gak keberatan, kamu mau bawa Evelyn ke salon dan ajak dia beli baju baru?" Mata Evelyn membulat dan terkejut. "Hah? Ng-nggak usah, Vin. Aku gak butuh ke salon apalagi beli baju baru. Gak usah, gak penting." Celine tiba-tiba mengulurkan telapak tangannya. "Sini kartu kredit kamu, kalau kamu mau aku make over pacar kamu ini, kasih dia modal," ucapnya dengan senyum lebar. "Jaman sekarang itu apa-apa pake duit, gak bisa gratisan." "Oke," jawab Kevin, merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih dompet dan mengeluarkan kartu kredit milikinya. "Ini, gunakan uang saya buat make over Evelyn. Pake uang saya sebanyak apapun, terserah!" Celine tersenyum lebar, menerima apa yang diberikan oleh Kevin lalu menyerahkannya kepada Evelyn. "Pake uang pacar kamu sepuasnya, Ev. Jadikan dia ATM berjalan kamu," ucapnya dengan sedikit candaan. "Punya pacar kaya raya itu jangan dianggurin, manfaatin dong." "Nggak usah, Mbak Celine. Aku gak butuh di make over segala," tolak Evelyn dan canggung. Celine menggenggamkan kartu kredit kepunyaan Kevin di telapak tangan Evelyn. "Udah, pake aja. Kamu gak denger aku bilang apa tadi, kalau punya pacar kaya raya itu jangan cuma dianggurin. Manfaatin selagi bisa, oke?" Evelyn tersenyum kikuk tanpa mengatakan apapun lagi. "Saya harus ke kantor, Cel. Kamu bawa pacar saya ke mall, ya. Pake mobil saya aja gak apa-apa," ucap Kevin. "Terus, kamu sendiri, gimana?" tanya Celine. "Gampang, saya bisa naik taksi," jawab Kevin, lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Evelyn. "Sayang, saya ke kantor dulu, ya. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Evelyn mengangguk dengan senyum kecil. "O iya, Cel. Tolong beliin pacar saya hp keluaran terbaru juga, ya, bantu pilihan yang bagus dan tercanggih," pinta Kevin kepada Celine. "Tapi, kartu kredit kamu limitnya berapa? Nanti aku beliin hp, malah gak cukup lagi?" "Astaga," decak Kevin, kembali membuka dompet miliknya lalu mengeluarkan kartu berwarna hitam. "Pake yang ini, kamu tau 'kan ini apa?" tanyanya, seraya menyerahkan black card miliknya kepada Celine. "Wuih, keren. Ini baru namanya effort seorang pacar," seru Celine menerima kartu tersebut lalu memberikannya kepada Evelyn. "Kartu yang tadi balikin lagi, Ev. Kita pake kartu ini aja. Pokoknya, hari ini kita bakalan bersenang-senang pake duit pacar kamu, oke." *** Evelyn dan Celine benar-benar jalan bersama mall. Meskipun merasa canggung karena mereka baru saling mengenal, Evelyn mencoba mengakrabkan diri, bersikap biasa layaknya kepada teman. Ya, meskipun mereka berasal dari keluarga dengan ekonomi yang berbeda, tapi sikap ramah dan friendly Celine seolah mencairkan suasana. Seperti yang diperintahkan oleh Kevin Sanjaya, Celine memilihkan dress-dress mahal, pakaian yang tidak satupun dimiliki oleh Evelyn, dan membelinya menggunakan black card milik putra dari orang terkaya di negri ini. Celine bahkan memilihkan ponsel canggih dan membelinya, masih menggunakan kartu yang tidak dimiliki oleh sembarang orang tersebut. Terakhir, Evelyn ia bawa ke salon kecantikan. Melakukan perawatan bersama bahkan sambil bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Wajah Evelyn di make over, rambut panjangnya yang semula tanpa model bahkan terlihat kusam, dipotong dan diberikan vitamin. Tidak lupa, wajahnya pun diberi sentuhan make up natural membuat penampilan Evelyn benar-benar berbeda dari sebelumnya. Evelyn menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin, dress selutut berwarna hitam, lengkap dengan high heels dengan warna yang sama, potongan rambut baru juga wajahnya dengan polesan make up membuatnya merasa sedang melihat orang lain. Ternyata benar, uang bisa merubah segalanya. Menyulap sesuatu yang biasa saja menjadi luar biasa, merubah penampilan seseorang dalam sekejap mata. "Apa ini beneran aku?" gumam Evelyn, tersenyum kecil menatap wajah cantiknya dari pantulan cermin. Celine yang berdiri tepat di sampingnya nampak tersenyum puas karena berhasil merubah penampilan Evelyn yang semula seperti upik abu, berubah menjadi Cinderella. "Kamu cantik, Evelyn. Cantik banget," ucapnya, memandangi wajah Evelyn dari pantulan cermin yang sama. "Kevin itu putra dari orang terkaya di negri ini, Ev. Kamu harus memantaskan diri sebagai calon menantu mereka. Merubah penampilan kamu menjadi lebih berkelas seperti ini, Evelyn." Evelyn terdiam, mengagumi penampilan barunya. "Jangan sampai Om Hendra, Ayahnya Kevin menyepelekan kamu hanya karena penampilan kamu, Ev. Kalau kamu mendapatkan restu dari dia, itu artinya aku gak perlu meneruskan perjodohan kami." Evelyn menoleh dan menatap wajah Celine dengan senyum tulus. "Makasih, Cel. Kamu baik banget. Jarang-jarang ada orang kaya sebaik dan sehumble kamu." "Sama-sama, Evelyn," jawab Celine dengan senyum ramah. "Aku ngelakuin ini bukan demi Kevin. Sebenarnya aku juga punya pacar, cowok biasa aja dan aku gak yakin orang tuaku akan merestui hubungan kami." Evelyn terdiam, memandang lekat wajah Celine. Sepertinya, percintaan beda kasta sedang populer di negeri ini. Akankah cinta mengalahkan ego dan meruntuhkan tembok tinggi yang menjadi penghalang mereka? Suara dering ponsel seketika membuyarkan lamunan keduanya. Celine merogoh tas kecil yang melingkar di bahunya lalu meraih ponsel canggih dari dalam sana. Setelah menatap layarnya sejenak, wanita itu mengangkat sambungan telpon dengan senyum bahagia. "Halo, Edwin," sapanya meletakan ponsel di telinga. Evelyn mengerutkan kening dengan terkejut. "Edwin?" gumamnya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD