CP Episode 07

1657 Words
Hermanto baru saja masuk rumah. la masih kelihatan letih pulang dari kuliah. Pembantu rumah itu menghampirinya setelah ia masuk ke dalam kamar. "Nak Her, ada surat." Pembantu itu segera menyodorkan surat itu kepada Hermanto. "Terima kasih, Bi." Hermanto menerima surat itu dan dibaca dari pengirimnya. "Dari ibu di rumah," gumam Hermanto. la cepat-cepat merobek amplopnya. Sembari tidur Hermanto membaca surat itu. Buat anakku: Hermanto. Her, apakah keadaanmu di Jakarta baik-baik? Setiap malam aku mendoakanmu begitulah adanya. Dan kuliahmu dapat terus berjalan lancar sebagai- mana yang diharapkan ibu dan ayahmu. Sebenarnya ibu tidak mau mengganggumu dengan surat ini. Juga tidak ingin menambah beban pikiranmu. Tapi semuanya ini harus ibu lakukan, mengingat keadaan yang memaksa. Perlu ibu sampaikan, bahwa ayahmu sedang menderita sakit keras di rumah sakit. Berhubung ibu banyak mengeluarkan uang untuk membiayai ayahmu, terpaksa kiriman uangmu pada bulan ini terlambat. Dan ibu serta ayahmu mengharapkan kau bisa pu- lang ke Cirebon secepatnya. Dari ibumu: Hanifah. Hermanto melipat surat itu dengan lemas. Perasaannya jadi sedih memikirkan keadaan orang tuanya. Juga keadaan dirinya sendiri. Di samping ia malu kepada orang tua Mira karena terlambat membayar uang kost. Pulang ke Cirebon? Hermanto menempelak jidatnya. la bingung karena tidak lagi punya uang. Merokok pun tadi nebeng teman-temannya. Begitupun waktu berangkat kuliah ongkosnya dibayari Jarot. Pulangnya numpang teman yang kebetulan searah dengannya. Itu pun ia musti barjalan kaki cukup jauh sampai ke rumah. Maka Hermanto jadi termenung. Satu-satunya jalan ia akan pinjam uang kepada Jarot untuk ongkos pulang. Hermanto duduk bersandar di tembok. la memijit-mijit pelipisnya. Meremas-remas rambutnya karena kepalanya mendadak diserang pusing. Jika seandainya Jarot sendiri tidak punya bagai-mana? Mata Hermanto tertumbuk pandang ke arah beberapa pakaiannya yang bergantung di kapstok. Itu harus dijual ke tukang loak. Yah, kalau untuk ongkos ke Cirebon pasti cukup. Hanya itu yang merupakan jalan terbaik untuk bisa pulang. Belum lama Hermanto berpikir begitu, terdengar langkah bersepatu berhenti di kamar sebelahnya. Pasti Jarot yang datang. "Jarooot!" panggil Hermanto. "Ya, Boss! Ane mau taruh map dulu di kamar. Yang berkepentingan harap sabar!" sahut Jarot berkelakar. Tak lama kemudian Jarot muncul dan berdiri di ambang pintu kamar Hermanto. "Mau bicara soal Mira lagi?" "Tidak." "Lalu?" "Duduklah. Aku mau bicara serius." Jarot menghampirinya sambil cengar-cengir. Lalu duduk di dekatnya. "Aku mau pulang ke Cirebon." "Kok mendadak? Ada apa?" "Ayahku sedang dirawat di rumah sakit. Aku baru diberitahu melalui surat dan aku diminta segera pulang. Kalau kau punya uang aku mau pinjam untuk ongkos pulang." "Ada kau mau perlu berapa?" "Sepuluh ribu rupiah." "Cukup segitu?" "Kalau ada boleh ditambah." "Tunggu akan kuambilkan." Jarot bergegas pergi ke kamarnya. Hermanto segera menulis surat untuk Mira. Jarot datang lagi menyerahkan uang sebesar lima belas ribu rupiah. Uang itu ditaruhnya di atas meja tempat Hermanto menulis surat. "Tolong berikan surat ini kepada Mira besok di tempat kuliah," kata Hermanto. "Beres." "Aku selesaikan menulis surat dulu." "Harap jangan lupa dicantumkan aku cinta padamu," kelakar Jarot sambil tertawa. la berjalan meninggalkan Hermanto. Hermanto meneruskan menulis surat. Setelah selesai ia segera berkemas-kemas untuk pergi. la membawa beberapa stel pakaian yang dimasukkan ke dalam tas ransel. Sebelum pergi ia menyerahkan surat itu kepada Jarot. "Aku pergi dulu, Rot." "Selamat jalan. Kalau terjadi sesuatu segeralah kirim surat padaku, barangkali teman-teman dekat kita bisa membantu." "Okey." Hermanto berjabatan tangan dengan Jarot. Kemudian ia beranjak pergi. Seonggok perasaan gelisah dan sedih memenuhi rongga dadanya. la berdoa tak akan terjadi musibah yang melanda. Rembulan menampakkan separuh bertengger di balik awan. Malam masih belum larut. Dan sesosok tubuh lelaki melangkahkan kakinya begitu cepat. Terburu-buru ingin lekas sampai di tempat tujuan. Jalanan di kampung itu nampak telah sepi dan seluruh penghuni di dalam rumah tak terdengar lagi celotehnya. Lelaki itu adalah Hermanto yang baru saja menginjakkan kakinya di kampungnya. Kampung dan tempat kelahirannya yang sudah ia tinggalkan selama dua tahun. Dari jauh matanya melihat rumah yang akan dituju. Rumah orang tuanya yang tetap terpacak dalam keheningan. Sinar lentera masih terpancar menyorot dari celah-celah lubang pintu dan dinding. la yakin jika ibunya masih belum tidur. Langkahnya makin dipercepat. Hermanto mengetuk pintu rumah. "Bu, Ibu!" panggilnya. Ditunggunya beberapa saat sambil berdiri di depan pintu. la sudah tak sabar menunggu pintu itu dibuka. Terdengar langkah kaki kian mendekati pintu. "Siapa?!" suara itu dari seorang wanita. "Hermanto, Bu." Pintu rumah itu segera terbuka. Hermanto melihat seorang wanita setengah baya dengan tubuh yang kian kurus. Tidak sebagaimana yang dulu dilihatnya. Rambutnya pun sudah menjadi dua warna. Sedangkan wanita itu nampak haru dan bahagia melihat kedatangan anaknya. Maka anak dan ibu itu saling berpelukan. Hampir saja Hermanto menitikkan air matanya. Tapi wanita itu tak tahan membendung tetesan air mata kesedihannya. "Kau sehat-sehat saja, Bu?" tanya Hermanto parau. Hanifah mengangguk. "Ayahmu dalam keadaan sakit parah, Her. Dia mengharap sekali dapat berjumpa denganmu, kata Hanifah dalam isak tangisnya. Hermanto membimbing ibunya berjalan masuk ke ruang dalam. Lalu mereka berdua ngobrol di ruangan itu sambil duduk di kursi rotan yang sudah usang. Kursi itu usianya hampir sebaya dengan Hermanto. Dan bagi Hermanto kursi itu banyak menimbulkan kenangan semasa kecilnya. Maka dielus-elusnya sandarannya. "Besok kita jenguk ayah di rumah sakit. Tapi sebenarnya penyakit apa yang diderita ayah, Bu?" "Dia menderita penyakit lever. Menurut keterangan dokter, dulu sampai sekarang ayahmu terlampau memvorsir diri dalam pekerjaan. Dan penyakit lever ayahmu sudah parah sekali," kata Hanifah dibarengi isak tangisnya. "Ma... maka kita hanya pasrah kepada yang Maha Kuasa atas kehendaknya." Hermanto tertunduk sedih. Sejenak pikirannya melayang ke masa lampau, tentang jerih payah ayahnya menghidupi keluarga dan menyekolahkannya sampai ke perguruan tinggi. Lelaki itu tidak pernah mengenal lelah dan mengeluh menghadapi kehidupannya. Dan dia selalu menanamkan pengertian dan nasehat kepada Hermanto guna bekal hidupnya kelak. Jangan gampang putung putus, gampang terpengaruh hal-hal yang menyesatkan dan tabah menghadapi godaan apapun. Yang harus diutamakan menuntut ilmu guna masa depannya. Tak terasa air mata Hermanto jatuh mem- basahi pipi. la mengusap air matanya perlahan. Lalu memeluk pundak ibunya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Pohon cemara meliuk diterpa angin kencang. Bayangannya agak condong ke timur di tanah Di bawah pohon itu Jarot berdiri menunggu Mira. Pasti yang ditunggu akan menuju ke tempat itu karena dia memparkirkan mobilnya di situ. Dari jauh Jarot melihat Mira berjalan gemulaj ke arahnya. Rambutnya yang terurai ditiup angin. Nampak kian cantik. Tapi kenapa Hermanto masih ragu-ragu mencintai gadis itu? Andaikan aku, waah tak akan kusia-siakan. Pikir Jarot. "Hay .. . kau menunggu siapa di sini?" tegur Mira lunak. "Menunggu kamu." "Di mana mas Her?" "Dia pulang ke kampung karena ibunya berkirim surat, bahwa ayahnya sedang dirawat di rumah sakit." "Oooh!" keluh Mira sedih. "Kenapa dia tidak memberi tahu aku?" "Dia berangkat mendadak." Jarot mengambil surat di dalam mapnya dan langsung diberikan kepada Mira. "Ini ada titipan surat dari Hermanto." "Terima kasih. Kau juga mau pulang?" "Aku masih ada mata kuliah." "Kalau begitu aku pulang duluan ya?" "Silahkan." Jarot melangkah pergi sambil melambaikan tangan. Mira membalasnya dan menghidupkan mesin mobil. la melarikan mobilnya meninggalkan tempat itu. Meninggalkan halaman universitas Tri Sakti. Selama di perjalanan ia berharap lekas sampai di rumah. la sudah tak sabar lagi ingin mengetahui isi surat dari Hermanto. Ketika Mira telah sampai di rumah, disambut seulas senyum sayang dari ibunya. "Baru pulang, Mira?" tegur ibunya. "Ya, Bu." Mira langsung menuju ke kamarnya. la menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil melepaskan sepatunya. Dan ia berbaring di atas tempat tidur membaca surat dari Hermanto. Untuk: Mira yang baik hati. Sebelumnya aku mohon maaf barangkali mengganggu kesibukanmu. Tak lain maksudku menulis surat padamu untuk memberi tahu mengenai keterlambatanku membayar uang kost bulan ini. Aku mohon kesediaanmu untuk menyampaikan hal ini kepada orang tuamu. Karena pada saat ini ayahku sedang dirawat di rumah sakit. Hampir seluruh biaya yang mustinya dikirimkan untukku digunakan membiayai ayahku yang sedang sakit. Mira, suratku ini juga merupakan kata pamitku. Aku dengan mendadak harus pulang ke kampung karena mendapat berita mengenai ayahku sakit. Semoga kita dapat berjumpa lagi. Terima kasih atas segala bantuan dan kebaikanmu. Dari: Hermanto. Selesai membaca surat itu perasaannya jadi sedih. Kasihan melihat kehidupan Hermanto yang menderita itu. Perlahan surat itu dilipatnya dan kembali dimasukkan ke dalam amplop. Lalu disimpannya di laci meja. Mira duduk termenung. Ingin rasanya ia dapat membantu segala kesulitan Hermanto. Tapi bagaimana caranya? Sedangkan ia masih ikut dengan orang tuanya. Timbul pemikiran, lebih baik ia berterus terang dengan orang tuanya. Hermanto membutuhkan bantuan dan uluran tangan mereka. Maka ketika malam harinya, Mira membulatkan tekad untuk membicarakan keadaan Hermanto dengan kedua orang tuanya. Pada saat makan malam Mira mengutarakan hal itu. "Papa, Mama, ada hal yang ingin Mira katakan," ujar Mira dengan tenang. "Katakan saja. Nampaknya ada hal yang serius," sahut Papanya sambil tersenyum. "Ya, mengenai Hermanto." "Kenapa?" "Dia sedang menghadapi kesulitan. Salah satunya dia mohon maaf kepada Papa dan Mama, bahwa uang pembayar kost bulan ini terlambat. Dan dia harus pulang ke kampung karena ayahnya sakit keras. Dirawat di rumah sakit." Suwandi ayah Mira cuma tersenyum. "Itu soal kecil buat kami, Nak. Dulu Papa kan pernah mengatakan, Hermanto dan kawan-kawannya yang menempati di rumah kita itu tidak usyah bayar indekost. Tapi mereka yang menghendaki harus bayar," kata Suwandi tulus. la meneruskan bersantap malam. "Sebenarnya keadaan Hermanto sangat menderita. Dia perlu kita bantu, Pa. Sangat disayangkan apabila dia tidak sampai selesai kuliahnya. Mira tahu, dia salah seorang mahasiswa yang memiliki otak briliant." Minarti sambil bersantap hanya mendengarkan percakapan suami dan anaknya. "Jadi menurut pendapatmu, dia membutuhkan bantuan apa?" "Yang tidak begitu menyolok ialah menempatkan dia bekerja di kantor Papa. Sebab yang Mira ketahui selama ini, dia tak mau menerima bantuan secara cuma-cuma. Dan sifatnya tak suka dikasihani. Bagaimana, Pa?" "Perusahaan Papa berkecimpung di bidang Supplier electronik. Apakah bidang itu sesuai untuknya?" "Tapi Papa kan bisa menempatkan di bagian pengiriman atau pengecekan barang, misalnya," desak Mira. "Tolonglah dia, Pa," Minarti ikut mendesak suaminya. "Coba mulai besok akan kupikirkan. Yang jelas di bagian itu sudah ada orangnya." "Pokoknya tolong deh, pa." Suwardi tersenyum sambil menganggukkan kepala, dan perasaan mira menjadi senang atas kebaikan papanya. TBC.......! (Mohon maaf sobat sering telat updatenya soalnya saya baru sembuh dari sakit) ( nanti malam update lagi 2 episode jangan di lewatkan sobat...)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD