Hari pertama masuk bekerja masih terasa canggung. Dan hari itu kondisi tubuh Hermanto masih nampak letih. Karena hampir seluruh tenaganya terkuras habis kemarin. Siska ibarat kuda liar yang sukar dikendalikan pada waktu itu. Memeras tenaganya yang tersimpan sampai benar-benar loyo. Kendati demikian baginya menyimpan kesan yang sukar diuraikan.
Ruangan kerja Hermanto agaknya terlalu diistimewakan. Tidak sebagaimana arsitek yang lainnya berkumpul menjadi satu ruangan. Semuanya itu yang mengatur fasilitasnya adalah Subekti. Maka jadi sedikit timbul pertanyaan dalam hatinya. Ada sesuatukah di belakang layar? Sehingga dirinya dituntut untuk bekerja lebih baik dan berprestasi.
Hari kedua Hermanto mulai diserahi pekerjaan merencanakan gambar bangunan. Itu pun pekerjaan diterima melalui Subekti. Padahal ia berkeinginan dapat bertemu muka dengan Direktrisnya. Paling tidak dia seorang pimpinan yang berwibawa dan genius. Terbukti dapat memperlihatkan keberhasilannya dalam mengelola perusahaan. Karyawan di kantor ini berjumlah dua puluh dua orang. Dan semuanya nampak hidup mentereng. Yang dipandang penting mendapat inventaris mobil sedan dan kesejahteraannya sangat terjamin.
Namun besar keinginannya untuk bisa melihat pimpinan perusahaan itu masih belum terlaksana. Sampai mengenai datang dan pulangnya tak diketahui. Sungguh aneh. Apalagi kalau sudah berada di ruang kerjanya tak pernah keluar. Ah, kenapa aku jadi terpusat pikiranku ke sana? keluh Hermanto. Maka ia segera memulai pekerjaannya. Dengan hati-hati dan tekun ia menggarap tugasnya. Siapa tahu permulaan ini sebagai test hasil kerjaku? pikir Hermanto dengan semangat ingin menunjukkan prestasi.
Jam makan siang tiba. Pelayan kantor membawa masuk hidangan ke kamar kerja Hermanto. la segera menyantapnya karena perutnya sudah keroncongan. Baru beberapa suap nasi, pintu Kamarnya terbuka. Subekti melangkah masuk.
"Mari makan, Pak," kata Hermanto.
"Silakan."
Subekti mendekati meja kerja Hermanto dan meneliti sketsa yang baru selesai sebagian. Lelaki setengah baya itu manggut-manggut melihat sketsa perencanaan dan mode gambar bangunan yang dibuat Hermanto. Lalu dia duduk di depan Hermanto.
"Nampaknya kau begitu mendapat perhatian dari pimpinan kita," kata Subekti sedikit merasa iri.
"Saya merasakan juga begitu, Pak." Hermanto tersenyum.
"Sudah lama kenal dengannya?"
"Melihat pun belum pernah."
Subekti terbengong.
"Kenapa, Pak?"
"Ah, tidak apa-apa... ." kata Subekti gugup.
"Silahkan meneruskan bersantapnya. Subekti meninggalkan ruang kerja Hermanto. Sementara Hermanto jadi kian ingin membongkar tanda tanya untuk menemukan jawabannya. Mengapa pimpinannya terlalu mengistimewakan, sedangkan ia statusnya masih menjalani masa percobaan.
Selesai makan siang, Hermanto meneruskan pekerjaannya. la berniat jam kantor usai, ingin melihat walau sekilas siapa sebenarnya Direktris kantor itu.
Karyawan satu demi satu sudah meninggalkan kantor. Giliran Hermanto merapikan mejanya dan siap untuk pulang. Niatnya akan ia laksanakan sore ini juga. Begitu ia keluar dari ruangan kerjanya, masih dilihat Subekti tekun bekerja. Barangkali pekerjaan yang diselesaikannya tinggal sedikit lagi.
"Saya duluan, Pak," pamit Hermanto.
"Silahkan."
Sebelum Hermanto meninggalkan ruang lantai tiga, ia memandang kamar Direktris. Apakah dia sudah pulang? Perasaannya masih ragu-ragu. Sementara karyawan di ruang tamu itu masih belum meninggalkan kursinya. Maka Hermanto beranggapan bahwa Direktris itu masih ada di kamar kerjanya.
Hermanto berjalan menuruni anak tangga. Di depan pintu kantor ia berdiri menunggu Direktrisnya. Tak lama kemudian para karyawan yang lainnya saling keluar dan menganggukkan kepala sambil tersenyum kepadanya. Ia membalas dengan ramah. Menyusul Subekti keluar dan menegurnya.
"Menunggu jemputan, Her?"
"Ng .. ..anu.. .." Hermanto menjawab gugup.
"Apakah semuanya sudah pulang, Pak?"
"Tak ada satu pun yang masih ada di kantor,"
"Pimpinan kita juga?" Subekti tersenyum sambil mengangguk.
Hermanto mencoba untuk tersenyum walau sebenarnya ia merasa kecewa. Yang ditunggu ternyata sudah pulang.
"Mau ikut sama-sama pulang?" tanya Subekti.
"Boleh, Pak."
"Ayo!"
Hermanto membarengi langkah Subekti menuju ke tempat parkir. Keduanya meninggalkan tempat itu dengan menggunakan mobil inventaris kantor.
Sejak Hermanto diterima bekerja mengambil jam kuliah sore. Selama itu pula ia nampak terlalu sibuk. Membagi waktu untuk bekerja dan kuliah, sehingga setiap hari pulang malam. Jarang berjumpa dengan Mira. Meluangkan waktu untuk mengobrol dengan Jarot.. Bila ia sudah sampai di rumah langsung tidur karena terlalu capek.
Pada hari Minggu waktu kesibukannya terhindar. la mempergunakannya untuk santai dan membaca buku. Jarot muncul di kamarnya.
"Bagaimana perkembanganmu di kantor, Her?"
"Cukup aneh," gumam Hermanto.
Jarot menarik kursi dan duduk.
"Aneh yang bagaimana?"
"Aku terlalu diistimewakan oleh pimpinanku."
"Enak dong. Nasibmu jadi beruntung mendapat pimpinan begitu."
"Tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Hal ini yang membuatku tak habis mengerti. Padahal aku kan termasuk karyawan baru. Sampai-sampai aku merasa tak enak hati terhadap karyawan lainnya." Jarot jadi termenung.
"Dengan begitu, kau harus bekerja dengan baik. Aku percaya, prestasimu akan semakin menanjak di situ. Kesempatan yang begini jangan kau sia-siakan."
"Itu sudah tentu. Oh ya, bagaimana kabarnya Mira?"
"Dia sering menanyakan kau. Lalu aku beri tahu kau sudah bekerja. Dia ikut gembira."
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti.
"Pasti yang datang itu mencarimu," gumam Jarot.
"Dari mana kau tahu?"
"Kemarin Mira bilang, hari ini ingin bertemu denganmu."
"Oh ya."
Suara langkah lunak menuju ke kamar Hermanto. Dan gadis yang tengah mereka bicarakan sudah muncul di ambang pintu.
"Sombong sekali mentang-mentang sudah bekerja ya?" tegur Mira sambil tersenyum ceria.
"Hay Mira, jangan begitu dong. Aku jadi malu," sahut Hermanto.
Mira masuk dan mengulurkan telapak tangannya kepada Hermanto.
"Aku turut berduka atas kematian ayahmu, Mas Her."
Hermanto menyalami tangan gadis itu.
"Takdir menghendaki demikian, Mira."
"Tapi aku gembira karena kau telah diterima bekerja."
"Kalau dia berubah sombong kita jitakin kepalanya!" ancam Jarot sembari tertawa.
"Bagaimana kalau di hari Minggu ini kita bikin acara?" tanya Mira kepada Hermanto dan Jarot.
"Acara apa?"
"Kita berenang. Setuju?"
"Aku setuju. Dan kau, Rot?"
"Sama."
"Kita berenang di mana?"
"Patra Jasa."
"Okey. Ayo kita bersiap-siap untuk berangkat. Jangan lupa bawa celana dalam serep, Rot."
Mira tersipu malu.
"Beres."
Cuaca di hari Minggu itu sangat cerah. Langit tidak nampak adanya mendung yang berarak, sehingga pancaran sinar matahari terasa menyengat kulit. Di antaranya sengatan itu menyentuh kulit tubuh Mira yang hanya mengenakan pakaian renang. Bentuk tubuhnya yang indah banyak mengundang pesona bagi setiap lelaki yang memandangnya, termasuk Hermanto sendiri.
Mira dan Hermanto berjalan ke pinggir kolam renang. Jarot berjalan di sebelah Hermanto sambil gerak badan.
"Siapa yang duluan terjun ke kolam?" ujar Hermanto.
"Aku!" sahut Jarot. Dan langsung terjun ke kolam renang.
"Sekarang siapa, kau atau aku?"
"Mas Her duluan. Aku nggak bisa berenang."
"Lho kok malah mengajak berenang?"
"Kepingin diajarin kamu." Hermanto tersenyum.
"Kalau begitu kau duluan."
"Aku takut," rengek Mira manja.
"Sebaiknya kita mulai dari sebelah sana," kata Hermanto sambil menunjuk ke kolam renang yang kedalamannya hanya satu meter.
Mira mengangguk. Mereka berjalan menuju kolam renang yang ditunjuk Hermanto. Pada waktu Mira menceburkan diri ke dalam air, tangannya masih berpegangan lengan Hermanto. Seperti anak kecil yang takut air. Baru kemudian Hermanto menyusul terjun ke kolam renang. la bagaikan ikan yang lincah berenang dalam air. Begitu ia muncul ke permukaan air mendekati gadis itu.
"Ayo berenang!" perintah Hermanto.
"Ajarin dong, mas Her."
"Pegang tanganku."
Mira segera memegang tangan Hermanto. Lalu ia mulai mengikuti petunjuk lelaki itu. Sambil belajar berenang ia bersenda gurau dengan Hermanto. Bila ia salah mengikuti petunjuk lelaki itu, maka ia hanya tertawa manja sambil mencipratkan air ke muka Hermanto. Lalu kedua remaja itu saling memercikkan air sembari tertawa riang. Apabila Mira merasa gemas, lelaki itu dikejarnya sampai ketangkap. Lantas mencubitnya dan bergumul di dalam air. Detik itu Mira amat bahagia dapat, bercanda, mencubit bahkan bergumul di dalam air bersama lelaki yang didambakannya.
Namun kebahagiaan dan kegembiraannya terhalang orang munculnya seseorang. la melihat Siska berada di tempat itu pula. Rasa cemburu bergejolak di dalam dadanya.
"Kau sedang memperhatikan siapa, Mira?" tanya Hermanto.
"Coba kau perhatikan siapa dia?!" sahut Mira sambil menunjuk ke arah Siska yang sedang berjalan bersanma laki-laki setengah baya bertubuh gendut.
Hermanto melayangkan pandang ke arah yang ditunjuk Mira.
"Siska, Siapakah laki-laki yang bersamanya?" Betapa kagetnya Hermanto
"o*******g. Dia sering berkencan dengan cukong dan o*******g. Sebenarnya aku tak ingin membuka tabir hidupnya. Tapi kini kenyataan sudah kau lihat sendiri."
Hermanto menghela napas panjang. la jadi termenung memikirkan Siska. Kini pertanyaan yang dulu belum terjawabkan, akhirnya diketahui. Siska bukan gadis baik-baik sebagaimana dugaannya dulu. Namun ia pernah mengecap sesuatu kenikmatan yang tiada dapat diuraikan.
"Woy.. . Kok jadi melamun?!" bentak Mira.
Hermanto tersentak dan ia berusaha menghilangkan lamunannya dengan melepas seulas senyum.
"Melamunkan si Dia ya?" kata Mira dingin dan Cemburu.
"Ah . nggak. Ayo kita latihan berenang lagi."
"Malas. Kita pulang saja."
"Kok buru-buru amat?"
"Kalau mas Her nggak mau pulang, biar aku pulang sendiri," ketus Mira ngambek.
Hermanto merangkul pundak Mira penuh kasih sayang. la faham akan sifat Mira yang gampang sekali tersinggung dan ngambek. Tapi sebenarnya sifat ngambek Mira yang manja itu sangat disukai Hermanto.
"Okey, kita pulang saja. Tapi kau tidak boleh ngambek lagi," bujuk Hermanto lembut.
Mira memandang Hermanto sambil tersipu. Dan Hermanto mencubit dagu gadis itu gemas. Sedangkan yang di cubit merasa sangat senang sekali. Mereka segera meninggalkan kolam renang. Hermanto memberi isyarat kepada Jarot untuk cepat angkat kaki dari kolam itu.
TBC...........!
(Gimana lanjutannya masih kurang nih sobat...? besok minggu saya update 2 episode lya jangan sampai ketinggalan dan ikuti terus perjuangan Hermanto ya sobat....!!!)