Siang itu teramat terik. Tapi kesibukan kota Jakarta tak mengenal lelah. Insan yang berjubel semakin memadati kota metropolitan ini tidak lagi memperdulikan sengatan matahari. Mereka bagaikan dipacu untuk memperbaiki kehidupannya. Macam robot-robot yang dikerahkan untuk menghidupi dirinya sendiri serta keluarganya. Mencari keberuntungan nasib dan kariernya.
Hermanto baru saja keluar dari sebuah gedung bertingkat tiga. Gedung megah itu tempat domisili kantor PT. Dwipa Jaya. la termasuk salah satu insan yang mencari keberuntungan nasib dan masa depannya. Mungkin dengan diterima lamarannya menjadi pegawai di kantor itu, semua beban hidupnya akan bisa teratasi.
Di sepanjang trotoar pinggir jalan, langkah Hermanto tetap kukuh sebagaimana hatinya yang tak pernah putus asa menghadapi hidup ini. Selagi ia kuat dan mampu akan terus berusaha mendapatkan pekerjaan guna menyambung hidupnya di perantauan. Di kota ini tak ada family satu pun. Cuma teman sehati yang sering membantunya. Baik berupa saran ataupun materi. Ingatan itu menyebabkan bayangan Mira muncul di benaknya. Sebentuk harapan di dalam dadanya, moga-moga Jarot dapat membantunya. Dan Mira mau mengerti dirinya. Tidak akan membencinya.
Hermanto terus melangkah sambil memperhatikan sepatunya yang sudah suram warnanya. Perlu disemir supaya kelihatan baru dan mengkilat. la ingat sepatu itu dibeli di pasar rumput. Di tukang loak. Dan ia tersenyum kecil mengingat kesetiaan Jarot yang mengantarkannya membeli sepatu itu. Meski demikian ia puas memakainya. Setelah sejenak ia memandang sepatunya, pandangan Hermanto tertuju ke depan. Barangkali di depannya ada orang yang ditubruknya.
Ternyata pandangannya tertumbuk pada seorang anak kecil berusia enam tahun. Anak itu hendak berlari menyeberang di sebuah tikungan jalan. Mendadak pada saat anak itu berlari menyeberang, sebuah mobil Mercy Tiger membelok dengan kecepatan kencang. Hermanto secara refleks berteriak.
"Awaaas ada mobil!"
Suara denyit rem mobil terdengar membisingkan telinga. Dan pengemudi mobil itu berusaha menghindari insiden itu. Dibantingnya stir mobil ke kiri. Mobil meluncur dan menubruk sebuah pohon besar di pinggir jalan.
Hermanto segera bertindak cepat menyelamatkan anak kecil yang jatuh di tengah jalan. Lalu ditidurkan di trotoar. Terus ia menghampiri mobil yang menubruk pohon itu. Bersamaan dengan itu, seluruh penghuni di sekitar tempat itu saling berdatangan. Hermanto membuka pintu mobil dan menolong pengemudinya yang tergeletak di jok depan. la termangu sejenak melihat pengemudinya seorang wanita. Namun ia cepat membuang rasa canggung karena harus menolongnya. Maka ia mengangkat tubuh wanita itu untuk dikeluarkan dari dalam mobil. Ketika ia melihat wajah wanita itu menjadi tercengang. Dia adalah wanita yang sering dilihatnya pada waktu pagi mendorong kursi roda. Dan wanita itu masih setengah sadar. Sempat menatap wajah Hermanto. Pada bagian lengan dan keningnya mengalami luka dan mengeluarkan darah. Di dalam bopongan Hermanto wanita itu jatuh pingsan.
"Mohon pertolongan untuk membawa wanita ini ke rumah sakit yang terdekat," kata Hermanto kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Seorang laki-laki gemuk menghampirinya.
"Mari saya antarkan dengan mobil saya."
"Terima kasih sebelumnya."
Hermanto segera membawa tubuh wanita itu ke dalam mobil. Sementara orang-orang yang ada di situ merawat anak kecil yang nyaris ketubruk mobil.
Mobil meluncur membawa wanita itu bersama Hermanto ke rumah sakit yang terdekat.
Di ruang tunggu rumah sakit udaranya amat sejuk dan nyaman. Angin yang berhembus semilir membawa harum bunga melati. Suasananya begitu tenang dan sepi. Nampak Hermanto duduk seorang diri sambil melamun. la tidak menduga akan bertemu dengan wanita itu dalam keadaan menyedihkan. Wanita yang sering diimpikan sepanjang malam. Wanita yang didambakan sejak pertama kali melihatnya. Namun kini Hermanto merasa minder setelah mengetahui siapa sebenarnya wanita itu. Dari identitasnya diketahui olehnya, bahwa wanita itu bernama Dewi Ratnasari Himawan. Suara suster terdengar semayup ke telinga Hermanto.
"Saudara Hermanto!" Hermanto tersentak dari lamunannya.
"Ya...ya.. .saya," sahutnya gugup. Buru buru ia menghampiri Suster itu.
"Istri saudara sudah siuman. Silahkan kalau mau menengok." Hermanto jadi gelagapan. Bingung. Dan tak tahu musti menjawab apa.
"Tenang. . . istri anda tidak apa-apa kok, hibur Suster itu sambil tersenyum.
"Ya... ya.. . terima kasih."
"Silahkan."
Jantung Hermanto bagai mau copot ketika ia melangkah masuk ke dalam kamar Dewi. la bingung dan canggung musti berbuat apa. Dan apa yang harus dikatakannya?
"Anda yang telah menolong saya, bukan?" tegur Dewi dengan nada lemah.
"Be... betul." Dewi memandang Hermanto dalam-dalam. Tapi mendadak kepalanya diserang pusing. la buru-buru memegangi kepalanya.
"Oooh... kepalaku!" Rintih Dewi kesakitan.
Hermanto cepat mendekati Dewi. Namun ia jadi canggung dan bingung sendiri.
"Suster! Susteeer!!" teriak Hermanto memanggil suster.
Seorang suster lari terbirit-b***t masuk ke dalam kamar itu.
"Tolong di dia, Suster!" kata Hermanto gugup.
"Tenang tak apa-apa. Rasa pusingnya akan segera hilang."
Suster itu memberikan pil penenang untuk diminum oleh Dewi. Setelah Dewi menelan pil itu dan meneguk air putih, maka suster itu segera pergi.
"Istri anda setelah meminum pil itu akan tertidur beberapa saat. Bila terjadi apa-apa tolong panggil kami," kata suster itu.
"Ba baik, suster." Suster itu pergi.
Hermanto memandang Dewi yang berbaring di atas tempat tidur. la jadi agak canggung dan salah tingkah karena ucapan suster yang mengatakan Dewi istrinya. Dan manakala mata mereka bertatapan, Dewi melempar senyum manisnya. Tapi senyum Dewi juga agak tersipu.
Sedangkan Hermanto berusaha mengalihkan pesonanya dengan memandang bunga mawar yang ada di atas meja. Di dalam vas bunga. Tapi sebenarnya senyum dan kecantikan Dewi masih membayang di pelupuk matanya. Dan Hermanto menghela napas dalam-dalam. Jantungnya berdetak keras. Sekujur badannya terserang demam mendadak. Mata Dewi semakin kuyu. Rupanya pil penenang yang ditelannya sudah mulai bereaksi.
"Anda ti . .. tidak keberatan menemani saya bukan?" pinta Dewi dengan suara lemah seperti kehabisan tenaga.
"Tap. . . tapi saya kan harus memberi tahu keluarga anda."
"Ti ... tidak usaah. .." suara Dewi semakin lirih dan akhirnya wanita itu tertidur.
Hermanto mengamati wajah Dewi.
"Dia sudah tertidur," gumamnya.
Lalu Hermanto duduk di kursi tidak jauh dari tempat Dewi berbaring. Kebetulan di kamar itu banyak disediakan koran dan majalah untuk selingan. Maka Hermanto menghabiskan waktunya dengan membaca sambil menunggui Dewi sampai terbangun.
Tak jarang Hermanto yang sedang membaca majalah sering memandang wajah Dewi yang cantik dan anggun itu. la merasakan di dalam hatinya ada getaran aneh. Getaran yang tidak pernah ia rasakan manakala berada di dekat Mira ataupun Siska. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? la sendiri masih ragu-ragu. Sementara itu, ia terus mengamati paras Dewi. Alis mata yang tebal diatur rapi, mata yang indah berbulu lentik, hidung mancung, bibir yang merah delima tanpa lipstik dan nampak mengandung magnit, enak untuk dilumat lembut dan segala yang dimiliki Dewi sukar dicarikan bandingnya. Hermanto jadi menghela napas panjang. Dapatkah kau kumiliki?
Ingat ucapan suster tadi, ia jadi tersenyum. Senyum yang bermakna bahagia dalam hati. Tak seorang pun yang tahu. Mungkin Dewi pun tak tahu.
'Andaikan dia punya rasa seperti yang kurasakan, alangkah bahagianya hatiku. Mungkin yang diimpikan selama ini akan menjadi kenyataan.' Dalam hatinya berbisik.
Tanpa terasa oleh Hermanto waktu yang terus bergeser menjelang keredupan senja. Bahkan ia tak mau perduli andaikan ia harus menunggu Dewi sampai kapan pun di sini. Sebab wanita yang didambakan tetap hadir di depan matanya.
Keluhan lirih Dewi terdengar merdu di telinga Hermanto. Wanita muda yang cantik itu terbangun dari tidurnya. Dia baru membuka matanya perlahan. Mereka bertatapan. Dan tersenyum. Hermanto memperhatikan wajah wanita itu dengan sorot mata gembira.
"Sudah hilang pusingnya?" tanya Hermanto lunak.
"Ya." Hermanto menghela napas lega.
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Jam enam sore."
"Oooh...cukup lama aku tertidur." Dewi bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Kau tidak capek, Bung?" Hermanto mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng. Lalu ia berdiri dan menyerahkan tas milik Dewi.
"Saya kembalikan tas milikmu. Coba diperiksa lagi barangkali ada yang hilang.
"Tak perlu," sahut Dewi sambil tersenyum manis.
Senyum Dewi membuat perasaan Hermanto jadi goncang Berdebar-debar.
"Boleh aku tahu nama dan alamat rumahmu, Bung?"
"Hermanto dan alamat rumahku di jalan Jambu No. 27."
"Tidak jauh dengan tempat tinggalku." Hermantopun mengangguk.
"Kurasa kesehatan hampir pulih. Kita bisa pulang sekarang bersama-sama," ajak Dewi. Hermanto mengangguk lagi.
Dewi beranjak turun dari tempat tidur. Lalu mereka berdua meninggalkan kamar itu.
TBC.....!
(Mohon maaf ya sobat mimin update telat soalnya masih jalan keluar kota dan nggak sempet buat update)